Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak

    Source: Google

    Akhir bulan November 2022 lalu, gue memutuskan untuk cuti dan liburan sejenak bareng temen-temen kantor. Sebuah wacana dadakan yang akhirnya terealisasikan. Kami pergi disaat sedang banyaknya task yang harus diselesaikan. Beruntung kerjaan gue sekitar 90 persen udah kelar (saat itu) dan tim yang bisa backup. Alhamdulillah. Liburannya gimana? Hepi. Walaupun ada beberapa kejadian yang bikin mood gue terjun bebas seketika. Pertama kalinya liburan bukan lagi pergi menggunakan bus atau motor. Tapi pesawat hahaha. Norak banget ya. Ya maklumlah orang jarang dapet ijin begini hehe. 

    Skip. Intinya sekarang gue udah balik ke rutinitas seperti biasa. Dan ada hal yang gue sadari setelah balik liburan. Apa itu? 

    Sebenernya tujuan hidup gue apa? Disamping bekal untuk akhirat, lalu apa?

    Btw gue anak tunggal - single - seorang karyawan - tinggal jauh dari orang tua (orang tua di Bogor, lalu gue di Jakarta Selatan). Itu gak jauh Dil. Oya maap :D

    Gue bisa dibilang tidak terlalu suka dengan suatu hal yang berantakan, walaupun sesekali juga berantakan tapi itu tidak bertahan lama. Ujung-ujungnya pasti gue rapihin, beresin lagi, tata ulang lagi. Sesimple kaya gallery foto dan video di handphone gue, tata letak menu di handphone, belanjaan yang ditaro di goodie bag sebisa mungkin gue tata dll. Gue OCD? Nope. Rapihnya gue sebisa mungkin gak nyusahin orang lain. Terkait waktu. Jujur management waktu gue lumayan buruk. Gue ngerasa kaya banyak banget waktu yang gak bisa gue maksimalin penggunaannya. Akhirnya apa, kadang gue "push diri sendiri" untuk ngelakuin hal-hal yang "katanya produktif" tanpa peduli kalau sebenernya badan gue udah cape. 

    Gue berusaha untuk selalu on-time, sesuai dengan "jadwal" yang udah gue tentuin sendiri. Misal kaya : 

    Jam 7 malem harus udah balik lagi kantor, kalau gak..

    Jam 9 malem harus udah dikost, kalau gak...

    Jam 00 maksimal gue harus udah tidur, kalau gak...

    Jam 6 pagi gue harus nulis satu artikel, kalau gak...

    See? 

    Setiap pernyataan yang gue buat, selalu ada sebab akibat. Kalau gak nanti pulangnya gimana, kalau gak nanti jalanan sepi, kalau gak blablabla. Dan itu perlahan sukses memberi sugesti ke diri sendiri. Sugesti yang membuat nyali gue ciut. Tidak ada keberanian. Merasa dikejar-kejar waktu. Ketika semua itu tidak bisa gue penuhi, gue panik. Ketika gue gak bisa ontime, gue panik. 

    Gue selalu berusaha 24 jam yang dipunya, tidak ada waktu yang terbuang. Tapi ternyata gue selama ini keliru. Salah menafsirkan. Seorang teman berkata, "disiplin itu bukan perihal sesuai dengan timeline, terkadang juga harus fleksibel". Deg. 

    Lalu apa yang terjadi selama liburan sehingga gue tersadar makna dari disiplin itu sendiri?

    Gue disana kadang tidur jam 2 malem. Kadang baru nyampe di penginapan jam 11 malem karna harus mengunjungi beberapa tempat. Berhubung kita kesana di bulan hujan, ya mau gak mau harus bersahabat dengan hujan. Bayangin aja pulang hujan-hujanan, celana dan sebagian baju basah haha meskipun udah ditutupin pake jaket hujan. Belum lagi bawa cemilan yang banyak. 

    Dan ternyata hal itu gak seburuk yang gue pikirkan.

    Dalam arti kata, ketika gue membebaskan diri dari aturan-aturan yang dibuat sendiri dan menjalani semua yang terjadi tanpa ada pikiran negatif, ternyata gue enjoy. Gue bukannya mau bilang kalau "lepas kontrol" itu baik. Selagi masih bisa dikontrol kenapa tidak? Tuhan ngasi kita waktu 24 jam dalam sehari untuk dipergunakan sebaik mungkin dengan harapan ketika menjalani setiap proses pun juga tanpa beban. Kalau ternyata dalam 24 jam itu stres dan panik berkali-kali, buat apa? Sayang banget kan?

    Sekarang semuanya perlahan gue ubah. Tapi tetap ada jam-jam tertentu yang memang harus sesuai dengan timeline. Seperti sholat, berangkat ke kantor, janji dengan orang lain dan beberapa pekerjaan yang tingkat urgensinya tinggi. 

    Ketika lu mau nulis, ya nulis. Ketika butuh hiburan, ya nonton atau dengerin musik. Ketika badan cape, ya istirahat dulu, atau tidur dulu. Mengkotak-kotakan aktifitas sesuai dengan waktu selama 24 jam ternyata semelelahkan itu dan nguras energi. Sesekali gapapa keluar dari jadwal, toh gak semua hal yang bisa kita kontrol.

    Continue Reading
    Hai..

    Sudah lama tidak menulis, giliran ada waktu buat nulis, eh udah mau akhir tahun aja.

    Apa kabar kalian yang membaca tulisan ini? Semoga dalam keadaan sehat ya Aamiin. So, bagaimana dengan 2021 kalian? Hal random apa aja yang udah terjadi? Serta hal terbesar apa yang menjadikanmu sosok yang kuat di tahun depan? 


    Sumber: unsplash

    Gue cuma mau cerita dan berterima kasih untuk diri ini yang telah bertahan sampai detik ini. 2021 adalah tahun dimana gue kehilangan beberapa hal. Kehilangan beberapa anak kesayangan a.k.a kucing, kehilangan sosok yang telah bersama-sama selama kurang lebih 7 tahun. Sedih? Pasti. Salah satu keputusan besar yang gue ambil di 2021 yaitu ketika memutuskan untuk melepas dia. 2021 juga tahun dimana pertama kalinya gue adopsi kucing sampai 12 ekor, hahaha edan ya. Ya, sesayang itulah gue sama makhluk satu itu. Tapi, entah karena hal ini atau bukan, Tuhan juga memperlancar rezeki gue. Maksudnya dikasih jalan sampai gue ada dititik ini. 

    Tahun ini juga secara tidak langsung mengajarkan bahwa menjalin dan meninggalkan kesan yang baik ke rekan kerja adalah suatu hal yang memang harus dilakukan. Kita tidak akan pernah tahu kapan karma baik itu datang. Gue juga belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan ditakdirkan buat gue. Ternyata benar ya, semuanya adalah titipan. Kapan pun Tuhan mau, Tuhan bisa ambil. Kita bisa jadi merasa kecewa, marah, sedih akan hal tersebut, tapi yang punya kuasa tetap bukan kita. 

    Bahagia sekedarnya, menggantungkan kebahagiaan di orang lain juga tidak baik. Ketika orang itu pergi, hidup jadi kehilangan arah. Itu yang gue rasakan ketika melepas dia. Tapi dengan sadar gue langsung mencari kebahagiaan di dalam diri sendiri dan meyakinkan diri bahwa konsep people come and let go akan selalu terjadi. Posisi kita dengan cepat bisa langsung tergantikan. 


    Sumber: unsplash

    2021 juga tahun yang melatih mental gue menjadi kuat, dipaksa untuk beradaptasi di ritme kerja yang menurut gue gila sih hahaha. Disatu sisi, gue selalu ngerasa dipush dan harus menguasai, memahami dalam waktu singkat. Dan menurut gue itu bagus, otak gue perlahan mulai terlatih. Tapi disatu sisi kadang rasa lelah juga menghampiri di waktu yang bersamaan. Sabtu minggu gue tetep ngoding. Gue juga berterima kasih ke orang-orang yang sudah support gue, terutama satu sosok yang gue tahu tidak akan pernah bisa gue miliki sampai akhir. It's okay, mungkin Tuhan punya tujuan baik dibalik ini kenapa menghadirkan dia di hidup gue. 

    Tahun dimana Tuhan pun turut menghadiahkan orang-orang pintar yang membantu gue ketika gue sedang berproses untuk jadi sosok yang konsisten menggeluti bidang saat ini. Memang ya, selalu saja ada kejutan dari Tuhan buat hambanya. Diberi kehilangan dan digantikan dengan hal baik lainnya. Bersyukur banget, Alhamdulillah. Semoga hal-hal baik lainnya juga turut ikut serta dalam hidup kalian aamiin. 
    Continue Reading
    Udah lama nih gak nulis. Bukan karena hobi ini sudah tergantikan, cuma lagi pindah platform saja hehehe. Jadi ditulisan kali ini gue pengen membahas tentang satu buah webtoon. Tulisan ini bisa jadi terlihat seperti review sebuah komik, atau sebuah sudut pandang pembaca yang suka rebahan kayak gue. Ya itu balik lagi ke perspektif kalian.

    Judul webtoon yang pengen gue bahas kali ini adalah : KILL STAGRAM.

    Gue gak akan ngebahas authornya siapa ya. Bagi yang kepo, langsung saja googling. Kenapa webtoon ini? Ada apa dengan webtoon ini? Jadi alasan gue pengen banget ngebahas komik ini adalah karena ceritanya related dengan kehidupan kita sehari-hari. Komik ini tidak hanya sekedar komik tentang cinta-cintaan, manusia ganteng atau cantik, tonjok-tonjokan, bukan. Banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik dari komik ini. FYI, komik ini sebenarnya sudah tamat, tepatnya tanggal 22 Februari 2020. Kalau di Indonesia, tapi untuk versi navernya, gue gak tau komik ini kapan tamatnya. Karena memang di negara asalnya, komik ini di protect. Gue gak tau gimana caranya buat akses komik yang diproteksi di naver. Berhasil bikin akun saja sudah syukur hahaha..

    Sekilas tentang webtoon ini, sebelum masuk ke intinya. Komik ini bercerita tentang seorang cewe yang katakanlah, seorang selebgram dan memiliki seorang sahabat. Yang namanya selebgram yak, apa-apa di update. Si main character ini (MC), tiap update poto selalu tag lokasi atau ngasih hashtag yang berhubungan dengan poto yang dia posting ke akun Instagramnya. Sahabatnya sudah mewanti-wanti agar berhati-hati dalam memberikan informasi tentang dia di sosial media dan bijak menggunakan sosial media. Tapi si MC ini tidak menghiraukan nasehat sahabatnya. Pada akhirnya hashtag tersebut yang membuatnya hampir mati, ya walaupun endingnya dia bunuh diri.


    Oke lanjut.

    TERLALU MENGUMBAR KEHIDUPAN PRIBADI

    Seperti yang udah gue sebutkan diatas. Bisa kita lihat, di sosial media khususnya Instagram, kita semua seolah telah di-doktrin untuk selalu mengupdate apapun ke dunia maya. Lagi minum apa, lagi makan apa, lagi nongkrong dimana, habis beli apa, dan kegiatan-kegiatan personal lainnya. Gue pun terkadang juga gitu. Apalagi kalau lagi di tempat berkelas, cafe yang high-end misalkan. Atau lagi plesiran ke luar negeri. Tak lupa untuk tag lokasi. Semacam ada suatu kebanggan ketika telah mempublikasikan hal itu.

    Yes itu memang hak orang, bagaimana dia menggunakan sosial media. Tapi ada satu hal yang membuat kita lupa, bahwa diri sendiri juga butuh privasi. Hanya demi eksis, terlihat keren, up to date kita malah mengesampingkan privasi. Terlalu terpapar dengan sosial media juga tidak baik. Karena ia turut memberikan andil dalam mengubah kepribadian seseorang. 

    Apa dampaknya jika terlalu mengumbar hal yang ada dalam kehidupan kita? Wah banyak banget. Tak terhitung. Tapi di komik ini, lebih menyoroti kejahatan yang ditimbulkan dengan sikap kita tadi. Yakin semua orang sayang dan suka dengan kita? Yakin gak ada orang mau berniat jahat dengan kita? Hoho tidak semudah itu. Kita tidak pernah tau apa dampak yang ditimbulkan oleh perlakuan kita ke orang lain. Apakah itu baik atau buruk. Pernah denger kasus kan tentang satu keluarga dibunuh karena ada dendam yang tidak tersampaikan? Control your finger and your life. Hashtag-mu bisa jadi jalan pintas bagi seseorang untuk menguntitmu dengan mudah. 

    STOP BODY SHAMING dan BULLYING

    Haduhh tak terhitung sudah berapa banyak mulut yang berbicara dan menyuarakan "STOP BODY SHAMING dan BULLYING", tapi masih adaaaaa saja yang tetap melakukan. Sedih dan miris. Padahal udah banyak banget banget yang jadi korban perundungan bunuh diri. Faedahnya apa sih ngebully orang? Berasa keren dan berkuasa gitu? 

    Di komik ini tidak hanya menceritakan tentang si tokoh utama alias Remi yang suka ngasih hashtag dan memberi tahu orang dia lagi dimana, secara tidak langsung. Komik ini juga menceritakan tentang dampak fatal perundungan yang dialami oleh Doyeon a.k.a Doha. 


    Kalian pasti tau kan standar kecantikan di Korea? Lihat saja idol-idol mereka, ya seperti itulah kecantikan yang ditonjolkan ke publik. Tak sedikit orang yang kemudian menjadi terobsesi ingin memiliki kecantikan standar Korea. Gue pernah baca beberapa komentar, jika netizen Korea itu suka ngebully seseorang yang -tidak memenuhi- standar kecantikan di negara mereka. Kejadian itulah yang di angkat ke dalam komik ini. 

    Doyeon seorang siswi jurusan kecantikan, memiliki paras yang tidak sesuai dengan standar mereka. Operasi plastik adalah sesuatu hal yang lumrah dilakukan disana dan karena tidak tahan dibully, ia memutuskan untuk melakukan operasi plastik, dengan membawa sebuah ekspetasi. Nah si Doyeon ini melakukan operasi plastik di klinik kecantikan tempat si Remi kerja. Ketika di ruang operasi pun, si Doyeon ini masih "diejek" oleh si Dokter. Astaga, bangsat banget memang (maaf kasar). Tapi apakah operasinya berjalan lancar? TIDAK pemirsa. Lihat saja foto diatas.

    Sudahlah dibully, diejek, bahkan operasi pun gagal. Dampak psikologisnya ke siapa? Si Doyeon? NO!!!! Tapi satu keluarga mereka habis dibully! Ibunya dipecat dari tempat kerja padahal beliau tulang punggung keluarga (ayahnya sudah tidak ada), adeknya yang cewe juga dibully di sekolah dan malu punya kakak seperti Doyeon. Berkali-kali lipat rasa depresi yang ia alami. Akhirnya? Ibunya ngajak bunuh diri bersama, tapi naas, si Doyeon tetap hidup dan menanggung semua penderitaan sendiri. 

    Semua berawal dari apa? BULLYING. Dibully karena apa? STANDAR KECANTIKAN. Gak semua orang bisa bodo amat dengan omongan orang sekitar. Ada yang hatinya mudah rapuh, tapi tak sedikit juga yang tegar. 

    Keputus asaan, depresi yang menyerang mental dan akal sehat. Yang membangun standar kecantikan itu sebenarnya ya kita sendiri. Apalagi untuk para pria, munafik rasanya jika kalian tidak tergoda dengan wanita berparas cantik. Setidaknya hanya dengan lirikan. Jadi percuma saja rasanya berkoar-koar mengatakan "Self Love" atau "Body Positivity". 

    MENYAYANGI TANPA MEMBEDAKAN

    Ada dua kesamaan antara Remi dan Doyeon, yaitu sama-sama butuh perhatian. Remi sedari kecil telah ditelantarkan, ia juga korban perundungan dan pelecehan semasa sekolah. Sahabat baiknya lah yang selalu ada di belakangnya, Jia. Terkadang kita lupa bagaimana memanusiakan manusia dan mengasihi sesama. Kita lebih cenderung mengedepankan ego. Remi ini butuh perhatian dan kasih sayang. Ketika ia mendapatkan perhatian di sosial media, ia akan jadi bahagia. Hanya karena ia tidak memiliki dan tidak mendapatkan kasih sayang orang tua, ia dibully. Heran gue kenapa malah dibully. Orang seperti itu harusnya dirangkul dan disayangi. Tanpa peduli latar belakangnya seperti apa. 

    Lalu Doyeon. Sama seperti Remi, ia juga korban perundungan. Berharap dengan operasi plastik, ia akan mendapatkan kehidupan "yang normal" dan perhatian dari orang-orang sekitar. Tapi sayang, keinginan dia hanya terwujud di dalam mimpi. Seringkali kita berprilaku sekendak hati dan menjustifikasi seseorang karena latar belakangnya tidak jelas. 

    HATI YANG BAIK TAK MEMANDANG FISIK

    Sering banget ini mah, kalau liat orang yang berparas elok, yang dipikiran kita "ini orang pasti baik dan ramah". Apalagi kalau udah disenyumin, satu kali aja deh. Kebayangnya seminggu. Di komik ini, ada satu tokoh yang dari awal selalu dikata-katain readers. Tau kenapa? Pertama, karena rupanya. Kedua, karena si authornya jago memainkan perasaan pembaca hehehe. 


    Apa yang terlintas pertama kali di otak kalian ketika melihat gambar diatas? Ayo jujur saja. Namanya Lee Mankap, jadi bulan-bulanan pembaca sampai pada akhirnya menaruh rasa kasihan kepada tokoh ini. Dia seseorang yang mengalami kecacatan, dibully dan tidak memiliki teman. Tau siapa yang akhirnya ia merasa bahwa ada orang menganggap kehadirannya? Remi. Yap, si tokoh utama. Kebaikan Remi inilah yang memicu instingnya untuk melindungi Remi. 

    Lho kok melindungi? Yang jahatin siapa??


    Nih, tak kasih gambarnya. Orang disamping Remi adalah Doha a.k.a Doyeon yang operasi kelamin jadi laki-laki. Apa motivasinya mendekati Remi? Balas dendam. Karena operasinya gagal, ia menyalahkan Remi penyebab semuanya. Padahal yang salah bukan Remi. Doha ini sudah lama melakukan penyamaran, dengan menjadi dua orang yang berbeda. Satu, sebagai Doha yang memposisikan diri bak pahlawan untuk Remi. Dua, jadi sosok aneh alias manusia jahat dengan memakai kostum untuk mencelakai Remi. Dan ternyata, selama ini Doha selalu mengawasi Remi dengan membawa pisau di tangannya :')

    Lee Mankap yang melihat itu semua, berniat untuk memberi tahu Remi bahwa si Doha ini tidaklah sebaik yang dia pikirkan. Namun caranya salah. Remi pun juga udah takut duluan dengan Lee Mankap, karena ia merasa diterror dan lebih percaya Doha. Karena apa? WAJAH. Udah gak usah munafik hahaha. 

    Sekali lagi, authornya memang pinter betul memainkan perasaan pembaca. Dan dibuat kebingungan. Jaman sekarang ini, tak jarang kebaikan seseorang dilihat dari rupa. Ingin berkenalan saja pasti lebih gerak cepet yang parasnya -elok- bagi kalian. True?? 

    POTENSI MENJADI SEORANG PEMBUNUH (DAMPAK PSIKOLOGIS)

    Memang tidak bisa dipukul rata, dampak psikologis yang diterima oleh korban perundungan itu berbeda-beda. Ada yang menyisakan trauma, insecure, bahkan sampai bunuh diri, ada lagi yang memilih untuk bangkit tapi ada juga sebaliknya, ketika ia tumbuh besar, malah berprilaku sebagai tukang bullying. Kasus ekstrimnya lagi, berpotensi menjadi seorang pembunuh. Di webtoon ini diceritakan mengenai pembunuhan berantai, yang mana korban-korbannya adalah selebgram. Diakhir cerita diketahui bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh Doha a.k.a Doyeon.

    Kita tidak bisa menyalahkan sikap ini sepenuhnya. Tetapi juga tidak bisa dikatakan benar. Di penghujung episode webtoon ini, ada sepenggal monolog (scene) yang berupa suara hati Doha, bahwa membunuh membuatnya terasa lebih baik. Yang mana perasaan itu kian besar dan perlahan mengubahnya menjadi seorang monster. It's so scary, right?? Ketika rasa senang melakukan suatu hal berubah menjadi candu akan sangat susah untuk dihentikan. Pada akhirnya yang dirugikan tidak lagi individu yang bersangkutan, tapi semua orang. 

    ORANG BISA BERUBAH DALAM SEKEJAP & BERITA PALSU ITU KEJAM 

    Pada intinya, Remi dan Doha telah sama-sama sadar akan kesalahan masing-masing. Yang bikin gue salut adalah, walaupun Jia mati karena ulah Doha dan dia juga hampir saja juga kehilangan nyawa oleh Doha, tapi masih sempat-sempatnya ia menaruh rasa simpati dan empati kepada Doha, tidak ada dendam sedikitpun. Alasannya Remi bisa bersikap begitu karena dia juga mengalami hal yang sama seperti Doha. Kisahnya tak jauh beda, ada kesamaan diantara mereka, Remi tahu rasanya. Tapi disaat tangisan mereka, polisi datang bersama dua orang followers Remi, yang turut merekam kejadian itu disaat-saat terakhir. Doha (sepertinya) mati tertembak oleh polisi. Sedangkan Remi? Menangis, sejadi-jadinya. Sumpah part ini bikin gue nangis, gue gak bisa ngebayangin posisinya Remi gimana. Dan tangisan Remi ini direkam oleh followers dia. Dalam sekejap, menyebar ke media sosial. 

    Apa yang orang-orang lakukan? Ya MENGHUJAT lah. Followers yang dulunya memuja-muja Remi dengan sukarela, kini dalam sekejap menghujat Remi habis-habisan tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Coba kita lihat ke kehidupan nyata, apa kasus seperti ini ada? BANYAK. Contoh saja, publik figur. Ketika ada berita miring tentang dirinya, apa yang kita lakukan? Menghujat, menghabiskan kuota, membuang-buang waktu hanya untuk menghujat. Sumpah serapah keluar dari mulut kita, kalau dulu ada pepatah "mulutmu harimaumu, yang akan menerkammu". Sekarang, mulut sudah berganti dengan jari. Coba pikir-pikir lagi, sudah berapa kalimat, sudah berapa kali jari-jemarimu beraktivitas untuk mejatuhkan mental seseorang?? Menghujat, memaki, membully seseorang yang bahkan tidak kau kenal sekalipun? 

    Polisi di webtoon ini, menurut gue tidak bijak dalam menangani kasus. Remi diberitkan menderita Sindrom Stockhom. 

    Sindrom stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderaannya tanpa memperdulikan bahaya atau resiko yang dialami oleh sandera itu. Sumber : Wikipedia.
    Tuduhan ini yang kemudian dipublikasi dan menyebabkan hujatan datang bertubi-tubi. Seolah-olah sang polisi tidak peduli dan tidak mengorek informasi dengan baik kepada orang-orang yang terlibat dalam kasus ini, termasuk Remi. 

    Akhir cerita ini ditutup dengan bunuh dirinya sang tokoh utama, Remi. Ia sudah kehilangan semuanya. Mulai dari keluarga, sahabat, teman, sosial media, termasuk Doha. Dia merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Followers? Bullshit dengan followers. Mereka hanya memuja ketika kamu baik dan sesuai dengan apa yang mereka mau. Belum lagi hujatan dan bully yang kembali ia terima. Bunuh diri adalah jalan terakhir. Rasa depresi, tertekan, kuat atau tidaknya mental seseorang, kita tidak pernah bisa mengukur. Tidak ada yang bisa dijadikan tolak ukur. Perundungan ini tetap akan terus terjadi, pasti. Gue jamin, pasti akan selalu ada. Never die. 

    Oke itu saja poin-poin yang gue tangkap selama mengikuti webtoon ini. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini, buat yang belum baca, mampirlah sebentar. Walaupun hanya sekedar intip-intip. Episodenya gak banyak, cuma 44 episode. Termasuk epilog dan prolog. See you di next artikel. 
    Continue Reading
    This my third interview di tahun 2k20. Ya! Yang ketiga dan terjadi hari Rabu (8 Januari 2020)! Tiga hari berturut-turut, gila! Apa gue bilang kan, ini tuh udah diluar ekspetasi gue. Alhamdulillah. 

    Oke, jadi ceritanya perusahaan yang client-nya BTPN itu udah ngubungin gue di akhir tahun kemarin. And honestly, guesebenernya juga berharap bisa keterima disini. Gue baru dikabarin dan dikasih jadwal interview itu H-1. Jadi tanpa persiapan banyak. Testnya sendiri jam 2 siang, tapi diundur jadi jam setengah 3. Its okay, yang penting gue interview karena kalau di re-schedule lagi, degdegan gue tambah parah. Kebetulan temen gue juga ditempatkan disana, tapi beda vendor. Dia di bagian QA (Software Quality Assurance). 

    Gue nyampe di Menara BTPN (lokasi masih di Kuningan, Jakarta Selatan) jam 1 siang. Kok cepet?? Yaiya, daripada telat. Dari lobby GF gue diarahkan buat lapor dulu ke resepsionis di lantai 12, ekspetasinya gue bakal ke lantai 27 dulu (disuruh temen gue sih), katanya itu terbuka untuk umum. Tapi karena langsung disuruh nunggu di lantai 12, yaudah. Gue nurut-nurut aja. Yang interview gue waktu itu dikasih tau Bapak (inisial) E atau Ibu M. Nah gue sempat intip tuh profilenya bapak E di LinkedIn (ciee stalking, ciee tukang kepo), jadi maksud gue tuh biar gue tau jabatan beliau apa dan gue bisa memposisikan diri ntar di hadapan beliau. After that, gue disuruh naik ke lantai 16 (interviewnya disini) dan yang ngetest ternyata bukan bapak E, melainkan ibu M. Beliau masih muda dan orangnya humble, serius. Ternyata ada satu orang yang mau interview hari itu selain gue, dia cowo. Tapi beda vendor sama gue, dan kebetulan vendornya dia juga ngehire gue hahaha. Clientnya Prudential Life, tapi saat ini gue belum dikabarin interviewnya kapan. Oke, lupakanlah. 

    Ibu M ini ngasih sebuah kertas yang berisikan soal ke kami berdua dan selembar kertas kosong untuk jawaban. Jadi paper based, bukan pake laptop. Soalnya hmm.. Jujur, gak terlalu sulit. Ada lima buah soal. Rinciannya :

    1. Soal cerita peluang 
    2. Soal cerita (lebih ke penalaran masalah dengan matematika)
    3. Deret alfanumerik (ada 7 poin)
    4. Code simple test, jadi dikasih satu case. Bebas nulis dengan Java atau Pseudo Code
    5. Soal query (ada 4 buah tabel dan bikin relasi sesuai dengan masing-masing poin a,b,c,d)
    Gimana, gak terlalu sulit kan? Cuma waktu yang dikasih untuk mengerjakan jawaban itu sangatlah terbatas, yaitu 30 menit. Gak lebih dan gak kurang, siap gak siap dikumpul. Jadi beliau bilang, kalau soal itu bebas mau dikerjakan dari nomor berapa, yang kita anggap mudah lah. Tapi kalau gue saat itu, gue kerjakan secara beraturan. Gak ada sistem minus, terus jawab sebisanya aja. Karena yang dinilai adalah logika kita, cara berpikir dan kemampuan problem solving. Tapi kalau misalkan semua soal bisa dikerjakan, berarti kita orangnya cekatan. 

    Gue saat itu jawab hampir semuanya, tapi masih ada yang bolong dan pada soal terakhir, waktu habis. Karena lumayan panjang query yang dibikin untuk masing-masing poin. Setelah itu, interview selama 30 menit. Jadi total 1 jam waktu yang diperlukan. Interviewnya seputar pengalaman lu, project yang dikerjakan apa, waktu itu gue ditanyain beda microservices dan monolitik, trus lanjut ke diskusi soal tadi. Jadi jawaban lu tadi yang ditulis, lu jelasin. Kurang lebih gitu. Jadi disana, khusunya BTPN Syariah, untuk Backend mereka make Java dan Springboot framework. Sedangkan untuk Frontend make Android Native. Lebih bagus lagi sih kalau lu Fullstack, karena mereka nyarinya Fullstack. Tapi kalau lu cuma bisa salah satunya, ya gak apa-apa sih. Karena gue juga bukan seorang Fullstack, tapi ada kemungkinan ketika di project (kalau keterima ya), lu perlahan akan menjadi seorang Fullstack. Bagus, peluang ini sejujurnya bagus banget, untuk diri lu dan karir lu kedepannya.

    Source : Google

    Sekarang mari bahas sedikit mengenai kantornya BTPN. Jujur ya, tempatnya tuh nyaman banget. Lu gak ngerasa lagi kerja di sebuah Bank atau BUMN karena memang konsep kantornya dibikin like a StartUp. Gue pribadi amazed sih dengan konsep kantor mereka dan per lantai dibikin agak beda. Waktu di lantai 16 pun, interviewnya sendiri dilakukan bukan di ruangan tertutup, tapi kayak open space gitu. Yang lagi meeting juga disana, yang diskusi juga disana dan satu lagi, COLORFUL! Untuk outfit, kayaknya lebih ke casual outfit yak, santai aja gitu asal masih sopan. Sedihnya gue gak bisa kepoin basecampnya Jenius di lantai 18 terus beranda yang ada di lantai 27. Gue baru bisa liat di yutub hiks. Semoga next gue ada kesempatan buat datang lagi ke kantor itu tapi bukan sebagai tamu lagi, tapi sebagai tim divisi IT di BTPN!! Amin. 

    Oke sekian dulu cerita gue, gue bakal update lagi tulisan ini setelah menerima email penerimaan atau penolakan. See ya! Semoga membantu. Silahkan tinggalkan komentar jika ada yang mau ditanyakan :)
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Desember 2022 (1)
        • Sebenarnya Disiplin itu Apa?
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top