Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Udah lama nih gak nulis. Bukan karena hobi ini sudah tergantikan, cuma lagi pindah platform saja hehehe. Jadi ditulisan kali ini gue pengen membahas tentang satu buah webtoon. Tulisan ini bisa jadi terlihat seperti review sebuah komik, atau sebuah sudut pandang pembaca yang suka rebahan kayak gue. Ya itu balik lagi ke perspektif kalian.

    Judul webtoon yang pengen gue bahas kali ini adalah : KILL STAGRAM.

    Gue gak akan ngebahas authornya siapa ya. Bagi yang kepo, langsung saja googling. Kenapa webtoon ini? Ada apa dengan webtoon ini? Jadi alasan gue pengen banget ngebahas komik ini adalah karena ceritanya related dengan kehidupan kita sehari-hari. Komik ini tidak hanya sekedar komik tentang cinta-cintaan, manusia ganteng atau cantik, tonjok-tonjokan, bukan. Banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik dari komik ini. FYI, komik ini sebenarnya sudah tamat, tepatnya tanggal 22 Februari 2020. Kalau di Indonesia, tapi untuk versi navernya, gue gak tau komik ini kapan tamatnya. Karena memang di negara asalnya, komik ini di protect. Gue gak tau gimana caranya buat akses komik yang diproteksi di naver. Berhasil bikin akun saja sudah syukur hahaha..

    Sekilas tentang webtoon ini, sebelum masuk ke intinya. Komik ini bercerita tentang seorang cewe yang katakanlah, seorang selebgram dan memiliki seorang sahabat. Yang namanya selebgram yak, apa-apa di update. Si main character ini (MC), tiap update poto selalu tag lokasi atau ngasih hashtag yang berhubungan dengan poto yang dia posting ke akun Instagramnya. Sahabatnya sudah mewanti-wanti agar berhati-hati dalam memberikan informasi tentang dia di sosial media dan bijak menggunakan sosial media. Tapi si MC ini tidak menghiraukan nasehat sahabatnya. Pada akhirnya hashtag tersebut yang membuatnya hampir mati, ya walaupun endingnya dia bunuh diri.


    Oke lanjut.

    TERLALU MENGUMBAR KEHIDUPAN PRIBADI

    Seperti yang udah gue sebutkan diatas. Bisa kita lihat, di sosial media khususnya Instagram, kita semua seolah telah di-doktrin untuk selalu mengupdate apapun ke dunia maya. Lagi minum apa, lagi makan apa, lagi nongkrong dimana, habis beli apa, dan kegiatan-kegiatan personal lainnya. Gue pun terkadang juga gitu. Apalagi kalau lagi di tempat berkelas, cafe yang high-end misalkan. Atau lagi plesiran ke luar negeri. Tak lupa untuk tag lokasi. Semacam ada suatu kebanggan ketika telah mempublikasikan hal itu.

    Yes itu memang hak orang, bagaimana dia menggunakan sosial media. Tapi ada satu hal yang membuat kita lupa, bahwa diri sendiri juga butuh privasi. Hanya demi eksis, terlihat keren, up to date kita malah mengesampingkan privasi. Terlalu terpapar dengan sosial media juga tidak baik. Karena ia turut memberikan andil dalam mengubah kepribadian seseorang. 

    Apa dampaknya jika terlalu mengumbar hal yang ada dalam kehidupan kita? Wah banyak banget. Tak terhitung. Tapi di komik ini, lebih menyoroti kejahatan yang ditimbulkan dengan sikap kita tadi. Yakin semua orang sayang dan suka dengan kita? Yakin gak ada orang mau berniat jahat dengan kita? Hoho tidak semudah itu. Kita tidak pernah tau apa dampak yang ditimbulkan oleh perlakuan kita ke orang lain. Apakah itu baik atau buruk. Pernah denger kasus kan tentang satu keluarga dibunuh karena ada dendam yang tidak tersampaikan? Control your finger and your life. Hashtag-mu bisa jadi jalan pintas bagi seseorang untuk menguntitmu dengan mudah. 

    STOP BODY SHAMING dan BULLYING

    Haduhh tak terhitung sudah berapa banyak mulut yang berbicara dan menyuarakan "STOP BODY SHAMING dan BULLYING", tapi masih adaaaaa saja yang tetap melakukan. Sedih dan miris. Padahal udah banyak banget banget yang jadi korban perundungan bunuh diri. Faedahnya apa sih ngebully orang? Berasa keren dan berkuasa gitu? 

    Di komik ini tidak hanya menceritakan tentang si tokoh utama alias Remi yang suka ngasih hashtag dan memberi tahu orang dia lagi dimana, secara tidak langsung. Komik ini juga menceritakan tentang dampak fatal perundungan yang dialami oleh Doyeon a.k.a Doha. 


    Kalian pasti tau kan standar kecantikan di Korea? Lihat saja idol-idol mereka, ya seperti itulah kecantikan yang ditonjolkan ke publik. Tak sedikit orang yang kemudian menjadi terobsesi ingin memiliki kecantikan standar Korea. Gue pernah baca beberapa komentar, jika netizen Korea itu suka ngebully seseorang yang -tidak memenuhi- standar kecantikan di negara mereka. Kejadian itulah yang di angkat ke dalam komik ini. 

    Doyeon seorang siswi jurusan kecantikan, memiliki paras yang tidak sesuai dengan standar mereka. Operasi plastik adalah sesuatu hal yang lumrah dilakukan disana dan karena tidak tahan dibully, ia memutuskan untuk melakukan operasi plastik, dengan membawa sebuah ekspetasi. Nah si Doyeon ini melakukan operasi plastik di klinik kecantikan tempat si Remi kerja. Ketika di ruang operasi pun, si Doyeon ini masih "diejek" oleh si Dokter. Astaga, bangsat banget memang (maaf kasar). Tapi apakah operasinya berjalan lancar? TIDAK pemirsa. Lihat saja foto diatas.

    Sudahlah dibully, diejek, bahkan operasi pun gagal. Dampak psikologisnya ke siapa? Si Doyeon? NO!!!! Tapi satu keluarga mereka habis dibully! Ibunya dipecat dari tempat kerja padahal beliau tulang punggung keluarga (ayahnya sudah tidak ada), adeknya yang cewe juga dibully di sekolah dan malu punya kakak seperti Doyeon. Berkali-kali lipat rasa depresi yang ia alami. Akhirnya? Ibunya ngajak bunuh diri bersama, tapi naas, si Doyeon tetap hidup dan menanggung semua penderitaan sendiri. 

    Semua berawal dari apa? BULLYING. Dibully karena apa? STANDAR KECANTIKAN. Gak semua orang bisa bodo amat dengan omongan orang sekitar. Ada yang hatinya mudah rapuh, tapi tak sedikit juga yang tegar. 

    Keputus asaan, depresi yang menyerang mental dan akal sehat. Yang membangun standar kecantikan itu sebenarnya ya kita sendiri. Apalagi untuk para pria, munafik rasanya jika kalian tidak tergoda dengan wanita berparas cantik. Setidaknya hanya dengan lirikan. Jadi percuma saja rasanya berkoar-koar mengatakan "Self Love" atau "Body Positivity". 

    MENYAYANGI TANPA MEMBEDAKAN

    Ada dua kesamaan antara Remi dan Doyeon, yaitu sama-sama butuh perhatian. Remi sedari kecil telah ditelantarkan, ia juga korban perundungan dan pelecehan semasa sekolah. Sahabat baiknya lah yang selalu ada di belakangnya, Jia. Terkadang kita lupa bagaimana memanusiakan manusia dan mengasihi sesama. Kita lebih cenderung mengedepankan ego. Remi ini butuh perhatian dan kasih sayang. Ketika ia mendapatkan perhatian di sosial media, ia akan jadi bahagia. Hanya karena ia tidak memiliki dan tidak mendapatkan kasih sayang orang tua, ia dibully. Heran gue kenapa malah dibully. Orang seperti itu harusnya dirangkul dan disayangi. Tanpa peduli latar belakangnya seperti apa. 

    Lalu Doyeon. Sama seperti Remi, ia juga korban perundungan. Berharap dengan operasi plastik, ia akan mendapatkan kehidupan "yang normal" dan perhatian dari orang-orang sekitar. Tapi sayang, keinginan dia hanya terwujud di dalam mimpi. Seringkali kita berprilaku sekendak hati dan menjustifikasi seseorang karena latar belakangnya tidak jelas. 

    HATI YANG BAIK TAK MEMANDANG FISIK

    Sering banget ini mah, kalau liat orang yang berparas elok, yang dipikiran kita "ini orang pasti baik dan ramah". Apalagi kalau udah disenyumin, satu kali aja deh. Kebayangnya seminggu. Di komik ini, ada satu tokoh yang dari awal selalu dikata-katain readers. Tau kenapa? Pertama, karena rupanya. Kedua, karena si authornya jago memainkan perasaan pembaca hehehe. 


    Apa yang terlintas pertama kali di otak kalian ketika melihat gambar diatas? Ayo jujur saja. Namanya Lee Mankap, jadi bulan-bulanan pembaca sampai pada akhirnya menaruh rasa kasihan kepada tokoh ini. Dia seseorang yang mengalami kecacatan, dibully dan tidak memiliki teman. Tau siapa yang akhirnya ia merasa bahwa ada orang menganggap kehadirannya? Remi. Yap, si tokoh utama. Kebaikan Remi inilah yang memicu instingnya untuk melindungi Remi. 

    Lho kok melindungi? Yang jahatin siapa??


    Nih, tak kasih gambarnya. Orang disamping Remi adalah Doha a.k.a Doyeon yang operasi kelamin jadi laki-laki. Apa motivasinya mendekati Remi? Balas dendam. Karena operasinya gagal, ia menyalahkan Remi penyebab semuanya. Padahal yang salah bukan Remi. Doha ini sudah lama melakukan penyamaran, dengan menjadi dua orang yang berbeda. Satu, sebagai Doha yang memposisikan diri bak pahlawan untuk Remi. Dua, jadi sosok aneh alias manusia jahat dengan memakai kostum untuk mencelakai Remi. Dan ternyata, selama ini Doha selalu mengawasi Remi dengan membawa pisau di tangannya :')

    Lee Mankap yang melihat itu semua, berniat untuk memberi tahu Remi bahwa si Doha ini tidaklah sebaik yang dia pikirkan. Namun caranya salah. Remi pun juga udah takut duluan dengan Lee Mankap, karena ia merasa diterror dan lebih percaya Doha. Karena apa? WAJAH. Udah gak usah munafik hahaha. 

    Sekali lagi, authornya memang pinter betul memainkan perasaan pembaca. Dan dibuat kebingungan. Jaman sekarang ini, tak jarang kebaikan seseorang dilihat dari rupa. Ingin berkenalan saja pasti lebih gerak cepet yang parasnya -elok- bagi kalian. True?? 

    POTENSI MENJADI SEORANG PEMBUNUH (DAMPAK PSIKOLOGIS)

    Memang tidak bisa dipukul rata, dampak psikologis yang diterima oleh korban perundungan itu berbeda-beda. Ada yang menyisakan trauma, insecure, bahkan sampai bunuh diri, ada lagi yang memilih untuk bangkit tapi ada juga sebaliknya, ketika ia tumbuh besar, malah berprilaku sebagai tukang bullying. Kasus ekstrimnya lagi, berpotensi menjadi seorang pembunuh. Di webtoon ini diceritakan mengenai pembunuhan berantai, yang mana korban-korbannya adalah selebgram. Diakhir cerita diketahui bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh Doha a.k.a Doyeon.

    Kita tidak bisa menyalahkan sikap ini sepenuhnya. Tetapi juga tidak bisa dikatakan benar. Di penghujung episode webtoon ini, ada sepenggal monolog (scene) yang berupa suara hati Doha, bahwa membunuh membuatnya terasa lebih baik. Yang mana perasaan itu kian besar dan perlahan mengubahnya menjadi seorang monster. It's so scary, right?? Ketika rasa senang melakukan suatu hal berubah menjadi candu akan sangat susah untuk dihentikan. Pada akhirnya yang dirugikan tidak lagi individu yang bersangkutan, tapi semua orang. 

    ORANG BISA BERUBAH DALAM SEKEJAP & BERITA PALSU ITU KEJAM 

    Pada intinya, Remi dan Doha telah sama-sama sadar akan kesalahan masing-masing. Yang bikin gue salut adalah, walaupun Jia mati karena ulah Doha dan dia juga hampir saja juga kehilangan nyawa oleh Doha, tapi masih sempat-sempatnya ia menaruh rasa simpati dan empati kepada Doha, tidak ada dendam sedikitpun. Alasannya Remi bisa bersikap begitu karena dia juga mengalami hal yang sama seperti Doha. Kisahnya tak jauh beda, ada kesamaan diantara mereka, Remi tahu rasanya. Tapi disaat tangisan mereka, polisi datang bersama dua orang followers Remi, yang turut merekam kejadian itu disaat-saat terakhir. Doha (sepertinya) mati tertembak oleh polisi. Sedangkan Remi? Menangis, sejadi-jadinya. Sumpah part ini bikin gue nangis, gue gak bisa ngebayangin posisinya Remi gimana. Dan tangisan Remi ini direkam oleh followers dia. Dalam sekejap, menyebar ke media sosial. 

    Apa yang orang-orang lakukan? Ya MENGHUJAT lah. Followers yang dulunya memuja-muja Remi dengan sukarela, kini dalam sekejap menghujat Remi habis-habisan tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Coba kita lihat ke kehidupan nyata, apa kasus seperti ini ada? BANYAK. Contoh saja, publik figur. Ketika ada berita miring tentang dirinya, apa yang kita lakukan? Menghujat, menghabiskan kuota, membuang-buang waktu hanya untuk menghujat. Sumpah serapah keluar dari mulut kita, kalau dulu ada pepatah "mulutmu harimaumu, yang akan menerkammu". Sekarang, mulut sudah berganti dengan jari. Coba pikir-pikir lagi, sudah berapa kalimat, sudah berapa kali jari-jemarimu beraktivitas untuk mejatuhkan mental seseorang?? Menghujat, memaki, membully seseorang yang bahkan tidak kau kenal sekalipun? 

    Polisi di webtoon ini, menurut gue tidak bijak dalam menangani kasus. Remi diberitkan menderita Sindrom Stockhom. 

    Sindrom stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderaannya tanpa memperdulikan bahaya atau resiko yang dialami oleh sandera itu. Sumber : Wikipedia.
    Tuduhan ini yang kemudian dipublikasi dan menyebabkan hujatan datang bertubi-tubi. Seolah-olah sang polisi tidak peduli dan tidak mengorek informasi dengan baik kepada orang-orang yang terlibat dalam kasus ini, termasuk Remi. 

    Akhir cerita ini ditutup dengan bunuh dirinya sang tokoh utama, Remi. Ia sudah kehilangan semuanya. Mulai dari keluarga, sahabat, teman, sosial media, termasuk Doha. Dia merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Followers? Bullshit dengan followers. Mereka hanya memuja ketika kamu baik dan sesuai dengan apa yang mereka mau. Belum lagi hujatan dan bully yang kembali ia terima. Bunuh diri adalah jalan terakhir. Rasa depresi, tertekan, kuat atau tidaknya mental seseorang, kita tidak pernah bisa mengukur. Tidak ada yang bisa dijadikan tolak ukur. Perundungan ini tetap akan terus terjadi, pasti. Gue jamin, pasti akan selalu ada. Never die. 

    Oke itu saja poin-poin yang gue tangkap selama mengikuti webtoon ini. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini, buat yang belum baca, mampirlah sebentar. Walaupun hanya sekedar intip-intip. Episodenya gak banyak, cuma 44 episode. Termasuk epilog dan prolog. See you di next artikel. 
    Continue Reading
    Gue merupakan salah satu penduduk di Indonesia yang pernah berada di fase menjadi seorang "Jobseeker" a.k.a si pencari kerja. Gue bukanlah seorang anak yang pas lulus kuliah langsung disambut dengan pekerjaan. Tahun lalu, tepatnya sejak dinyatakan lulus (bulan Februari), penyesalan itu datang. Gue tersadar kalau selama ini gue bukanlah mahasiswa yang "baik". Kenapa? Apa yang bikin gue sadar? Jawabannya satu : CV. Gak ada yang bisa gue banggain ketika bikin CV. Magang? Gak pernah. Intern? No. Volunteer? Apalagi. Student exchange? Bahasa inggris aja ancur. Toefl gue? Jangan ditanya, mau nangis T_T. Trus pengalaman organisasi? Anggota doang. Jadi asisten labor? Pernah tes tp gak lulus wkwk. Apa yang gue banggain? Cuma satu, IPK. Iya, itu aja. Yang lebih parah, gue sendiripun gak yakin pas cantumin skill di CV. Yasudah apa boleh buat, CV dan surat lamaran kerja tetap gue bikin.

    Perjalanan dimulai, gue bikin akun di beberapa "media". Kayak jobsDB, jobsID, jobstreet. Gue apply semua lowongan yang tersedia (tentunya juga liat dari beberapa faktor, seperti jobdesk, requirement, lokasi, dan bidang pekerjaan). Tapi gak ada satupun perusahaan yang manggil gue buat interview. Sedih, pasti. Gue juga ikutan jobfair di kota gue, tapi hasilnya tetap nihil. Trs gue juga masukin lamaran ke kantor Ayah gue, tapi tetap saja gak kepanggil interview. Pada suatu waktu, abang gue nelfon dan nanya "kamu minat gak buat jadi programmer?". Kaget dong, gue sama sekali belum kepikiran buat menuju "kesana", walaupun itu impian dari dulu, tapi dikarenakan kemampuan gue standar. Minder. Gue juga khawatir dengan kondisi mata yang makin lama minusnya makin nambah. Akhirnya gue disuruh ngirim CV buat dikirim lagi ke temen abg gue.


    Tapi yang namanya ada orang yang berniat nolongin kita, kita juga gak bisa berharap banyak. Gue sadar, yang ngerekrut seseorang di suatu perusahaan itu bukanlah tugasnya temen abg gue. Dia cuma bisa nolongin biar CV kita langsung nembus ke bagian personalia atau HRD. Sisanya? Bukan tanggung jawab dia lagi. Semua balik ke HR/HRD atau team recruiter, CV ini mau diproses atau tidak. Mereka juga gak bisa ngejamin kita bakal diundang buat interview. Kalaupun sampai di  tahap interview, belum tentu menjamin kita akan keterima. Akhirnya gue pun hijrah ke Jakarta. Bulan Agustus, gue ikutan bursa kerja di Bogor. Gue yang sama skali gak pernah ke bogor seorang diri, memutuskan untuk tetap pergi. Berbekal rasa nekad dan sebuah aplikasi pemandu. 

    Singkat cerita, gue ngelamar di tiga perusahaan. Untuk posisi sebagai developer. Dan akhirnya gue dipanggil buat interview (dari tiga, cuma dua yang ngubungin gue). Perusahaan pertama berlokasi di Bogor, tepatnya di Kedunghalang (eh bener gak ya penulisan nama lokasinya). Ini tempatnya dimana? Sumpah gue gak tau sama sekali dan gak pernah kesana. Gue beraniin diri ke lokasi itu sendiri. Sempat muter2 nyari lokasi karena si driver juga kurang tau hahaha. Walaupun akhirnya gue ditolak dan diterima di perusahaan kedua. Alhamdulillah.

    Dari pengalaman itu gue belajar, bahwa memang ada orang yang ditakdirkan cepet dapat kerja, atau nunggu dulu, berjuang dulu. Intinya kita tetap sabar, ikhtiar dan terus berusaha. Bukan berarti selama "nganggur" gue gak bosan, gue juga pernah ngerasain itu dan merasa kalau waktu gue terbuang sia-sia. Sebelum gue berada di titik ini, gue juga pernah bertanya ke senior yang udah duluan kerja. Tapi respon yang gue dapat sama skali tidak mengenakkan. Gue ngedumel dan menganggap "sombong amat ih mentang-mentang udah kerja". Padahal gue cuma nanya "kakak kerja dimana?". Selama jadi jobseeker pun gue juga belajar, kalau nyari kerja itu ternyata gak gampang. Serta mencoba untuk instropeksi diri. "Gue kurangnya dibagian mana". Mungkin kita kurang menjual CV, atau surat lamaran kita bahasanya acakadul? Atau bisa saja karena nickname email kita terlihat kurang "profesional". Atauuu kita ngirim email ke HRD kurang ber"etika". Tidak memperhatikan aturan-aturan, misal jam berapa sebaiknya kita ngirim email lamaran ke HRD, tata bahasa yang formal dan sopan seperti apa, format file yang biasanya dikehendaki itu yang bagaimana. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa kita tidak dipanggil.

    Pesan gue buat yang baca, jika kalian sedang dalam masa "mencari sebuah pekerjaan" yang layak, gue punya sedikit tips. 

    1. Teruslah berusaha

    Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Sebanyak apapun kalian coba dan masih "gagal", jangan pernah mundur. Kita gak tau "lamaran" keberapa yang bakal terima kita buat gabung di suatu perusahaan

    2. Rajin bertanya dan mencari informasi

    Jangan yang seperti :

    "Eh cariin gue kerjaan dong"

    "Disitu ada kerjaan gak?"

    "Disitu ada lowongan gak?"

    Kenapa gak boleh? Pertama, lowongan kerja itu tersebar dimana-mana. Dan banyak banget. Tinggal dari dalam diri kita, mau berusaha atau tidak. Kedua, gak semua orang yang bekerja di perusahaan A tau apakah ada lowongan di perusahaan tempat dia kerja. Karena yang bertugas nyari tenaga baru, karyawan baru itu udah ada timnya. Udah ada bagian yang menghandle masalah itu. "Lu kan kerja disana, masa gak tau sih?". Iya kita bakalan tau kalau mereka ngumumin ke karyawan "eh kita butuh orang baru nih".

    Lalu pertanyaan seperti apa yang bikin kita terlihat bertanya tapi juga mandiri?

    "Bro kalau lu denger atau liat ada lowongan buat job A B C D, kasih tau gue yak"

    "Eh kasih tau dong info perusahaan apa aja yang nyediain training/pelatihan/bootcamp gratis?"

    "Sob tempat kursus A B C yang rekomen dimana aja ya? Biar abis kursus gue punya keahlian tambahan".

    "Cuy lu tau perusahaan yg kayak2 outsourcing gitu gak?"

    Keliatan kan bedanya gimana? 

    Kita butuh tapi gak "manja"

    3. Jangan ngeluh! Tekun, sabar, ikhtiar. 
    4. Instropeksi diri dan memantaskan diri

    Seperti yang udah gue ceritain tadi. Kesalahan kecil bisa bikin orang gak "tertarik" sama lu. Coba deh baca postingan gue yang ini "Rahasia bikin CV part 1" dan "Part 2". Gaes, jangan pernah menuntut seseorang yang udah nolongin kalian, diluar "kuasa" mereka. Gue pribadi (jujur), terkadang dibikin seolah-olah gue bisa menjamin mereka bakal keterima. 

    Oke, segitu aja. Semoga bermanfaat! Goodluck :)
    Continue Reading
    Its my experience when I was a student in one of university in West Sumatera. Maybe this story can give you a lesson for the future..
    Waktu gue mau lulus SMA, temen-temen gue udah pada nentuin mau kuliah di jurusan apa dan dikampus mana. Begitu juga dengan gue. Mulai dari jurusan A sampai Z, bahkan ada beberapa jurusan yang sebelumnya gue gak pernah denger. Contoh, jurusan okupasi yang ada di UI (Universitas Indonesia). Ada yang milih ngelanjutin di jurusan berdasarkan passion, hobi, atau sekedar ikut-ikutan, trus ada juga yang ngambil jurusan dengan PG (Passing Grade) yang tinggi karena nilai dia bagus, bahkan ada yang ngasal ngambil jurusan. Pemandangan yang bakal lu temuin di detik-detik sebelum UN. Sementara gue lebih milih ke jurusan yang sesuai dengan minat gue, Ilmu Komputer. Tapi ditengah kegalauan buat milih kampus (karena nilai gue yang pas-pasan alias rank 3 terakhir dari 23 siswa), orangtua menyarankan untuk ngambil jurusan Psikologi dan Manajemen. Sesuatu yang "itu bukan gue banget".  Langkah pertama yang gue ambil adalah, prospek kerja kedepannya seperti apa. Yang kedua, di dua jurusan itu nantinya ilmu apa aja yang bakal gue pelajari. Dan yang terakhir, ngeyakinin dan diskusi dengan hati. Walaupun pada akhirnya gue diijinkan buat kuliah di jurusan yang gue mau, Alhamdulillah.

    Masa-masa kuliah adalah masa-masa dimana gue mengambil peran sebagai anak yang lebih mandiri. Yap, gue ngekos. Hal yang gak pernah gue lakuin sebelumnya dan sekaligus pengalaman pertama gue. Kos gue bisa dibilang lebih mirip seperti asrama ketimbang kos-kosan. Dan penghuninya pun rata-rata kuliah di semua jurusan yang ada di kampus. Mulai dari teknik, ilkom, psikologi, ekonomi dan pendidikan. Selama ngekos, tak hanya rasa kebersamaan dan kemandirian yang gue rasain, tapi juga "wawasan". Wawasan tak hanya didapat dari buku bacaaan, tetapi juga pengalaman orang lain. Selama ngekos, gue kadang suka intip-intip tugas mereka seperti apa, matakuliahnya apa aja, dan gak jarang juga kami saling sharing. Gue yang anak "sistem komputer", yang banyak berhubungan dengan hardware dan alat-alat pertukangan kayak obeng, tang, solder, timah, turut memberikan rasa penasaran ke penghuni kos lainnya. Karena memang, cewe yang ada di jurusan gue itu terbilang sangat sedikit. Penghuni kos didominasi oleh anak manajemen, akuntansi, sistem informasi dan psikologi. Bicara mengenai teman, tentu kita punya temen yang bisa dibilang "lebih akrab" ketimbang lainnya. Dia anak psikologi. Baik, ramah, pinter ngomong (ya wajarlah kan anak psikologi harus pinter ngomong) dan bicaranya pun teratur, gak kayak gue yang suka hilang arah. Bisa dibilang kita lumayan deket, karena memang kamar kami juga bersebelahan. 

    Terkadang, kita harus lebih memahami dan bijak dalam memilih kata-kata yang digunakan. Baik itu ketika mau bercanda, serius. Tau memposisikan lawan bicara, jadi gak asal nyablak. Ada masa ketika gue ngerasa kecewa dengan ucapan yang ia lontarkan ke gue. Jadi waktu itu, gue lupa awalnya kita lagi ngebahas apa, tiba-tiba dia ngomong 

    "Anak IT ntar kerjanya jadi apa? Bikin robot?"

    "Ntar anaknya kek robot tuh hahaa"

    "Anak psikolog juga bisa tuh benerin laptop, gak harus anak jurusan komputer"

    Gue yang notabene sangat mencintai dan menjunjung tinggi jurusan gue, sangat kesal dengan ucapan yang ia lontarkan. Walaupu dibarengi dengan tawa, tapi ada kalanya kita ngerasa kecewa dan kesal dengan candaan yang dibuat. Dan gue tegaskan, "INI PIKIRAN BODOH BANGET!". Kalau ada diantara kalian yang baca tulisan gue dan juga berpikir hal yang sama, please tolong banget. Jangan pernah memandang rendah jurusan orang lain. Gaes, ketahuilah, kalau yang kuliah di jurusan IT, bukan berarti kami tau segala hal. Bukan berarti kami "ahli pertukangan". IT itu cabangnya sangatlah luas. Semakin maju perkembangan teknologi, semakin berkembanglah dunia IT. Di dunia kerja pun begitu, dalam satu department atau divisi IT, itu bagiannya banyak banget. Gue udah ngerasain makanya berani ngomong. 


    Waktu SMA, gue juga punya temen yang orangnya -ceria banget. Gue jarang ngeliat tampang badmoodnya dia, jadi suatu ketika ada temen lain yang becandain. Gue juga gak begitu tau candaan dia seperti apa dan temen gue ini ngomong, "tolong jangan kelewatan. Mentang-mentang selama ini gue diam dan slalu trima becandaan kalian, tapi tolong hargai perasaan gue juga. Perasaan gue gak sebercanda itu". Nusuk banget, kan?? Dan semuanya pada diem. Nah sama kasusnya kayak gue, gue yang memutuskan untuk diam pada saat candaan itu dia hadiahkan ke gue, mungkin ngerasa kalau hal itu bukanlah apa-apa. Jangan pernah anggap remeh perkataanmu dan jangan terlalu suka ngejudge seseorang "baperan". Karena memang tak semua orang bisa menerima dan tak semua orang fleksibel dengan candaan yang kelewat batas. So stop using "BAPER" ke orang-orang yang secara tak langsung kesal dan marah terhadap kalian. Instropeksi diri, salah satu hal terbaik yang harus dilakukan. Simpelnya gini, coba deh kalau orang lain yang ngejokes lu kek gitu, kira-kira bakalan kesal gak? 

    Pada akhirnya gue tersadar, bahwa untuk ngebuktiin bahwa omongan mereka salah, walau kata mereka "ah itukan gue cuma becanda keleus", adalah "menampar" mereka dengan kesuksesan. Sukses tak selalu berarti kaya. Karena definisi kata sukses begitu luas. Cukup dengan meyakinkan diri dan trus tumbuh ditengah orang lain meremehkan kita.
    Continue Reading

    Nah balik lagi ke celotehan gue. Kali ini gue mau bahas tentang Do's dan Dont's pada CV, terus pas Interview ngapain aja, behind the scenes Interview (proses dibalik Interview itu gimana). Tentu saja semuanya berdasarkan hasil dari workshop serta ada tambahan opini dari gue sendiri (sudut pandang goblok gue). Okay here you go!!!!!!!!!!

    Buat yang belum baca artikel sebelumnya bisa baca disini Interview Insiders : Part 1

    Pas mau bikin CV, hal apa aja sih yang harus dicantumin?
    Bukan lu aja yang bingung, orang kayak gue juga pernah ngalamin hal yang sama. Karena CV ibarat your identity. Itu tampang lu di depan HRD, tampang non fisik. Tampang yang bakal dipertanyakan pada saat Interview. 

    Do's 
    1. Put your main profile on the top
    Jadi maksudnya, cantumin informasi pribadi lu yang paling penting. Seperti nama, tanggal dan tempat lahir, agama dan status, nomer handphone, alamat lengkap, e-mail, dan kalau bisa akun LinkedIn juga lu cantumin. Social media? I don't think that so important to show in CV.

    2. Education (Formal & Non-formal)
    Formal
    Last edukasi bisa lu bikin maksimal dari SMA. Ada beberapa versi yang gue liat, pertama ada yang bikin history pendidikan mereka mulai dari SMA baru kuliah tapi ada juga sebaliknya. Tapi gue pribadi lebih milih yang benar-benar last yaitu S1 (S2 kalau lu udah dapet titel master). Jadi urutannya S2-S1-SMA. Jangan lupa cantumin tahun periode, nama kampus, jurusan (plus IPK jika IPK juga salah satu syarat di perusahaan tersebut).
    Non-Formal
    Sebisa mungkin kalau lu mau cantumin history pendidikan lu yang non-formal, bikin yang bener-bener relevan dengan jenis pekerjaan yang lu apply (itu menurut gue). Misal lu apply ke jenis job jadi akuntan, tapi pendidikan non-formal lu pernah kursus masak. Nyambung gak sih? Atau waktu kuliah lu ada kelas lecture, ada dosen dari LN yang ngasih materi. Its okay lu cantumin tidak masalah.

    3. Pengalaman Kerja
    Buat yang fresh graduate, pengalaman kerja bisa diambil dari pengalaman kalian selama magang atau internship. Kalau yang udah kerja selama setahun, bisa cantumin pengalaman kerja kalian selama satu tahun itu. Jangan lupa dibikin tahun, perusahaan/instansinya apa, job position, serta deskripsi kerja sesingkat, padat dan seinformatif mungkin. Waktu bikin deskripsi plisss jangan lebay dan jangan terlihat "over" membanggakan diri. Nanti kesannya malah bikin nilai lu di mata HRD jatuh.

    4. Skill
    Bikin daftar skill yang mana itu benar-benar skill kamu dan bisa dipertanggung jawabkan! Jangan sok gaya-gayaan demi terlihat keren di CV. Bisa-bisa kredibilitas kamu dipertanyakan. Kata mba Bella, semua history lu ketika Interview itu selalu dicatet dan ada arsipnya. Jangan sampai si perusahaan kapok ngeInterview lu! Alias blacklist!! Gak mau kan?? Terus cantumin skill yang bener-bener ada kaitannya dengan job position yang lu apply. Tambahan mungkin keahlian make Ms Word dan keluarga. 

    Nah itu yang Do's. Sekarang kita bahas yang Dont's.

    Dont's
    1. Jangan cantumin hal yang kurang begitu penting!!!
    Seperti : hobi.
    2. Jangan bikin CV dengan bahasa yang berbelit-belit
    3. Hindari design CV yang banyak warna. Warna-warna soft lebih disarankan.
    4. Hindari TYPO!!
    5. Jangan sampe CV lu lebih dari 2 halaman. Karena para recruiter dan HRD gak cuma menyeleksi CV lu, tapi ribuan gaes!! Inget, RIBUAN!!!!

    Ada beberapa tips dari gue walaupun gue gak begitu ahli :
    1. Usahain semua informasi penting ada di halaman depan. Mulai dari :
    - Profil
    - Deskripsi singkat lu
    - Pendidikan 
    - Pengalaman kerja
    - Skill (pure skill kalian)
    - Mini Project (kalau ada)
    - Portfolio (yang ini cuma buat jenis pekerjaan tertentu, contoh designer atau programmer, atau arsitektur). Biasanya kalau yang designer/arsitektur portfolionya dipisahin. Tapi kalau programmer/developer cukup cantumin akun Gitlab/Github kalian. Biar mereka ngecek sendiri source code kalian gimana, mulai dari style hingga seefektif apa kalian menulis code.
    2. Kalau tetap pengen cantumin hal seperti hobi, passion lu apa, lebih baik itu ditulis diakhir aja

    Untuk design, sepertinya itu bergantung kepada jenis pekerjaan apa yang mau kali
    an apply. Jika dibagian teknik, ya bisa jadi design tidaklah terlalu penting. Tapi usahain BE YOURSELF! Jangan gaya-gayaan, jangan bohong.


    Okay, gue rasa udah cukup. Mungkin diantara kalian ada yang mau nambahin?
    Next gue bakal bahas, sebenernya faktor apa aja yang diliat waktu Interview? So lets check this out!
    1. Please be ON TIME!
    Datang tepat waktu merupakan first impression yang diliat. Dari sana bisa keliatan kalau diri kita ini serius atau tidak untuk menjalani Interview. Walau keliatannya cuma sepele tapi ini adalah salah satu faktor utama. Usahakan datang 15 menit sebelum jadwal Interview, dengan begitu kalian bisa lebih mempersiapkan diri dan nafaspun teratur (walaupun pas udah di depan HRD agak gugup sih hahaha)
    2. Wear your own the best clothes!
    Gak harus selalu formal, karena ada beberapa perusahaan yang tidak terlalu suka dengan pakaian formal. Yang penting sopan, rapi dan tidak berlebihan! Jangan pakai pakaian yang ribet, simpel-simpel saja. Terus jangan pake yang berwarna ngejreng atau berat, yang soft-soft aja. Inget gaes, gue pernah mau Interview di suatu perusahaan, dan mereka gak mau para kandidat pake baju putih! Nah ini kalian juga harus tau ya.Yang cewe yang berhijab, jangan pake hijab yang ribetttttt banget! 
    3. Jangan lupa : SALAM!
    Yap! Etikanya ketuk pintu dulu, ucapkan salam, tunggu dipersilakan masuk, jangan lupa senyum, berjabat tangan sambil membungkukan badan, kalau udah dipersilakan duduk baru lu duduk. Jangan nyelonong aja, emang maling? 
    4. Tegakan badan, pandangan lurus, jangan tegang!
    5. Don't over use language body!
    Maksudnya jangan terlalu berlebihan menggerakan tangan.
    6. Kenali siapa orang yang ngeInterview lu!
    Lu bisa tanyakan perihal siapa yang akan ngeinterview lu ke orang yang ngasih informasi kalau lu kepanggil Interview. Kenapa harus tahu? Sukses atau tidaknya proses Interview lu salah satunya bergantung dari siapa yang akan ngereview lu. Bisa jadi orang itu ceria, atau tegas, cewe atau cowo, muda atau tua, posisinya apa, lu harus tau. Agar lu bisa memposisikan diri lu di hadapan mereka nantinya. 
    7. Jangan cemberut!
    8. Jawab semua pertanyaan sejujur mungkin. 
    Inget ya, ketika menjawab pertanyaan jangan mengada-ada, kalau gak tau ya bilang gak tau. Lu juga gak boleh jawab ngasal, jangan sok tahu. Lebih baik jujur bilang gak tahu. 
    9. Kuasai CV!
    Ya kali HRD lu inget semua detil CV lu, bisa jadi mereka kembali menanyakan hal yang sudah tercantum di CV tetapi dalam hal detail! Jadi kuasai CV lu, kalau lu bikin CV itu sejujur mungkin, gue yakin lu pasti lancar buat ngejawab dan ngejelasin semuanya.
    10. Control your emotional!
    11. Jangan lupa bawa dokument penting ke ruangan, seperti sertifikat mungkin?

    Jadi intinya, tinggalkanlah kesan yang baik di hadapan Interviewer. Siapapun yang ngeinterview lu, please leave your good personality! Buat mereka terkesan dengan skill dan kepribadian lu. Nah buat yang apply jadi programmer, ada tambahan dari gue :
    1. Review kembali yang udah lu pelajari
    2. Kuasai codingan yang lu bikin
    3. Prove your skill with action! Jika diminta sih hahaha
    Ya kurang lebih gitu, karena gue sendiri baru dua kali Interview. Ini hasil dari kekepoan gue ke senior programmer di kantor gue. 

    Lalu behind the scenes sebelum Interviewer ketemu dengan kandidat.
    Mba Lita said, bahwa ketika CV lu masuk beserta CV2 yang lain ke email resmi mereka, mereka akan melakukan proses screening terlebih dahulu. Apa aja point-point yang harus diperhatikan? Bisa dibaca di artikel gue sebelumnya. Setelah itu, maka keluarlah CV yang akan siap untuk di "introgasi". Biasanya para recruiter bekerja sama dengan manager perusahaan. Jauh daripada itu, sebelum info lowongan disebar, mereka akan diskusi terlebih dahulu tentang requirement apa aja yang dibutuhin untuk posisi tertentu. 

    Oke gue rasa cukup sampai disini. Thankyou banget yang udah baca dan big thanks to mba Lita dan mba Bella atas workshopnya yang begitu hebat dan juga kepada Generation Girl! Thankyou sooo much! Next kalau ada yang kelupaan gue bakal tambahin atau bisa jadi gue bikin artikel yang baru. Tunggu aja ya, See You!
    Continue Reading

    Yesterday, gue baru aja selesai ngikutin workshop yang diadain sama startup non-profit kece yaitu Generation Girl!! Topik yang dibahas sebenernya bisa gue googling sendiri via mbah google tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii alasan kenapa gue ngikutin workshop ini adalah : Pertama karena event ini diadakan di Tokopedia Tower. Kapan lagi kan gue bisa "nyemplung" dan main ke kantornya Tokopedia, syukur-syukur kalau suatu saat gue apply for a job position di Tokopedia dan kepanggil Interview, nah kalau gak?? Terus alasan yang kedua adalah salah satu speakernya datang dari perusahaan teknologi raksasa thats GOOGLE! Omaigat! Kurang kece apalagi event ini, gue bersyukur banget dan berterimakasih sama Generation Girl karena udah ngadain event ini. 

    Jadi workshop ini tuh main topicnya adalah membahas masalah adab ketika interview, kurang lebih begitu. Itu ekspetasi gue dan ketika datang pas hari H, bener-bener diluar ekspetasi gue. Karena apa, karena speakernya sangat-sangat berkualitas dan gue puas dengan ilmu yang mereka berikan. Sebagai bocoran sekaligus bentuk pamer (hueheh), speakernya dibawakan oleh mba Bella (Isabella Wibowo) dari Google. Beliau ini menjabat sebagai Global Product Partnership di Google dan sebelumnya pernah bekerja di Jepang dan Singapura. Speaker yang kedua datang dari Tokopedia, yaitu mba Lita (Lita Rosalia). Beliau menjabat sebagai Senior Recruitment Manager di Tokopedia. Keduanya cewe dan tentunya sangat menginspirasi buat gue. Jiwa kebodohan gue serasa diketuk ketika melihat betapa hebatnya dua orang ini. Lu tau sendiri kan gimana susahnya bisa masuk dan bekerja di Google serta Tokopedia?? 

    Oke, pamer dan rasa bangganya udah selesai. Sekarang kita masuk ke pembahasan yang pengen gue bahas. Berhubung karena point-point yang akan gue jelasin dibawah bersumber dari speaker yang kredibel, ya setidaknya gue berharap semoga point-point dan topik yang gue bahas bermanfaat buat kalian yang sudah berkenan membaca. Oya sebelumya gue minta maaf kalau pembahasan gue ngalor ngidul, gak jelas, bahasanya acakadul. Karena disini gue hanya menyampaikan "kembali" point-point itu dengan bahasa dan gaya gue sendiri ke kalian plus sudut pandang gue terhadap apa yang telah disampaikan kemarin. 

    Pertama, gue mau bahas dari sudut pandang HR (Human Resources). 
    Sebenernya, bagaimana proses screening dari sebuah CV yang dikirim via email??

    1. Universitas
    Yap! Ini salah satu hal yang paling mendasar. Kalian dari lulusan mana? Sebenernya ini jadi momok yang menakutkan buat gue pribadi dan sedikit tidak adil. Gue sering melihat dan merasakan sendiri ketimpangan dan rasa pilih kasih terhadap mereka yang lulusan kampus negeri atau swasta dan terkenal atau tidak terkenal. Mau protes? Ke siapa? 

    2. GPA 
    GPA atau biasa kita sebut IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Ini juga jadi salah satu hal yang menakutkan di sebagian besar mahasiswa. Tak sedikit perusahaan yang mensyaratkan IPK minimal 3.00 bahkan 3.25. Padahal tak semua mahasiswa berIPK rendah itu bodoh dan tidak semua mahasiswa punya IPK tinggi itu murni karena pintar. Gue ngomong gini bukannya mau meremehkan siapa-siapa, tapi kenyataannya seperti itu. Dan Alhamdulillah saat ini gue sedikit lega, karena IPK bukanlah jadi syarat mutlak untuk melamar sebuah pekerjaan. Alhasil, kebijakan seperti ini memberikan angin segar buat teman-teman diluar sana yang kurang beruntung dalam hal IPK karena mereka mengandalkan SKILL! Gue sering nemuin anak yang IPK tinggi tapi cuma hebat di teori.

    3. Jurusan yang diminta sesuai dengan jurusan kalian! 
    Kecuali "menerima segala jurusan". Nah ini beda lagi. Contoh ada lowongan pekerjaan sebagai programmer. Kualifikasi yang mereka minta adalah berasal dari jurusan Sistem Informasi atau Teknik Informatika. Atau ada lowongan sebagai HRD tapi yang diminta berasal dari jurusan Psikologi. Ini salah satu penentu. Bagaimana jika background jurusan kalian tidak sesuai dengan yang mereka minta tapi kalian tetap nekad apply? Boleh atau gak? Jawabannya BOLEH! Emang ada yang larang. Tapi dipastikan CV kalian langsung diskip. Hahaha!! 

    4. Volunteer/Organisasi
    Volunteer atau relawan. Saat ini sudah banyak forum atau suatu komunitas yang sering open for volunteer. Banyak banget! Tinggal kalian tekun dalam mencari informasi. Jangan cuma menunggu doang, keep active dong! Dan satu lagi pengalaman organisasi. Kenapa dua hal ini juga masuk ke dalam list screening? Pertama dari segi organisasi. Organisasi bisa saja dilakukan diluar atau didalam kampus. Kalian bisa melatih jiwa kepemimpinan, bekerja bersama-sama atau team working. Dan memecahkan masalah bersama. Kalau kalian aktif di organisasi, secara tidak langsung kalian telah mangasah soft skill kalian untuk kalian bawa di dunia kerja nanti. Hal ini tidak bisa kalian dapatkan didalam kelas. Kalian perlu mengasah softskill diluar aktivitas belajar. Jangan cuma jadi mahasiswa kupu-kupu. Kerjaannya cuma belajar atau kongkow gak jelas. Kedua dari segi volunteer. Ini menandakan bahwa kalian bukanlah makhluk anti sosial, kalian mau membaur dengan sesama, kalian aware dengan keadaan sekitar dan berkontribusi. Mana ada perusahaan yang mau punya karyawan yang anti sosial?? Eits inget ya, ketika ikut di organisasi, usahakan kalian punya kontribusi yang membangun. Kalau cuma jadi pelengkap buat apa?

    5. Sertifikasi (Keahlian/Bootcamp/Lomba)
    Ingat! Yang gue maksud disini bukan sertifikat menang lomba makan kerupuk. Bukan! Maksud gue adalah sertifikasi keahlian. Ini tuh berguna banget buat kalian yang baru lulus kuliah alias fresh graduated! Sertifikasi yang gue maksud adalah misalkan kalian ikut kelas coding/bootcamp kayak gue, dan di akhir kelas kalian diberikan ujian. Lalu setelah lulus kalian dapat sertifikat pengakuan/keahlian. Gunakan sertifikat ini sebaik mungkin untuk apply in job position yang kalian mau (relevan dengan sertifikat yang dimiliki). Bisa juga sertifikat lomba dan lomba yang kalian ikuti juga sesuai dengan pekerjaan yang mau kalian apply. 

    6. Magang/Internship
    Dua-duanya hampir mirip. Biasanya di kampus-kampus mensyaratkana mahasiswanya untuk magang. Kalau ditempat gue sendiri biasa disebut KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dan dikampus gue disebut PKL (Praktek Kerja Lapangan). Pada intinya sama. Usahain kalian dan kalau bisa kalian memanfaatkan waktu ketika magang/internship ini sebaik mungkin. Nilai plus buat para fresh graduated adalah karena pengalaman magang dan internship yang mereka miliki. Akan lebih bagus lagi kalau ketika magang/internship mereka bisa approve dan menyalurkan kontribusi, jadi betul-betul jadi "magang/internship yang berFaedah". 

    Next, gue bakal bahas lebih dalam lagi beserta sudut pandang gue pribadi. Artikel ini gue cukupkan sampai disini, part 2 akan segera menyusul. Stay stuned!!
    Continue Reading
    Sebuah stigma, perbedaan, pemahaman konsep, pikiran, skeptis, sudut pandang yang dinilai berdasarkan penampilan. Headline postingan gue kali ini.

    Ingatan gue masih segar walaupun judul ini telah berdebu di draft blog, tepatnya dibuat pada saat hari Maulid Nabi. Sebenernya gue gak pengen bahas topik yang beginian tapi lama-lama merasa risih juga kalau semuanya dikaitkan dengan penampilan. Tepat pada tanggal 20 November 2018, temen-temen gue rame banget membahas masalah hukum perayaan Maulid Nabi dalam Islam dan rata-rata para penganut hijab dalam yang berkicau seperti ini. Termasuk temen gue yang sebentar lagi menuju tahap hijab dalam a.k.a hijab syar'i. Tapi kok kesannya gue benci banget yak dengan "hijab syar'i"? Bukan. Bukan seperti itu gaes. Jadi simak ocehan gue berikut ini.

    Gue tipikal orang yang senang baca, dari kecil sampai sekarang. Selain majalah Bobo gue juga seneng banget baca majalah Hidayah (yang cover depannya bikin orang mau tobat saat itu juga). Yup, dua majalah itu merupakan majalah favorit gue waktu kecil. Dalam artian kalau bacaan seperti itu telah menjadi makanan gue. Kalau dipikir-pikir gue ngerasa kalau apa yang gue baca bukan diperuntukan untuk anak SD, terlalu berat dan terlalu nyeremin (lu bakal tau kalau pernah baca majalah Hidayah). Kesimpulannya gue telah tertarik dengan hukum-hukum Islam, sejarah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama gue. Sedikit banyaknya gue telah mengetahui dari buku-buku yang telah gue baca dan pencerahan dari bokap. Kenapa gue gak jadi ustadzah aja? Karena gue berpikir itu adalah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan, bayangin kalau ilmu lu masih dangkal dan lu dengan pedenya nyebarin hal minim yang lu tau tanpa mendalami dan mereka pada percaya dengan yang lu omongin dan ngikutin apa kata lu. Jika yang lu katakan masih jauh dari kata baik, dosa mereka siapa yang nanggung? Ya kita. Nah itu jawabannya.

    Sekarang mari kita hubungkan dengan soal penampilan. Adakah hukum alam yang menulis bahwa jika penampilan seseorang yang terlihat goblok bakal merepresentasikan ilmu yang ia miliki? No! Bagi gue hal seperti itu tidak ada. Sama sekali tidak ada. Adakah yang menjamin seorang professor memiliki ilmu yang sempurna? No! Tidak ada yang bisa menjamin. Lantas mengapa pengetahuan seseorang diukur berdasarkan penampilan?? Sama kasusnya seperti yang gue alami. Jadi mengenai perayaan Maulid Nabi, karena gatal akhirnya gue ngepost salah satu hukum perayaan Maulid Nabi dalam Islam lewat instastory gue (soalnya waktu itu rame yang protes kenapa perayaan Maulid Nabi dilarang). Dan story gue direspon oleh salah satu temen yang bisa dikatakan dia.................... sering nongkrong di Masjid. Ibaratnya dia terlihat dari luar sebagai seseorang yang agamis. Nah gue yang bukan pengguna hijab syar'i terkadang masih buka lepas hijab (cuma dirumah dan sekitaran kompleks), seperti tidak punya hak untuk menyampaikan pendapat gue hanya karena penampilan. Apakah penampilan agamis akan menjamin tingkatan iman dan pengetahuan seseorang? Apakah orang seperti itu berhak menjudge mereka yang tidak agamis? Seperti gue??

    Belajarlah untuk menghargai seseorang bukan dari penampilan. Hal bodoh semacam itu telah mendarah daging bagi sebagian orang. Tak hanya penampilan, berdasarkan jenis pekerjaan juga termasuk. Intinya tidak ada gunanya membedakan seseorang berdasarkan tampilan luar karena lu gak tau sesungguhnya apa yang ada dibalik otak mereka.


    Continue Reading
    Halloooo.. 
    Udah lama gue gak posting sesuatu yang gak jelas lagi. Apa kabar readers? Yahhh walaupun gue gak tau kalian menantikan omelan gue atau gak atau bahkan ada yang berharap gue gak nongol lagi? Hahahah. Bukan karena gak punya ide atau opini yang mengakibatkan tak ada satupun artikel yang gue posting tiga minggu belakang. Tapi entah kenapa tiga kali weekend berturut-turut gue males banget bukak laptop. Tapi kan bisa lewat hp?? Betullllll tapi ya balik ke draft doang pfft..

    Oya mengenai judul postan gue kali ini, mungkin kalian yang baca agak sedikit bingung. Sama. Gue juga lebih bingung. Bingung kenapa gue selalu nemuin orang yang sholat secepat kilat!!! Woi itu lo baca apaan? Komat kamit doang? Gue baru baca Al-Fatihah lu udah rukuk, lu baca apan njirrr?? Kesellll gue!!!!!! (sorry ngegas). Tolong beri gue pencerahan arti Sholat sebenarnya apa. Gue gak butuh google tapi gue butuh jawaban dari kalian yang Sholat bagai Jin terbang.

    Lalu ada suara.... Dan makian kayak gini

    "Emang situ udah bener?"

    "Sok alim lo!"

    "Urusan sama lo apa ya?"

    "Terserah gue dong, emang kalo gue salah situ yang bakal nanggung dosa gue?"

    Dan kalimat lainnya.

    Memang bukan urusan gue tapi gue risih.

    "Yauda lu Sholat aja sendiri di ruang tertutup. Jauh2 sana kayak udah bener aja!"

    Pfft. Pengen ketawa kalau ada yang ngomong kek gitu. Jadi gini ya, dosa kita itu udah banyak. Baik yang disadari maupun gak disadari. Emang mau nambah dosa lagi? Melalui Sholat kita berkomunikasi dengan Tuhan kita, Allah SWT (bagi yang muslim). Melalui Sholat, kita bisa menumpahkan seluruh keluh kesah kita. Kalau Sholat kita masih belum bener, apa akan diterima? Nabi atau sahabat Nabi aja yang sudah teruji ketakwaannya, yang sudah bener wudhu dan Sholatnya masih khawatir kalau Sholatnya gak diterima. Bahkan sampai diulang2 karena saking takutnya gak keterima. Lantas kita yang umat bodoh yang tersisa ini dengan pedenya Sholat dengan seperti itu? Gerakan Sholat ataupun bacaannya?? Setidaknya perbaiki Sholat kita. Jangan di kritik lantas marah. Gue juga sadar Sholat gue masih berantakan tapi setidaknya gue betul2 baca bacaan Sholat dengan jelas tanpa tergesa-gesa kayak Jin terbang.

    Nah sekarang masih mau maki-maki gue?

    "Kayak ustadzah aja lo nyet!"

    Oke. Terserah. Nah terus, bacaan Sholat itu semuanya dari bahasa arab. Punya tajwid, ada yang harus dipanjangkan ketika pelafazan ataupun dipendekan atau didengungkan. Salah baca saja sudah memiliki makna lain. Nah ini, lu baca kayak gimana sih tong? Bahkan ada yang selama Sholat bibirnya dieeeemmmm aja. Dan bahkan ada yang jujur ke gue kalau selama ini dia Sholat karena terpaksa. Astaghfirullah. Lu minta surat pengunduran diri buat hidup aja deh ya.
    Jadi intinya disini gue bukan karena sok tau tapi gue risih. Kita sama2 instropeksi diri aja, setidaknya mulai dari kewajiban kita dulu. Gue juga gak sempurna, ibadah gue juga belum sempurna. Sorry di postingan ini gue agak sedikit ngegas, yahh mudah-mudahan ada hikmahnya. Tengs buat yang sudah berkenan baca. Bye..
    Continue Reading
    Have you ever felt this before??

    Okay let's talk about that..

    Selama ini kita melihat begitu banyak perbedaan yang terjadi di sekitar kita. Bahkan sedari dulu perbedaan ini telah ada. Status sosial, ras, agama, suku, bangsa. Seringkali menjadi faktor utama akan perbedaan. Tapi di postingan kali ini gue akan melupakan faktor tersebut sejenak dan mencoba membahas faktor lain.

    Begitu banyak sosial media bermunculan dari tahun ke tahun. Ada yang bertahan dan ada yang "tumbang". Haha lucu memang mengingat persaingan para developer. Unjuk jari diantara barisan code. Unjuk jari dibelakang layar. Tetapi apa yang ditampilkan didepan seringkali palsu dan terkesan munafik. Semua orang bisa memainkan semua karakter. Tak jarang juga berakhir dengan kebencian. Gue bukanlah seorang pengguna sosial media yang gila. Its still to be a normal. Tapi bisa jadi gue seorang pengamat sosial media. Yah maybe. Mengamati perilaku dan kepalsuan disana. 

    Sebuah kepribadian yang terbentuk dari dulu tanpa kalian menginginkan hal itu dan tumbuh pesat di lingkungan yang "aneh". Satu tahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun terjebak dalam pertemanan yang sama sekali tidak -bersahabat. Dan pada suatu saat kalian ingin keluar dari lingkungan tersebut. Dan berharap hari itu tak lagi datang. Berat memang untuk seorang manusia Introvert. Mereka acapkali disebut sebagai kaum anti sosial. Padahal kenyataannya bukanlah seperti itu. Mereka hanya ingin menikmati hari mereka, hanya ingin memiliki kualitas waktu serta hidup dengan dirinya sendiri. Tak mudah bagi seorang Introvert. 

    "Pembuktian apapun yang kau lakukan tak akan berarti jika mereka telah membangun benteng dan menggunakan topeng supaya bayanganmu tidak masuk"

    Kini jeratan itu telah lepas, tetapi kepribadian itu telah tertanam jauh ketika memutuskan untuk bergabung ke dalam sosial media. Dimana notabene disanalah tipu muslihat berkumpul. Kepalsuan dan tidak adanya pengakuan berkumpul. Tarik ulur seringkali terjadi. Apapun yang dilakukan hanyalah sepotong layar yang pengendalinya ingin eksis.  But who's care?? Nothing. Sedih gak? Ah itu sudah tidak penting lagi. Hati gue sudah terlanjur kuat karena tempaan yang dulu senantiasa menghiasi hidup. Dari sini gue berpikir, mindset seseorang tidak akan berubah jika pikiran itu telah buruk. Terlalu banyak zat kimia berbahaya. Mau jungkir balik pun tidak akan ada yang peduli,

    Sekarang mari kita pergi dari tempat terkutuk itu.
    Beranjak ke tempat dimana roda itu telah membawamu ke tempat yang baik. Tidak ada lagi kepalsuan disana, yang ada hanyalah kehidupan yang sesungguhnya. Disana, di dunia maya sana gue gak menemukan pasukan alay. Pemakai media sosial yang menggunakan otak dan skill. Lebay? Tapi ini kenyataan. Apa yang gue sharing, apa yang gue tulis mendapatkan respon yang positif. Jangan ngomong jabatan, mereka orang berpangkat tetapi bisa menghargai tulisan bodoh gue. Sekarang pertanyaan bodoh itu muncul "apa kita harus pergi ke dunia dimana tak seorangpun mengenalimu dan kau bisa dengan sesuka hati menunjukan dirimu tanpa kau harus malu untuk diabaikan??" dan gue merasakannya sendiri. 

    Lingkungan, who's behind you, merupakan faktor untuk menentukan kebahagiaanmu. Dari sini gue belajar bahwa pembuktian apapun yang kau lakukan tak akan berarti jika mereka telah membangun benteng dan menggunakan topeng supaya bayanganmu tidak masuk. 
    Continue Reading
    Bukan pertemuan yang sesungguhnya, melainkan perbincangan yang terjadi di dunia maya. But Why I called "a good thinking person"? Because baru kali ini gue ngepost sesuatu yang ditanggapi positif dari orang-orang hebat. Kali ini cerita yang akan gue share terjadi di "LinkedIn".

    Gue baru join di LinkedIn sekitar beberapa bulan yang lalu. Bukan karena gue gak tau apa itu LinkedIn melainkan pada saat itu gue merasa "belum terlalu butuh" but I do some a mistake. Gue baru ngeh kegunaan dengan memiliki akun di LinkedIn setelah gue butuh pekerjaan. Ibaratnya LinkedIn merupakan sosial media yang dikhusukan untuk para "kaum elit". Just kidding dude. Disana gue menemukan postingan dari orang-orang hebat, bukan hanya sekedar share tentang "their lifestyle", pamer OOTD ataupun kegiatan-kegiatan gak penting lainnya seperti di sosial media yang biasa gue gunain. Bahkan setiap berangkat kerja, gue selalu meluangkan waktu beberapa menit hanya untuk sekedar membaca postingan yang tentunya memiliki banyak manfaat buat gue.

    Mengenai postingan, gue sebagai "anak baru" mencoba untuk membuat post untuk pertama kalinya dan apa yang gue dapat? Respon positif and I am happy. Walau gue kalah jumlah like dan komentar but I am still get happy. Jadi di postingan itu gue membahas masalah "Euforia Kelulusan". Hati gue tergerak untuk menulis mengenai hal itu karena gue sendiri telah mengalami beberapa bulan yang lewat dan sebagian teman-teman gue baru ngerasain hal itu sekarang. So what the conclusion??

    Jadi gini, gue akan menyinggung mengenai Euforia Kelulusan disini.
    Gue lulus pada tahun 2018 tepatnya bulan April yang lalu dalam kurun waktu 3,5 tahun. Its a great? I think yes but not now. Dengan bangganya gue mengantongi gelar sarjana, serta ijazah yang berisikan nilai-nilai bagus plus IPK yang gak bisa dibilang rendah. Bangga, tentu saja. Tetapi rasa bangga itu hanya bertahan sebentar. Gue tipe orang yang tidak terlalu suka berdiam diri dirumah tanpa ada kesibukan. Kebanggaan itu sirna ketika gue akan membuat CV (note: Curriculum Vitae). Pada akhirnya gue tersadar, bahwa gue tidak mempunyai pengalaman satu pun. Entah itu magang, volunteer, organisasi atau kegiatan lainnya. Gue sempat terpikir untuk kuliah lagi tapi biaya untuk S2 tidak semurah itu. Gue pun memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan harapan uang yang terkumpul itu nantinya akan gue gunakan untuk biaya les. Karena gue mau meringankan beban orangtua mengingat biaya yang telah dikeluarkan oleh orangtua ketika gue skripsi tidaklah sedikit.

    Rasa malu akan diri sendiri ketika melihat "I am nothing" disaat gue melihat orang lain yang jauh lebih kaya pengalaman dan ilmu daripada gue. Euforia kelulusan itu tak lagi gue rasakan. Dan disaat ini ketika gue melihat teman-teman gue yang baru lulus, gue bisa ngerasakan rasa haru mereka disaat gue berada pada posisi mereka beberapa bulan lalu. Itu hak mereka, seperti dulu. Itu hak gue untuk bahagia. Tapi itu hanyalah sebentar.

    Sedetik yang lalu itu tetaplah "masa lalu"..
    So mau kau apakan gelar sarjanamu itu??  


    Hidup ini bukan hanya sekedar angka. Karena angka tidak akan terbentuk hanya karena yakin. Tetapi terus berusaha, berdoa, dan terus melangkah walau seribu pedang ada disetiap langkahmu.
    Continue Reading
    Pengen ketawa aja sih kalau tiba-tiba ada orang yang sok bijak nanggepin cita-cita gue. Bijak dengan sok bijak itu bagi gue kerasa bedanya, lo gak bakalan bisa ngibulin gue. Trust it. Beberapa bulan yang lalu, gue lupa pastinya kapan, katakanlah seseorang ngechat gue dengan segala ke-sok-tahuannya tentang apa yang gue jalani.

    Everybody has a dream, mau mimpi itu dibentuk sejak kecil atau pas udah baligh, mau mimpi itu konsisten atau gak, itu hak pribadi setiap manusia yang masih punya napas. Same on me, gue punya mimpi yang udah gue bentuk sejak SMP. Gue sangat tergila-gila dengan dunia teknologi. Headlinenya begitu, tapi kalau digali lebih dalam lagi, teknologi gak ada habisnya. Dan sampai sekarang gue masih belajar. For example, I know "HTML" since Junior High School. Itu semua gara-gara blog kampret ini, disaat teman-teman gue baru belajar Ms Word, gue udah penasaran sama yang namanya HTML. Yang bikin gue sedih pada saat itu adalah nobody can teach me about that. Sekalipun guru gue. Internet pada saat itu belum kayak sekarang. Boro-boro nanya ke teman, guru aja gak bisa ngasih penjelasan ke gue. Gue baru belajar apa itu HTML pas udah kuliah. Alhamdulillah, sampai sekarang gue masih mencoba menggali lebih dalam. Itu salah satu upaya gue dalam mencintai teknologi.

    Berkaitan dengan gelar, cita-cita, pekerjaan, hobi, passion semua tak lepas dari IT/Techno. Bisa dibilang gue paling males belajar ilmu pasti kayak fisika, matematika ketimbang ilmu IT. Walaupun dalam dunia IT masih ada hitung-hitungan tapi gue enjoy. Gue bisa dibilang setengah anak IT, setengahnya lagi engineer. Pede banget ya gue ngomong tapi harus. Lo harus bisa memberikan "label" ke diri lo sendiri, lo harus yakin. Karena nantinya lo bakalan "ngejual label" lo sendiri ke depan HRD. Semasa kuliah gue mempelajari tiga hal berharga dalam hidup ini, Programming, Hardware like an Arduino (microcontroller), dan Jaringan. Tapi kalau ditanya tentang jaringan, gue kabur. Selepas kuliah gue harus ngejar cita-cita gue, mimpi-mimpi gue. Sebagai seorang "fresh graduate" sebenarnya gue agak gamang karena gue sama sekali gak punya pengalaman kerja ataupun magang. Cuma ngandalin skill tanpa portfolio, ijazah sama IPK. Apalagi gue cewek dan rata-rata lowongan buat para engineer kebanyakan diperuntukan untuk cowo. Kesal. Benar-benar kesal. Dan di saat sinilah si sok bijak datang menghampiri gue..

    Sumber : pinterest

    Jadi waktu itu gue lagi ngepost di WA skrinsut dari persyaratan pekerjaan untuk posisi engineer di salah satu perusahaan. Kalau untuk freshgrad kayak gue persyaratan itu emang berat banget. Nah kebetulan gue bikin keterangan begini "kira-kira kalau cewe yang apply diterima gak ya". Selesai. Gak sampe satu jam dia langsung komen status gue. Gue lupa isi chat pertama dia karena hati gue terlalu kesal, tapi yang gue tangkap inti dari chat dia yang panjangnya gak guna buat gue : "ngapain terlalu dikejar? Pekerjaan kan banyak, gak harus itu." Gue pengen ngakak, kayak gak punya tujuan banget sih hidup lo? Hey dont u have a dream?? Bagi gue mimpi dan cita-cita itu segalanya dan harus diperjuangin. Baru lulus kok udah nyerah pake ngasih nasehat lagi ke gue. Sotoy banget. Balik lagi ke kalimat gue yang tadi, setiap orang punya mimpi dan lo sama sekali gak berhak untuk sok tahu dengan mimpi mereka. Kita gak pernah tahu usaha apa yang udah mereka lakuin, pengorbanan apa saja yang mereka lakuin, we never know. 

    Jadi intinya jangan sok bijak dengan kehidupan seseorang.
    Continue Reading
    Its my first post since 2018.. Yeup! Akhirnya gue bisa kembali dengan selamat setelah berjuang selama 4,5 bulan dengan dunia perskripsian. Alhamdulillah gue lulus *sujudsyukur*
    Hari ini gue pengen ngebahas pentingnya organisasi dan kegiatan volunteer semasa dunia perkuliahan. 


    Jujur dari dulu gue jarang aktif di kegiatan organisasi sejak SMP. Bukan berarti gue orangnya anti sosial tapi gue masih ingat waktu kelas 8 SMP gue sempat dicalonkan jadi ketua OSIS dan gue tolak! Gak yakin juga sih bakalan menang hahaha *ehh tapi serius, gue nolak bukannya gue sok tapi alasan klasik gue waktu itu karena gue takut ngemban amanat, gue takut OSIS ditangan gue ancur. Lanjut ke SMA (ceritanya ngebut aje yee). Pas SMA baru gue kumpulin niat buat masuk jadi anggota OSIS, tapi sayang tinggal kenangan. Hiks.. Disaat itu gue lebih memilih bergabung dalam kegiatan KIR yaitu Karya Ilmiah Remaja. Yaitu sebuah ekstrakurikuler yang diperuntukan buat mereka yang hobi dengan dunia jurnalistik. Alasan gue gabung karena gue menyukai dunia jurnalistik setidaknya gue suka nulis dan baca. Alhamdulillah ditahun kedua gue bergabung di KIR, gue dipercayakan buat jadi ketua sampai gue tamat dari SMA.

    Setelah menjalani wajib sekolah 12 tahun, gue memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Disaat kuliah gue nemuin beragam organisasi tapi satu yang jadi incaran gue, yaitu BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Sebenarnya banyak organisasi lain yang menarik perhatian gue tapi saat itu gue lebih memilih untuk fokus di satu organisasi aja. Dan lagi2 itu semua tinggal kenangan. Masa kuliah gue ditahun pertama gue habiskan dengan belajar dan kongkow bareng teman2. Yap! Gue gak jadi join ke BEM karena dengan satu alasan, MALAS! Gue malas harus pergi ke stand buat daftar apalagi gue belum terbiasa dengan keberadaan senior. Ditahun kedua, gue nyoba untuk gabung di organisasi jurusan yaitu IMATekKom (Ikatan Mahasiswa Teknik Komputer). Saat itu gue kebagian jadi anggota divisi HUMAS. Namanya aja yang anggota tapi pada saat acara (organisasi ini selalu ngadain acara kemah bakti setiap tahun ajaran baru), gue ditunjuk jadi ketua dari salah satu kelompok peserta. Gue masih ingat waktu itu yang jadi peserta adalah mahasiswa tahun baru. Gue ditugasin buat ngawasin mereka selama acara.

    Selesai KBM, gue berniat untuk gabung di organisasi Cyber Netix yaitu organisasi yang bergerak dalam bidang IT. Tapi gue harus rela gak daftar karena saat itu bertepatan dengan dibukanya pendaftaran untuk jadi Asisten Labor. Salah satu syarat pendaftarannya ialah tidak boleh mengikuti satupun organisasi. Jadi gue lebih milih untuk daftar jadi aslab walaupun pada akhirnya gue gagal di tes wawancara. Hiks.. Jadi kesimpulannya selama kuliah gue tidak aktif dalam kegiatan organisasi maupun kegiatan lainnya karena bagi gue itu sama sekali tidak penting. Tapi ternyata opini gue salah. Ada suatu penyesalan di dalam diri gue kenapa gue gak terlalu mentingin organisasi.

    Bisa dikatakan gue termasuk orang yang ketinggalan informasi, gue terjebak dalam ruang lingkup pertemanan yang rata2 emang gak peduli dengan organisasi dan kegiatan lainnya semacam volunteer. Gue terjebak didalam pertemanan yang mana mereka hanya peduli dengan pendidikan. Ternyata main gue kurang jauh. Sebenarnya gue gak nyalahin mereka tapi gue menyalahkan diri gue sendiri. Kenapa gue baru sadar di akhir dan kenapa selama ini gue selalu stuck dalam kegiatan yang sama. Tidak mempunyai pengalaman yang begitu berarti. Ohya buat kalian yang baca tulisan gue dan sedang menempuh pendidikan entah itu SMP, SMA/SMK, ataupun kuliah, jangan ditiru yah. Organisasi itu penting apalagi kegiatan volunteer. Dua kegiatan itu melatih kemampuan kalian dalam hal kepemimpinan, pola pikir, bagaimana kalian bekerja dalam team, kemampuan problem solving. Karena rata2 dunia kerja maupun penyelenggara beasiswa tidak hanya membutuhkan kandidat yang bagus dalam bidang akademik, tapi juga membutuhkan mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus. Dan itu bisa kalian latih selama berorganisasi. Bentuk kepedulian dan pengabdian yang telah kalian lakukan buat suatu daerah, bisa kalian buktikan dengan kegiatan volunteer.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Desember 2022 (1)
        • Sebenarnya Disiplin itu Apa?
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top