Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Source : google

    Udah lama gak nulis karena somehow lagi lumayan sibuk dan kemageran gue yang semakin hari semakin naik level. Entahlah I dont know, mungkin karena terlalu menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang akan terjadi dalam beberapa tahun kedepan.

    Bulan lalu akhirnya gue dapat kesempatan buat balik ke kampung halaman setelah satu tahun merantau. Momen yang pas dan tepat buat balik karena si dia juga udah graduated. Ohiya di post kali ini bakal penuh dengan cerita random, apa yang gue pikirin apa yang terlintas di benak gue, bakal gue tulis. Jadi maaf kalau rada gak nyambung. 

    Di sepanjang tahun ini gue kayaknya lagi dikasih serangan jantung bertubi-tubi, konotasi ya. Bukan yang sebenarnya. Tahun ini adalah tahun dimana temen dan junior gue, pada hobi mendadak nikah. Absurd banget yak, ya maksud gue itu tiba-tiba aja mereka udah nyebar undangan, padahal gak pernah ngepost poto pacaran (atau dijodohin kali ya atau memang si cowo datang dalam keadaan mapan dan temen gue juga udah siap jadi siap untuk nikah), atau ada lagi yang tiba-tiba post poto prewed padahal yang gue tau mereka dulu pacaran dengan si ono. Ya namanya jodoh ya, hari ini post dengan si A, lusa post poto prewed dengan si B. Who knows. Terus ada lagi, gue tau dia punya pacar dan pacaran dengan si A, lalu tiba-tiba memutuskan untuk nikah. Wajarlah ya, ya mereka nikah dengan pacarnya. Cuma yang bikin gue kaget itu, mereka jarang ngumbar poto berdua tapi tiba-tiba nikah. Kalian yang tau instagram gue dan udah liat poto-poto yang ada di gallery gue, itu dikit banget. Karena sebagian besar gue arsipin dan beberapa tahun belakang gue juga udah jarang ngepost poto berdua sama si dia. Dan untungnya dia gak terlalu mempermasalahkan. Karena semakin kesini gue udah gak mau lagi orang terlalu sok tau tentang hubungan gue, terlalu banyak kaum kepo diluar sana. Bahkan ada juga yang nanya "masih sama si dia gak?". Mungkin ya, alasan gue ini juga kurang lebih sama dengan temen gue yang udah nikah sama pacarnya tapi jarang ngumbar dan pamer. Liat banyaknya angkatan gue yang udah mulai memutuskan untuk nikah satu per satu, gue jadi malu dengan diri sendiri. Rasa malu itulah yang bikin gue mulai mengontrol apa yang mau post dengan dia. Sebenarnya itu hak kita, tapi ada rasa takut, takut kalau selama ini kalau gue terlalu berlebihan untuk pamer, ternyata dia bukan jodoh gue. Yang memutuskan itu semua sebenarnya bukan kita, tetapi Tuhan kita. Dan kita berusaha untuk ikhlas menerima, namun sebagian dari kita, terkadang suka lupa diri dan gak sadar sampai melontarkan kalimat bernada sumbang. 

    Kayak gini misalkan

    "Kasian ya jagain jodoh orang"

    "Makanya jangan terlalu pamer"

    "Dasar mampus lu, sering pamer eh malah ditinggal dia nikah dengan yang lain"

    Emangnya itu kemauan kita? Kalau misalkan sedikit saja kita mencoba untuk berempati dan mengontrol diri untuk tidak mengucapkan hal menyakitkan itu dan mengingat bahwa apa yang terjadi dengan "dia" adalah suatu bentuk ketetapan dari Tuhan. Simpel tapi pelaksanaannya berat. Disaat hati mencoba untuk ikhlas dengan takdirnya, tapi ada saja yang buat hati menangis karena omongan orang lain. 

    Cerita selanjutnya ada lagi. Gue udah 23 tahun hidup dan bernafas di dunia ini (Alhamdulillah", otomatis gue udah bertemu dengan beragam karakter, sifat orang lain. Walaupun gak sebanyak kalian yang baca postingan gue ini. Dari puluhan karakter itu, gue bikin circle terkecil aja, yaitu pamer dan sombong. Sejujurnya, kalau gue disuruh milih temen yang satu suka ngomong kasar dan yang satunya lagi pamer dan sombong, gue lebih milih yang suka ngomong kasar. Kedua pilihan itu gak baik sih, tapi misalkan. Alasannya karena gue gak nyaman sama karakter itu. Again, kita gak bisa mengontrol prilaku dan sifat orang lain, apalagi teman ya, gak bakalan bisa. Kita boleh saja memberi nasehat dan pandangan, selebihnya balik ke orang itu. Dan gue sadar akan hal itu. Makanya jalan satu-satunya adalah menghindar. Atau kalau misalkan lu diharuskan untuk bertemu tatap muka dengan dia setiap hari? Yasudah cuekin aja. 

    Gue ya entah kenapa mulai jadi agak rada sensitif, semakin kesini gue gak mau orang lain terlalu kepo dan memaksakan idealis mereka ke gue. Kayak gini (yang sering gue terima) 

    "Lu kan udah lama sama dia, nikah gih"

    "Kamu sama dia aja, dia kaya tuh"

    "Harga segitu murah mah, uang kamu kan banyak, beli dong"

    "Atau jangan-jangan kamu bucin ya?"

    "Itu yang di instagram siapanya kamu?"

    Dan kalimat tersotoy dan terANJIR lainnya. Makanya gue gak mau lagi terlalu ngurusin hidup orang. Urusan mereka apa gitu. Gak ada faedahnya juga kan? Makasih lho udah perhatian sama gue sampai ngurusin hal-hal pribadi gue. Masing-masing dari kita, sudah punya waktu versi diri sendiri. Tinggal bagaimana kita terus berusaha dan tetap berada di jalan yang kita yakini benar. Gue salut ya, liat beberapa selebgram (gak semua selebgram), yang fokus dan tetap jalan lurus dengan passion mereka. Gue liatnya tuh mereka jarang deh ngurusin hidup orang lain, atau mungkin ada kali ya tapi gak mereka share ke publik. Dan ketika mereka sharing kegiatan travelling ke LN, rasanya tuh kayak bangga karena mereka bisa berada di titik itu berkat usaha dan kerja keras. Juga campur tangan dari Tuhan. Tanpa harus nyindir sana nyindir sini karena merasa diri mereka benar dan agung. Kecuali kalau mereka yang dilukai oleh perbuatan dan omongan orang lain, terus mereka balik nyindir. Itu beda case yak.

    Yah intinya dari cerita gue ini, apa ya gue juga bingung. Sekedar pelepas keluh kesah aja, karena dulu pernah ada yang bilang ke gue "kamu daripada numpahin segala macam di sosial media (waktu itu masih facebook-an) dan omonganmu kadang kasar, mending kamu nulis. Biar lebih plong". Makasih buat kamu (cewe ya), yang udah ngingetin gue. Padahal itu nasehat udah lama banget, jaman SMA. Thanks a lot, put! Sekian dulu ya, byebye
    Continue Reading
    Tak terasa ya, sudah setahun berlalu. Thats mean, udah setahun gue ngejalani profesi sebagai developer gadungan (canda canda). Gue gak tau apakah satu tahun ini adalah waktu yang cukup memantaskan diri gue menyandang predikat "Junior Developer". Atau, bisa jadi gue hanya mengalami perkembangan sepersekian-nya dari temen-temen gue. Menjadi seseorang yang expert, tidak hanya butuh waktu. Melainkan didalamnya terlibat sebuah pengorbanan, perjuangan, jatuh bangun, suka duka yang dijalani. Tidak menutup kemungkinan bahwa, mereka yang diluar sana, "mungkin" saat ini memiliki pandangan yang berbeda ke gue. Dan itu gak bisa dibantah. Anggapan orang-orang yang mengatakan "lu udah jago, udah bisa segala macam", yasudahlah ya. Gue cuma bisa ketawa.

    Gue masih ingat, pertama kali terjun ke ruang lingkup dunia kerja yang sebenarnya. Yang dikatakan mahasiswa ketika lulus "Welcome to the Jungle" kemungkinan yang seperti itu kali ya, "Selamat datang di dunia kerja". Rasa takut, cemas, khawatir tidak bisa menjalankan tugas dan kerjaan dengan baik. Takut tidak bisa beradaptasi dan takut jika hasil kerja kita, tidak memuaskan. Dan membuat mereka kecewa, kesal. Atau mungkin menyesal telah merekrut kita? Ya, itu contoh ekstrim aja. Tapi Alhamdulillah, gue bisa survive sampai detik ini. Tiga bulan, empat bulan dan bulan-bulan berikutnya, ketakutan itu perlahan hilang dan perlahan timbullah rasa jenuh serta bosan di diri gue. Bosan karena "gue di assign ke project itu mulu". There's no challange anymore, gue butuh berkembang. Otak gue butuh asupan, jari gue butuh gerak. Seketika rasa iripun muncul, iri kenapa? Gue iri, kenapa temen-temen gue bisa ini, bisa itu, tau project itu, kenapa gue gak? Gue ngerasa tertinggal. Dan kenapa cuma gue doang yang gak di assign ke project lain? Kenapa di assign ke temen gue yang lain? Apa karena gue masih kurang pengalaman? Pikiran-pikiran itu yang selama ini cukup menganggu kinerja otak gue.


    Pada akhirnya, hanya keluhan yang datang dalam diri gue. Bayangin aja, mereka ngomong apa, gue gak ngerti. Mereka bahas project A, gue gak paham. Yaudah gue dieeemmmm, gak tau mau ngomong apa. Aneh ya. Mungkin bagi kalian ini aneh, "lha kan enak, kerja trus digaji, tapi kerjaan santai". Iya, memang betul. Tapi buat apa kita cape pergi pagi pulang malam, kalau gak ada sesuatu hal baru yang dibawa pulang? Satu tahun atau dua tahun kerja, tapi otak kita stuck disitu doang, tidak ada perkembangan? Gimana mau maju? Hidup tak melulu soal uang. Ketika seseorang mencapai level sebagai Project Manager atau Team Lead, setelah 6 tahun berjuang. Kenapa gak kita percepat aja waktu 6 tahun itu? Tidak ada aturan baku. Kalau kita mampu, kenapa tidak?

    Bulan ini, disaat keluhan itu gue rasain berbulan-bulan yang lalu, salah satu Team Lead ngasih gue "challange" baru, yang selama ini gue nanti-nantikan. Yang gue tunggu-tunggu. Yang selama ini gue cuma bertanya-tanya "flownya gimana?". Beliau ngasih gue pencerahan selama kurang lebih dua jam. Semua jelas, terpapar begitu jelas. Dimana secara tidak langsung, ilmu yang beliau kasih ke gue, turut menggambarkan "workflow" sebuah sistem melakukan pembayaran di perusahaan-perusahaan lainnya. Seperti di OVO, DANA. Its so amazing. Membayangkannya saja gue sudah cukup terkesima, apalagi gue disuruh terjun langsung mengerjakan "sistem" itu. 

    Darisitu gue belajar, bahwa sesuatu yang terjadi di diri kita, secuil ilmu apapun yang kita dapatkan, selagi itu masih positif, tidak ada yang sia-sia. Gue udah buktiin. Ilmu itu mahal, pengetahuan itu mahal, jadi bersyukurlah jika masih ada orang yang dengan suka rela membagi itu gratis kepadamu. Terus berkembang dan terus belajar. Gue bersyukur bisa dipertemukan dengan rekan tim yang solid, tidak pelit, mau berbagi. Serta lingkungan kerja yang membuat gue dari yang tidak tau apa-apa, menjadi yakin kedepannya gue mau ngapain dengan ilmu yang telah mereka berikan.

    Keep spirit :) 
    Continue Reading
    Gue merupakan salah satu penduduk di Indonesia yang pernah berada di fase menjadi seorang "Jobseeker" a.k.a si pencari kerja. Gue bukanlah seorang anak yang pas lulus kuliah langsung disambut dengan pekerjaan. Tahun lalu, tepatnya sejak dinyatakan lulus (bulan Februari), penyesalan itu datang. Gue tersadar kalau selama ini gue bukanlah mahasiswa yang "baik". Kenapa? Apa yang bikin gue sadar? Jawabannya satu : CV. Gak ada yang bisa gue banggain ketika bikin CV. Magang? Gak pernah. Intern? No. Volunteer? Apalagi. Student exchange? Bahasa inggris aja ancur. Toefl gue? Jangan ditanya, mau nangis T_T. Trus pengalaman organisasi? Anggota doang. Jadi asisten labor? Pernah tes tp gak lulus wkwk. Apa yang gue banggain? Cuma satu, IPK. Iya, itu aja. Yang lebih parah, gue sendiripun gak yakin pas cantumin skill di CV. Yasudah apa boleh buat, CV dan surat lamaran kerja tetap gue bikin.

    Perjalanan dimulai, gue bikin akun di beberapa "media". Kayak jobsDB, jobsID, jobstreet. Gue apply semua lowongan yang tersedia (tentunya juga liat dari beberapa faktor, seperti jobdesk, requirement, lokasi, dan bidang pekerjaan). Tapi gak ada satupun perusahaan yang manggil gue buat interview. Sedih, pasti. Gue juga ikutan jobfair di kota gue, tapi hasilnya tetap nihil. Trs gue juga masukin lamaran ke kantor Ayah gue, tapi tetap saja gak kepanggil interview. Pada suatu waktu, abang gue nelfon dan nanya "kamu minat gak buat jadi programmer?". Kaget dong, gue sama sekali belum kepikiran buat menuju "kesana", walaupun itu impian dari dulu, tapi dikarenakan kemampuan gue standar. Minder. Gue juga khawatir dengan kondisi mata yang makin lama minusnya makin nambah. Akhirnya gue disuruh ngirim CV buat dikirim lagi ke temen abg gue.


    Tapi yang namanya ada orang yang berniat nolongin kita, kita juga gak bisa berharap banyak. Gue sadar, yang ngerekrut seseorang di suatu perusahaan itu bukanlah tugasnya temen abg gue. Dia cuma bisa nolongin biar CV kita langsung nembus ke bagian personalia atau HRD. Sisanya? Bukan tanggung jawab dia lagi. Semua balik ke HR/HRD atau team recruiter, CV ini mau diproses atau tidak. Mereka juga gak bisa ngejamin kita bakal diundang buat interview. Kalaupun sampai di  tahap interview, belum tentu menjamin kita akan keterima. Akhirnya gue pun hijrah ke Jakarta. Bulan Agustus, gue ikutan bursa kerja di Bogor. Gue yang sama skali gak pernah ke bogor seorang diri, memutuskan untuk tetap pergi. Berbekal rasa nekad dan sebuah aplikasi pemandu. 

    Singkat cerita, gue ngelamar di tiga perusahaan. Untuk posisi sebagai developer. Dan akhirnya gue dipanggil buat interview (dari tiga, cuma dua yang ngubungin gue). Perusahaan pertama berlokasi di Bogor, tepatnya di Kedunghalang (eh bener gak ya penulisan nama lokasinya). Ini tempatnya dimana? Sumpah gue gak tau sama sekali dan gak pernah kesana. Gue beraniin diri ke lokasi itu sendiri. Sempat muter2 nyari lokasi karena si driver juga kurang tau hahaha. Walaupun akhirnya gue ditolak dan diterima di perusahaan kedua. Alhamdulillah.

    Dari pengalaman itu gue belajar, bahwa memang ada orang yang ditakdirkan cepet dapat kerja, atau nunggu dulu, berjuang dulu. Intinya kita tetap sabar, ikhtiar dan terus berusaha. Bukan berarti selama "nganggur" gue gak bosan, gue juga pernah ngerasain itu dan merasa kalau waktu gue terbuang sia-sia. Sebelum gue berada di titik ini, gue juga pernah bertanya ke senior yang udah duluan kerja. Tapi respon yang gue dapat sama skali tidak mengenakkan. Gue ngedumel dan menganggap "sombong amat ih mentang-mentang udah kerja". Padahal gue cuma nanya "kakak kerja dimana?". Selama jadi jobseeker pun gue juga belajar, kalau nyari kerja itu ternyata gak gampang. Serta mencoba untuk instropeksi diri. "Gue kurangnya dibagian mana". Mungkin kita kurang menjual CV, atau surat lamaran kita bahasanya acakadul? Atau bisa saja karena nickname email kita terlihat kurang "profesional". Atauuu kita ngirim email ke HRD kurang ber"etika". Tidak memperhatikan aturan-aturan, misal jam berapa sebaiknya kita ngirim email lamaran ke HRD, tata bahasa yang formal dan sopan seperti apa, format file yang biasanya dikehendaki itu yang bagaimana. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa kita tidak dipanggil.

    Pesan gue buat yang baca, jika kalian sedang dalam masa "mencari sebuah pekerjaan" yang layak, gue punya sedikit tips. 

    1. Teruslah berusaha

    Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Sebanyak apapun kalian coba dan masih "gagal", jangan pernah mundur. Kita gak tau "lamaran" keberapa yang bakal terima kita buat gabung di suatu perusahaan

    2. Rajin bertanya dan mencari informasi

    Jangan yang seperti :

    "Eh cariin gue kerjaan dong"

    "Disitu ada kerjaan gak?"

    "Disitu ada lowongan gak?"

    Kenapa gak boleh? Pertama, lowongan kerja itu tersebar dimana-mana. Dan banyak banget. Tinggal dari dalam diri kita, mau berusaha atau tidak. Kedua, gak semua orang yang bekerja di perusahaan A tau apakah ada lowongan di perusahaan tempat dia kerja. Karena yang bertugas nyari tenaga baru, karyawan baru itu udah ada timnya. Udah ada bagian yang menghandle masalah itu. "Lu kan kerja disana, masa gak tau sih?". Iya kita bakalan tau kalau mereka ngumumin ke karyawan "eh kita butuh orang baru nih".

    Lalu pertanyaan seperti apa yang bikin kita terlihat bertanya tapi juga mandiri?

    "Bro kalau lu denger atau liat ada lowongan buat job A B C D, kasih tau gue yak"

    "Eh kasih tau dong info perusahaan apa aja yang nyediain training/pelatihan/bootcamp gratis?"

    "Sob tempat kursus A B C yang rekomen dimana aja ya? Biar abis kursus gue punya keahlian tambahan".

    "Cuy lu tau perusahaan yg kayak2 outsourcing gitu gak?"

    Keliatan kan bedanya gimana? 

    Kita butuh tapi gak "manja"

    3. Jangan ngeluh! Tekun, sabar, ikhtiar. 
    4. Instropeksi diri dan memantaskan diri

    Seperti yang udah gue ceritain tadi. Kesalahan kecil bisa bikin orang gak "tertarik" sama lu. Coba deh baca postingan gue yang ini "Rahasia bikin CV part 1" dan "Part 2". Gaes, jangan pernah menuntut seseorang yang udah nolongin kalian, diluar "kuasa" mereka. Gue pribadi (jujur), terkadang dibikin seolah-olah gue bisa menjamin mereka bakal keterima. 

    Oke, segitu aja. Semoga bermanfaat! Goodluck :)
    Continue Reading
    Yap, gue tolak karena gue ngerasa belum pantas digaji segitu. Skill maupun pengalaman gue belum saatnya untuk dihargai dengan nominal yang menurut gue itu udah gede banget. Realistis aja, hidup memang butuh duit. Tapi jangan "sok idealis" juga. Dan jangan maksain kehendak. Bukannya gue ngeremehin kemampuan diri sendiri atau "harga jual" gue maunya dibayar rendah. Siapa juga yang gak mau digaji gede? Semakin tinggi nilai jual lu, semakin besar tanggung jawab yang di amanatkan ke lu. Dan gue percaya akan tiba waktunya dimana gue baru pantas "digaji 8juta" dan gue juga siap menanggung beban pekerjaan yang dibekali oleh skill dan pengalaman. 

    Kalau ngomongin salary yah, kayaknya gak bakal pernah habis. Dan selalu menarik buat dibahas. Beberapa waktu lalu, sempat viral di dunia maya a.k.a Instagram. Tentang seorang oknum yang ngaku lulusan UI dan ngerasa gak pantas digaji "DELAPAN JUTA" (untuk ukuran Fresh Graduate) karena dia lulusan UI, jadi gaji segitu gak level buat dia. So what?? Are you kidding me?? 
    Jadi, kronologisnya begini. Waktu itu gue lagi liatin instastory orang-orang, dan ada satu instastory yang cukup menarik perhatian dan cukup membuat malam gue jengkel. Jadi, katakanlah si selebgram, dia ngepost screenshot story orang lain, namanya diblur, dan captionnya seperti ini :


    Gue kaget dong, kesel dong, marah! Dan keesokan harinya, beritanya pun viral. Sampai beberapa artis pun ikutan berkomentar. Disini gue mencoba untuk berpendapat mengenai hal itu, berdasarkan sudut pandang gue. Ada beberapa faktor atau point penting kenapa tindakan ini sangatlah buruk dan menyesatkan :

    1. Interview kerja di PERUSAHAAN LOKAL dan nawarin gaji CUMA 8 JUTA DOANG!

    Oke, ada apa dengan perusahaan lokal? Sebegitu rendahnya perusahaan lokal di mata ANDA? Kalau memang kita ngerasa "pintar", kenapa gak apply di perusahaan asing? Yang gue tangkep disini adalah, dia secara tidak langsung menunjukan rasa tidak saling menghargai. Kerja perusahaan lokal bukan berarti buruk. Perusahaan lokal di Indonesia yang besar diantaranya Martha Tilaar Group, Bio Farma, PT Mega Andalan Kalasan, Polygon, Telkom Indonesia dan masih banyak lagi. Itu baru perusahaan, bagaimana dengan startup unicorn dan decacorn? Beuh, kalau kerja disana gajinya gede cuy. Masih mau anggap remeh perusahaan lokal???

    Trus, dia nolak gaji karena si empunya cuma nawarin (CUMA ya C.U.M.A) 8 juta (J.U.T.A) doang. Gini, buat adek-adek diluar sana yang mau lulus atau lagi skripsi, setelah lulus kalian bakal menyandang gelar "Fresh Graduate". Syukur-syukur kalau misalkan kalian punya segudang pengalaman selama kuliah, seperti ikut lomba trs dapet sertifikat, seminar, kegiatan volunteer, aktif di organisasi, magang, internship, ikutan project diluar kampus, atau freelance. Banyaklah, intinya di CV kalian informasinya gak cuma sekedar deskripsi, profil diri, riwayat sekolah dan skill yang kalian sendiri juga gak begitu yakin dengan skill itu. Lalu kalian apply ke beberapa perusahaan. Dan pada saat keterima, kalian bakal dikasih tau benefit yang didapat apa aja, salarynya berapa, jobdesknya apa. Disitu kalian bakal tau, kalian bakal digaji berapa. Berapapun yang ditawarkan, bersyukurlah terlebih dahulu. Jangan tamak, apalagi yang belum punya pengalaman selama kuliah, kayak gue nih. Biasanya ya gaji untuk FG itu berkisar 3,6jt s/d 5jt. Tergantung perusahaan. Bahkan ada yang digaji berkisar 2,5jt s/d 3,3jt. Logikanya nih ya, lu pergi ngelamar di perusahaan berbekal ilmu yang lu dapat selama kuliah doang yang notabene kalian gak tau dunia kerja itu seperti apa. Msti dikasih ini itu, diajarin ini itu, ada yang ditraining dulu baru kerja. Si perusahaan juga mikir dong, orang yang belum terlalu paham dan ngerti apa-apa, ya dikasih gaji sesuai dengan standar si calon dong. Sadar diri aja, iye gue tau. Buat perantau kayak gue, kalau digaji 3,6jt gak akan cukup. Nabung pun pas-pasan. Belum lagi bayar sewa kos, biaya hidup perbulan. 

    Terlepas lu mau lulusan mana, bangga sih udah pasti kalau lu lulusan dari kampus terkenal. Tapi jangan pernah jadiin almameter lu sebagai patokan dalam menentukan seberapa "pantas" lu dihargai. 

    2. Fresh Graduate lulusan UI, lho!! UI, Universitas Indonesia!! Jangan samain lulusan UI denga kampus lain

    Terus kenapa kalau lu lulusan UI, bambang? Kita atau si HRD harus hormat dan sujud dikaki lu gitu?? Gak juga keleus. Rasis terhadap ras, suku dan agama itu sudah umum terjadi di negara kita. Kalau rasis terhadap "lulusan mana"? Banyak cuy. Masih banyak banget diantara kita yang suka membeda-bedakan seseorang hanya karena dia lulusan kampus swasta, tidak terkenal, jurusan, dan IPK tentunya. 

    "Gak level gue ih"

    Ya kira-kira begitulah. Apakah faktor kepintaran ditentukan hanya berdasarkan kampus? Kampus itu wadah. Wadah tempat lu nuntut ilmu. Dan kita cuma sebagai pendatang, mengisi wadah tersebut. Gue kasih ilustrasi. Ada dua wadah (gelas). Gelas yang pertama terbuat dari emas, gelang kedua terbuat dari plastik biasa. Kacalah misalkan. Nah, di gelas pertama lu tuangin air putih (nothing special). Secara tidak langsung, alam bawah sadar kita mengatakan, airnya enak, mewah, dan mahal. Hanya karena wadahnya mewah. Kita jadi gak sadar, kalau yang didalamnya cuma air putih doang. Trus, di gelas kedua, lu kasih air yang ada rasanya. Misal jus, kopi, atau teh. Walaupun rasanya enak, tapi orang-orang gak bakal begitu tertarik karena gelasnya cuma terbuat dari plastik. Padahal isinya bagus. 

    Kesimpulannya apa? Kalau lu lulusan kampus terkenalpun, kalau lu lulus dengan nilai seadanya, tidak ada yang spesial, ya orang-orang akan tetap melihat embel-embel almamater lu. Dan lu juga kecipratan euforia kebanggaan itu. Sementara, mereka yang lulus dengan nilai yang memuaskan dan datang dari kampus, katakanlah orang-orang banyak yang gak tau dengan kampus kita, tidaklah dilirik. Menyakitkan, tapi yasudahlah. Emang culture kita sepertinya dibangun seperti itu.

    3. UI levelnya PERUSAHAAN ASING alias LN. Kalau LOKAL mah OKE aja, asal HARGA COCOK

    Pertama, dia ngerasa gak level dengan kampus lain. Kedua, dia ngerasa kalau UI levelnya perusahaan LN. Dan yang ketiga, kalau perusahaan lokal oke kalau harga cocok. Oke, kesimpulan yang gue tarik :
    - Mindset yang mengatakan bahwa lulusan UI itu patut dihargai, disanjung dan dihormati
    - Perusahaan LN wajar ngasih gaji 8jt
    - Perusahaan lokal GAK WAJAR ngasih 8jt, harus diatas 8juta

    Lagi, lagi dan lagi. Kenapa mindset seperti ini harus tertancap bak paku terhadap generasi kita? Anak muda lho. Perusahaan raksasa seperti Google, Amazon, Alibaba, Facebook itu sama sekali tidak memperhitungkan mereka lulusan dari negara mana, kampus apa. Mereka bahkan gak sungkan menerima yang hanya lulusan SMA untuk bekerja di perusahaan mereka. Asalkan, berkompeten. FYI, teman satu bootcamp gue itu ada yang lulusan UGM, ITB, ITS tapi tidak satupun dari mereka yang menyombongkan almamater. Yang gue soroti disini, dia menganggap kalau perusahaan LN wajar ngasih harga segitu. Referensinya darimana? Bukannya seharusnya perusahaan LN yang harus ngasih kita harga sesuai dengan ekspetasi? Terus kenapa perusahaan lokal harus ngasih gaji diatas 8 juta? 

    Si perusahaan ngasih kita harga "rendah", dalam artian tidak sesuai dengan harapan kita, seperti kasus ini, itu bukan berarti mereka tak mampu. Ada beberapa faktor/indikator sesuai standar perusahaan, HRD terhadap si calon, "orang ini layak dikasih berapa". Pasti sudah ada rule dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Mereka juga gak masalah sebenernya mau kasih kita berapa, tapi kompetensi kita apakah berbanding lurus dengan "harga" yang ditawar??? Realistis lah. 

    Jadi intinya adalah "Mengubah mindset dan memantaskan diri tanpa harus menyinggung pihak lain.". Jadilah manusia yang banyak bersyukur, realistis, dan tidak suka memaksakan kehendak. Ingatlah, bahwa harga yang kamu anggap remeh itu, bisa jadi itu adalah "harapan dan cita-cita orang lain". 
    Continue Reading
    Its my experience when I was a student in one of university in West Sumatera. Maybe this story can give you a lesson for the future..
    Waktu gue mau lulus SMA, temen-temen gue udah pada nentuin mau kuliah di jurusan apa dan dikampus mana. Begitu juga dengan gue. Mulai dari jurusan A sampai Z, bahkan ada beberapa jurusan yang sebelumnya gue gak pernah denger. Contoh, jurusan okupasi yang ada di UI (Universitas Indonesia). Ada yang milih ngelanjutin di jurusan berdasarkan passion, hobi, atau sekedar ikut-ikutan, trus ada juga yang ngambil jurusan dengan PG (Passing Grade) yang tinggi karena nilai dia bagus, bahkan ada yang ngasal ngambil jurusan. Pemandangan yang bakal lu temuin di detik-detik sebelum UN. Sementara gue lebih milih ke jurusan yang sesuai dengan minat gue, Ilmu Komputer. Tapi ditengah kegalauan buat milih kampus (karena nilai gue yang pas-pasan alias rank 3 terakhir dari 23 siswa), orangtua menyarankan untuk ngambil jurusan Psikologi dan Manajemen. Sesuatu yang "itu bukan gue banget".  Langkah pertama yang gue ambil adalah, prospek kerja kedepannya seperti apa. Yang kedua, di dua jurusan itu nantinya ilmu apa aja yang bakal gue pelajari. Dan yang terakhir, ngeyakinin dan diskusi dengan hati. Walaupun pada akhirnya gue diijinkan buat kuliah di jurusan yang gue mau, Alhamdulillah.

    Masa-masa kuliah adalah masa-masa dimana gue mengambil peran sebagai anak yang lebih mandiri. Yap, gue ngekos. Hal yang gak pernah gue lakuin sebelumnya dan sekaligus pengalaman pertama gue. Kos gue bisa dibilang lebih mirip seperti asrama ketimbang kos-kosan. Dan penghuninya pun rata-rata kuliah di semua jurusan yang ada di kampus. Mulai dari teknik, ilkom, psikologi, ekonomi dan pendidikan. Selama ngekos, tak hanya rasa kebersamaan dan kemandirian yang gue rasain, tapi juga "wawasan". Wawasan tak hanya didapat dari buku bacaaan, tetapi juga pengalaman orang lain. Selama ngekos, gue kadang suka intip-intip tugas mereka seperti apa, matakuliahnya apa aja, dan gak jarang juga kami saling sharing. Gue yang anak "sistem komputer", yang banyak berhubungan dengan hardware dan alat-alat pertukangan kayak obeng, tang, solder, timah, turut memberikan rasa penasaran ke penghuni kos lainnya. Karena memang, cewe yang ada di jurusan gue itu terbilang sangat sedikit. Penghuni kos didominasi oleh anak manajemen, akuntansi, sistem informasi dan psikologi. Bicara mengenai teman, tentu kita punya temen yang bisa dibilang "lebih akrab" ketimbang lainnya. Dia anak psikologi. Baik, ramah, pinter ngomong (ya wajarlah kan anak psikologi harus pinter ngomong) dan bicaranya pun teratur, gak kayak gue yang suka hilang arah. Bisa dibilang kita lumayan deket, karena memang kamar kami juga bersebelahan. 

    Terkadang, kita harus lebih memahami dan bijak dalam memilih kata-kata yang digunakan. Baik itu ketika mau bercanda, serius. Tau memposisikan lawan bicara, jadi gak asal nyablak. Ada masa ketika gue ngerasa kecewa dengan ucapan yang ia lontarkan ke gue. Jadi waktu itu, gue lupa awalnya kita lagi ngebahas apa, tiba-tiba dia ngomong 

    "Anak IT ntar kerjanya jadi apa? Bikin robot?"

    "Ntar anaknya kek robot tuh hahaa"

    "Anak psikolog juga bisa tuh benerin laptop, gak harus anak jurusan komputer"

    Gue yang notabene sangat mencintai dan menjunjung tinggi jurusan gue, sangat kesal dengan ucapan yang ia lontarkan. Walaupu dibarengi dengan tawa, tapi ada kalanya kita ngerasa kecewa dan kesal dengan candaan yang dibuat. Dan gue tegaskan, "INI PIKIRAN BODOH BANGET!". Kalau ada diantara kalian yang baca tulisan gue dan juga berpikir hal yang sama, please tolong banget. Jangan pernah memandang rendah jurusan orang lain. Gaes, ketahuilah, kalau yang kuliah di jurusan IT, bukan berarti kami tau segala hal. Bukan berarti kami "ahli pertukangan". IT itu cabangnya sangatlah luas. Semakin maju perkembangan teknologi, semakin berkembanglah dunia IT. Di dunia kerja pun begitu, dalam satu department atau divisi IT, itu bagiannya banyak banget. Gue udah ngerasain makanya berani ngomong. 


    Waktu SMA, gue juga punya temen yang orangnya -ceria banget. Gue jarang ngeliat tampang badmoodnya dia, jadi suatu ketika ada temen lain yang becandain. Gue juga gak begitu tau candaan dia seperti apa dan temen gue ini ngomong, "tolong jangan kelewatan. Mentang-mentang selama ini gue diam dan slalu trima becandaan kalian, tapi tolong hargai perasaan gue juga. Perasaan gue gak sebercanda itu". Nusuk banget, kan?? Dan semuanya pada diem. Nah sama kasusnya kayak gue, gue yang memutuskan untuk diam pada saat candaan itu dia hadiahkan ke gue, mungkin ngerasa kalau hal itu bukanlah apa-apa. Jangan pernah anggap remeh perkataanmu dan jangan terlalu suka ngejudge seseorang "baperan". Karena memang tak semua orang bisa menerima dan tak semua orang fleksibel dengan candaan yang kelewat batas. So stop using "BAPER" ke orang-orang yang secara tak langsung kesal dan marah terhadap kalian. Instropeksi diri, salah satu hal terbaik yang harus dilakukan. Simpelnya gini, coba deh kalau orang lain yang ngejokes lu kek gitu, kira-kira bakalan kesal gak? 

    Pada akhirnya gue tersadar, bahwa untuk ngebuktiin bahwa omongan mereka salah, walau kata mereka "ah itukan gue cuma becanda keleus", adalah "menampar" mereka dengan kesuksesan. Sukses tak selalu berarti kaya. Karena definisi kata sukses begitu luas. Cukup dengan meyakinkan diri dan trus tumbuh ditengah orang lain meremehkan kita.
    Continue Reading
    I am Instagram user since 6 years ago. Tepatnya dimana handphone Android mulai merambah dunia SMA gue. Perlahan tapi pasti, Android mulai menggeser posisi ponsel "Blackberry" yang sempat hits selama beberapa dekade. Kelas tiga SMA itu masa dimana gue baru saja menjadi Android user yang sesungguhnya. Disaat temen-temen gue udah duluan punya handphone ber-OS Android, sementara gue baru menikmati di kelas tiga. Masa-masa dimana ketika gue pengen banget punya akun BBM dan bersyukur banget ketika BBM udah bisa dinikmati pengguna OS Android. Gue lupa pastinya kapan, pasca gue baru aja seneng2nya ngerasain chatting pake BBM, temen-temen gue udah mulai beralih ke sosial media baru, Instagram. Tapi emang dasarnya gue bukan tipe orang yang terlalu suka ngikutin tren, gue baru punya akun Instagram sebulan setelah temen-temen gue udah punya akun di IG. Dan disinilah awal cerita itu dimulai..


    Instagram isn't my first social media. Gue pertama kali main sosmed kelas 2 SMP karena diajakin temen. Apalagi kalau bukan "Facebook". Dulu main sosmed "pure" buat have fun doang. Gak ada yang namanya saling pamer, drama2an, pansos. Itu yang gue rasain di tahun 2011-2012. Kadar iri dan toxic dulu itu gak se-ekstrim sekarang. Rasa cemburu kita hanya terbatas sama jumlah pertemenan, siapa yang paling banyak di-add, yang paling banyak dapat like, atau yang bio-nya paling kreatif. Sisanya? Chatan sama gebetan, mau kenal atau kagak yang penting chat hahaha, trus send message via wall temen (biar dikata punya temen atau dijudge orang yg asik), trus upload poto dengan editan sekreatif mungkin. Tapi dari sekian banyak kenangan yang gue dapet selama main sosmed, baik atau buruk, gue gak pernah non-activein akun cuma karena "toxic" nya yang berlebihan. Gue non-activein akun cuma karena lagi bosen, atau dimarahi emak karena kebanyakan main. Sampailah pada akhirnya satu per satu temen gue pada ninggalin FB. Mungkin krena ada yang lebih asik, atau gak mau dibilang ketinggalan jaman mungkin?

    Yang awalnya sosmed cuma dijadiin ajang untuk have fun dan pelepas suntuk, perlahan berubah menjadi ajang pamer. Salah satu faktor yang gue liat adalah, Instagram merupakan platform sosial media yang memfokuskan penggunanya untuk berbagi poto. Poto identik dengan visual, dikombinasi dengan hasrat alamiah manusia yang selalu ingin terlihat bagus dan baik. As you can see, dari waktu ke waktu Instagram selalu diperbaharui dari segi fitur dan mengutamakan kenyamanan pengguna. Makanya jaman sekarang bisa diliat Instagram user kebanyak anak muda dalam rentang usia 13-27th. Itu menurut gue ya, oke. Dan Facebook user mulai didominasi oleh generasi emak kita. Itu semua tak lepas dari perkembangan teknologi yang turut berkontribusi merubah pola prilaku manusia. Tanpa memandang usia. Dan kenapa pada akhirnya gue memutuskan untuk berpuasa dari Instagram? Karena sudah menjadi racun di diri gue. Gue pernah bener2 detox Instagram selama satu bulan (kalah ama SelGom), pas gue lagi skripsi. Itu efeknya bener2 ngaruh banget ke gue. Ibarat lu lagi sakit dan disuruh istirahat total. Gue ngerasa kalau kehidupan normal gue kembali seutuhnya. Walaupun you knowlah, skripsi pusingnya gimana, tapi gue bener-bener plong karena racun itu udah gue detox. Kelar skripsi, godaan itu datang lagi.  Gue kembali install dan aktifin akun gue kembali.

    Back to yourself, sebenernya baik atau buruknya sebuah sosmed itu balik lagi ke diri masing-masing. Tapi gue gak semunafik itu, karena efek buruk yang gue rasain itu bener-bener nyata. Gue jadi sering cemas, iri, sakit kepala. Mungkin beberapa dari kalian juga pernah ngalamin hal ini. Bahkan gue pernah terobsesi dengan like dan followers. Gue kesal kalau ngeliat temen-temen gue dapat like yang banyak. Ya, seracun itu dan akhirnya gue memutuskan untuk menarik diri. Gue gak bisa menahan diri untuk tidak melihat dan membanding-bandingkan kehidupan gue. Gaes, actually it depend on you. Mungkin gue yang agak sakit jiwa, overthinking, dan gak bisa ngontrol emosi. Yang pantes disalahin siapa? Gak ada, gak ada yang salah 100%. Semua aspek turut berkontribusi memberikan toxic itu. Baik itu dari lingkungan, tren, lifestyle. Kalau gak bisa nahan diri dan emosi, yaudah. Gue ucapin selamat, mending lu detox atau fasting dulu deh kayak gue hahaaha.. 
    Continue Reading

    Seperti yang gue bahas di postingan sebelumnya, kenapa akhirnya memutuskan buat jadi developer? Karena gue terpesona dan kagum akan magic dari barisan code-code. Dan juga berkat sebuah buku yang dibeliin bokap. 

    Oke, lanjut ya. 

    Gue lulus bulan April 2018, udah setahun yang lalu ya. Langsung dapat kerja? Tidak. Gue lulus hanya bermodalkan IPK, jujur. Dan kampus gue juga jauh terkenal dengan kampus yang ada di ibukota. Agak sedikit menyulitkan buat gue yang baru saja jadi "Fresh Graduate". Gue sempet ditawarin pekerjaan buat jadi programmer di salah satu perusahaan tempat temen abang gue kerja. Tapi "basic" gue belum terlalu kuat. Ada perasaan takut, tidak percaya diri. Belum lagi karena kondisi mata gue yang minusnya "lumayan tinggi". Entah kenapa, keinginan buat jadi developer yang awalnya begitu menggebu-gebu pada akhirnya "hilang". Sekitar pertengahan bulan Mei 2018, gue dapet informasi kalau ada sekolah coding di jakarta, "Purwadhika Startup School". Dengan biaya yang menurut gue lumayan mahal. Selama kurang lebih dua bulan, dan bisa dicicil. Permintaan gue gak langsung dikabulkan karena beberapa pertimbangan. Masa setelah lulus kuliah itu adalah masa pencarian gue yang sesungguhnya. Habis ini gue mau ngapain? Masa nganggur? Gak lucu dong, gue udah cape-cape kuliah, ngabisin biaya gak sedikit pas skripsi (karena skripsi gue itu bikin alat). 

    Akhir July, gue diajak abang buat merantau ke Jakarta. Bulan Agustus, gue mulai nyari-nyari info mengenai jobfair. Akhirnya gue ikutan jobfair di Bogor (bermodalkan nekad karena gue gak pernah ke Bogor seorang diri). Dari puluhan perusahaan, gue cuma apply ke tiga perusahaan untuk posisi developer. Dan yang kepanggil cuma dua. Akhirnya gue lulus di salah satu perusahaan. Kiprah gue, mimpi buat menjadi seorang developer, perlahan terwujud disini. 

    Jadi, si perusahaan itu nyediain bootcamp gratis selama dua bulan. Dengan ketentuan, jika lulus bootcamp maka akan dikontrak buat kerja disana selama dua tahun. Bagaimana kalau resign? Gue harus bayar penalty (sejenis uang ganti rugi mungkin), sejumlah 20jt s/d 50jt. Nominal ini sebenarnya tergantung kebijakan perusahaan. Selama bootcamp, gue kembali diingatkan soal basic pemrograman. FYI, akhirnya mimpi gue buat jadi Web Developer harus diganti ke Java Developer, karena suatu keadaan. Lalu, tantangan apa aja yang gue hadapi? Banyak. Gue bener-bener kayak orang bego yang gak tau apa-apa tentang Java, karna waktu kuliah gue sama skali gak tertarik dengan Java. Ibaratnya, lu dipaksa mencintai seseorang yang mana dari awal lu gak ada rasa sama itu orang. Pasti sulit bgt kan? Nah itu yang gue alami. Tapi gue megang prinsip "sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi kita". Jadi gue berkesimpulan, jalan gue menuju developer sedang dibuka, tapi disaat yang bersamaan gue juga tidak "dijodohkan" dengan bahasa pemrograman yang gue cintai. Semua pasti ada hikmahnya. 

    Lulus bootcamp, gue langsung placement di client di daerah Pondok Indah sebagai  Java Developer. Khususnya Backend. Karena untuk Frontend, ada vendor lain yang ngehandle bagian itu. Lagi-lagi gue dapet "challange" buat diri sendiri. Contoh gini, lu udah apal teori BAB 1. Tapi pas ujian, yang keluar malah teori BAB 5. Diluar ekspetasi lu. Itu yang gue rasain. Jadi gue bener-bener belajar dari awal lagi dan adaptasi secepat mungkin disini. Sulit gak? Iya, awalnya. Tapi itu berlangsung selama satu bulan, hingga pada akhirnya satu aplikasi kecil bener-bener dilepas dan dihandle oleh gue sendiri :)

    Dari kisah gue tadi, ada beberapa hal yang bisa gue jadiin pelajaran hidup. Salah satunya "jangan pernah menyerah". Hingga gue sadar, gak ada gunanya untuk merasa takut untuk sesuatu yang belum pernah lu coba. Buktinya, selama 11 bulan ini gue sangat enjoy menjalani profesi ini karena gue "nyaman". Ternyata tidak semenakutkan itu, padahal gue cewek lho. Gue pernah nemuin bug-bug, awalnya slalu merengek ke senior tapi pada suatu waktu gue nanya ke diri sendiri "sampe kapan nanya mulu woi??". Dan disitu, gue mencoba untuk solve sendiri. Walaupun gue pusing nge-debug codingan gue baris per baris tapi akhirnya berhasil gue selesain. Gue yang awalnya takut banget buat debug, akhirnya ketagihan (tapi gak ketagihan ngalamin bug). Gue yang awalnya suka copy paste, jadi membiasakan diri buat ngetik. Biar apal. Buat lu tau aja, sebulan kerja itu jantung gue selalu gemetaran saking takutnya. Sampai gue takut buat berangkat kerja. Parah kan? (Anjir kenapa dulu gue gitu hhahah)

    Oke, mungkin sampai sini aja dulu ya. Gue cuma berharap semoga pengalaman gue yang gak seberapa ini, ada pembelajaran dan motivasi yang bisa kalian ambil. Gak berharap lebih, udah itu aja. Makasih buat yang sudah berkenan baca :)

    Continue Reading

    Hai.. Gue balik lagi nih, pada kangen gak hahaha
    Tulisan ini gue bikin disela-sela jam kerja, nyolong waktu gitu. Biar tetep produktif dan sepertinya sudah jadi kebiasaan kalau after deployment pasti rada "gabut". So lets talk about this topic ..
    Sebenernya gue gak ikutan deploy karena pasti lembur (gak diizinkan pulang malem), jadi gue kebagian standby pagi keesokan harinya. Not bad lah. Temen-temen gue yang lembur itu besoknya diizinkan buat cuti alias libur, karena memang deploy-nya baru kelar pas mau hampir subuh. Dan mereka baru balik ke kosan sekitar jam 6 pagi. 

    Mungkin sebagian dari kalian banyak yang bertanya-tanya "deployment itu apa?"
    Next yaa gue bakal bahas tentang tahap-tahap yang dilakukan agar sebuah aplikasi/web bisa diakses untuk publik. Mungkin bakal collab juga sama temen, jadi tunggu aja (kalau inget dan gak lupa hehe).

    Jadi beberapa waktu lalu, gue iseng-iseng bikin story ig dan naro "question box" disitu. Gak berharap lebih sih karena memang beberapa kali gue naro question box juga gak ada response (respon ecek-ecek gitulah, gak dibalas jg gak apa-apa karena kalau dibalas pun gue nganggepnya malah kayak spam, story ig gue titik-titik dan pastinya bakal di-skip karena unfaedah). Nah entah kesambet apa jadi hari itu "lumayan banyak" yang nanya masalah coding, pemrograman, dll ke gue. Yang bikin gue seneng apa, karena question yg mereka lempar ke gue rata-rata memang berbobot! Gile, tengs banget buat kalian. Berkat kalian juga gue makin banyak belajar, yang tadinya gak pernah kepikiran sm gue, tapi krena question kalian gue jd ikutan "berpikir". Beberapapun ada yang berlanjut via DM. Nah, tulisan gue kali ini juga lahir berkat "request" salah satu dari kalian, tentang story kenapa gue jadi developer. 

    Guys, gue jadi developer baru 11 bulan. Belum genap setahun, jadi so sorry kalau cerita gue masih pendek. Diambil sisi positifnya aja, jangan julid ya (mohon maaf suhu-suhu diluar sana kalau kebetulan baca cerita gue, kalau ada yg salah tolong nasehati dan kasih gue motivasi ya :( ).

    Gue lahir, tumbuh dan besar di kota Padang. Kelas 5 SD, orangtua memutuskan untuk balik ke kampung halaman karena alasan "urgent". Sampai gue tamat SMA. Masih inget, SMP kelas 2 itu pertama kali gue berkenalan dengan "blog" berkat sebuah buku yang dibeliin bokap. Dari dulu gue suka baca dan kepo. Gue anaknya visual banget, suka sama hal yang berbau desain tapi gak ada skill ngedesain. Lu tau kan kalau template default blog itu "gitu-gitu doang?". Gak ada yang menarik. Membosankan. Berkat rasa ingin tau, gue berusaha untuk mencari tau "ini cara ganti templatenya gimana?". Dan, masalah pertama selesai. Timbul masalah kedua, "kok ada tulisan yg begini? kok diblog orang lain bisa gini-gini? gimana cara ngubah menu?". Gue searching lagi dong, dan jawabannya? EDIT YOUR HTML TEMPLATE! Gue yang sama sekali gak tau dan gak paham apa itu HTML, akhirnya coba nyari bahan bacaan dan ulasan mengenai HTML. Disitulah awalnya gue tertarik dengan "pemrograman". 

    Like a Magic! Bayangin aja, berkat sebuah code "gak jelas" itu, bisa menghasilkan sebuah tampilan yang bagus, bisa build sebuah web dan aplikasi. "Kok bisa ya??", sebuah pertanyaan yang selalu terlintas di benak gue. Gue pernah beberapa kali nanya ke guru TIK, tapi jawabannya malah lebih gak jelas dari code-code itu. Mau searching pun gue tetep butuh penjelasan lebih. Sempat terhenti pencarian gue dan kembali "menggebu" pas SMA. Gara-gara ada OSN cabang Komputer. Lagi-lagi gue harus kecewa, pengen marah gitu. Karena OSN cabang komputer tidak begitu mendapatkan perhatian di sekolah gue. Dan guru yang bertugas untuk ngelatihpun kadang juga sibuk. Sedangkan OSN cabang kayak matematika, fisika itu pelatihnya didatangkan dari luar. Rata-rata dosen. Hasilnya gue bareng temen kudu belajar sendiri, tapi tetep saja. Kami tak lulus. 

    Tibalah waktunya gue harus kuliah dan memilih jurusan. Alangkah bahaginya ketika gue berhasil kuliah di jurusan yang gue mau, walaupun dia gak pure ngoding. Tapi lebih banyak ke hardware. Di jurusan itu gue belajar C/C++, Java, Delphi, Visual Basic. Dan ada matakuliah pilihan "Web Programming". Gue seneng banget dong! Akhirnya ada juga seorang yang berkompeten mengajar di bidang itu, penantian gue selama ini yang slalu tanpa kepastian akhirnya terbalas! Alhamdulillah.. Sampai lulus pun, gue memutuskan buat kerja jadi seorang Web Developer.

    Oke, sudah terjawab ya darimana datangnya buat jadi developer.
    Perjalanan menuju menjadi seorang "developer", bagaimana??
    Next akan gue bahas di postingan selanjutnya. Tanpa sadar ternyata cerita gue panjang banget hhahaha kelepasan, keyboard gue jebol coy :D

    Byebye, pending dulu ye....




    Continue Reading

    Nah balik lagi ke celotehan gue. Kali ini gue mau bahas tentang Do's dan Dont's pada CV, terus pas Interview ngapain aja, behind the scenes Interview (proses dibalik Interview itu gimana). Tentu saja semuanya berdasarkan hasil dari workshop serta ada tambahan opini dari gue sendiri (sudut pandang goblok gue). Okay here you go!!!!!!!!!!

    Buat yang belum baca artikel sebelumnya bisa baca disini Interview Insiders : Part 1

    Pas mau bikin CV, hal apa aja sih yang harus dicantumin?
    Bukan lu aja yang bingung, orang kayak gue juga pernah ngalamin hal yang sama. Karena CV ibarat your identity. Itu tampang lu di depan HRD, tampang non fisik. Tampang yang bakal dipertanyakan pada saat Interview. 

    Do's 
    1. Put your main profile on the top
    Jadi maksudnya, cantumin informasi pribadi lu yang paling penting. Seperti nama, tanggal dan tempat lahir, agama dan status, nomer handphone, alamat lengkap, e-mail, dan kalau bisa akun LinkedIn juga lu cantumin. Social media? I don't think that so important to show in CV.

    2. Education (Formal & Non-formal)
    Formal
    Last edukasi bisa lu bikin maksimal dari SMA. Ada beberapa versi yang gue liat, pertama ada yang bikin history pendidikan mereka mulai dari SMA baru kuliah tapi ada juga sebaliknya. Tapi gue pribadi lebih milih yang benar-benar last yaitu S1 (S2 kalau lu udah dapet titel master). Jadi urutannya S2-S1-SMA. Jangan lupa cantumin tahun periode, nama kampus, jurusan (plus IPK jika IPK juga salah satu syarat di perusahaan tersebut).
    Non-Formal
    Sebisa mungkin kalau lu mau cantumin history pendidikan lu yang non-formal, bikin yang bener-bener relevan dengan jenis pekerjaan yang lu apply (itu menurut gue). Misal lu apply ke jenis job jadi akuntan, tapi pendidikan non-formal lu pernah kursus masak. Nyambung gak sih? Atau waktu kuliah lu ada kelas lecture, ada dosen dari LN yang ngasih materi. Its okay lu cantumin tidak masalah.

    3. Pengalaman Kerja
    Buat yang fresh graduate, pengalaman kerja bisa diambil dari pengalaman kalian selama magang atau internship. Kalau yang udah kerja selama setahun, bisa cantumin pengalaman kerja kalian selama satu tahun itu. Jangan lupa dibikin tahun, perusahaan/instansinya apa, job position, serta deskripsi kerja sesingkat, padat dan seinformatif mungkin. Waktu bikin deskripsi plisss jangan lebay dan jangan terlihat "over" membanggakan diri. Nanti kesannya malah bikin nilai lu di mata HRD jatuh.

    4. Skill
    Bikin daftar skill yang mana itu benar-benar skill kamu dan bisa dipertanggung jawabkan! Jangan sok gaya-gayaan demi terlihat keren di CV. Bisa-bisa kredibilitas kamu dipertanyakan. Kata mba Bella, semua history lu ketika Interview itu selalu dicatet dan ada arsipnya. Jangan sampai si perusahaan kapok ngeInterview lu! Alias blacklist!! Gak mau kan?? Terus cantumin skill yang bener-bener ada kaitannya dengan job position yang lu apply. Tambahan mungkin keahlian make Ms Word dan keluarga. 

    Nah itu yang Do's. Sekarang kita bahas yang Dont's.

    Dont's
    1. Jangan cantumin hal yang kurang begitu penting!!!
    Seperti : hobi.
    2. Jangan bikin CV dengan bahasa yang berbelit-belit
    3. Hindari design CV yang banyak warna. Warna-warna soft lebih disarankan.
    4. Hindari TYPO!!
    5. Jangan sampe CV lu lebih dari 2 halaman. Karena para recruiter dan HRD gak cuma menyeleksi CV lu, tapi ribuan gaes!! Inget, RIBUAN!!!!

    Ada beberapa tips dari gue walaupun gue gak begitu ahli :
    1. Usahain semua informasi penting ada di halaman depan. Mulai dari :
    - Profil
    - Deskripsi singkat lu
    - Pendidikan 
    - Pengalaman kerja
    - Skill (pure skill kalian)
    - Mini Project (kalau ada)
    - Portfolio (yang ini cuma buat jenis pekerjaan tertentu, contoh designer atau programmer, atau arsitektur). Biasanya kalau yang designer/arsitektur portfolionya dipisahin. Tapi kalau programmer/developer cukup cantumin akun Gitlab/Github kalian. Biar mereka ngecek sendiri source code kalian gimana, mulai dari style hingga seefektif apa kalian menulis code.
    2. Kalau tetap pengen cantumin hal seperti hobi, passion lu apa, lebih baik itu ditulis diakhir aja

    Untuk design, sepertinya itu bergantung kepada jenis pekerjaan apa yang mau kali
    an apply. Jika dibagian teknik, ya bisa jadi design tidaklah terlalu penting. Tapi usahain BE YOURSELF! Jangan gaya-gayaan, jangan bohong.


    Okay, gue rasa udah cukup. Mungkin diantara kalian ada yang mau nambahin?
    Next gue bakal bahas, sebenernya faktor apa aja yang diliat waktu Interview? So lets check this out!
    1. Please be ON TIME!
    Datang tepat waktu merupakan first impression yang diliat. Dari sana bisa keliatan kalau diri kita ini serius atau tidak untuk menjalani Interview. Walau keliatannya cuma sepele tapi ini adalah salah satu faktor utama. Usahakan datang 15 menit sebelum jadwal Interview, dengan begitu kalian bisa lebih mempersiapkan diri dan nafaspun teratur (walaupun pas udah di depan HRD agak gugup sih hahaha)
    2. Wear your own the best clothes!
    Gak harus selalu formal, karena ada beberapa perusahaan yang tidak terlalu suka dengan pakaian formal. Yang penting sopan, rapi dan tidak berlebihan! Jangan pakai pakaian yang ribet, simpel-simpel saja. Terus jangan pake yang berwarna ngejreng atau berat, yang soft-soft aja. Inget gaes, gue pernah mau Interview di suatu perusahaan, dan mereka gak mau para kandidat pake baju putih! Nah ini kalian juga harus tau ya.Yang cewe yang berhijab, jangan pake hijab yang ribetttttt banget! 
    3. Jangan lupa : SALAM!
    Yap! Etikanya ketuk pintu dulu, ucapkan salam, tunggu dipersilakan masuk, jangan lupa senyum, berjabat tangan sambil membungkukan badan, kalau udah dipersilakan duduk baru lu duduk. Jangan nyelonong aja, emang maling? 
    4. Tegakan badan, pandangan lurus, jangan tegang!
    5. Don't over use language body!
    Maksudnya jangan terlalu berlebihan menggerakan tangan.
    6. Kenali siapa orang yang ngeInterview lu!
    Lu bisa tanyakan perihal siapa yang akan ngeinterview lu ke orang yang ngasih informasi kalau lu kepanggil Interview. Kenapa harus tahu? Sukses atau tidaknya proses Interview lu salah satunya bergantung dari siapa yang akan ngereview lu. Bisa jadi orang itu ceria, atau tegas, cewe atau cowo, muda atau tua, posisinya apa, lu harus tau. Agar lu bisa memposisikan diri lu di hadapan mereka nantinya. 
    7. Jangan cemberut!
    8. Jawab semua pertanyaan sejujur mungkin. 
    Inget ya, ketika menjawab pertanyaan jangan mengada-ada, kalau gak tau ya bilang gak tau. Lu juga gak boleh jawab ngasal, jangan sok tahu. Lebih baik jujur bilang gak tahu. 
    9. Kuasai CV!
    Ya kali HRD lu inget semua detil CV lu, bisa jadi mereka kembali menanyakan hal yang sudah tercantum di CV tetapi dalam hal detail! Jadi kuasai CV lu, kalau lu bikin CV itu sejujur mungkin, gue yakin lu pasti lancar buat ngejawab dan ngejelasin semuanya.
    10. Control your emotional!
    11. Jangan lupa bawa dokument penting ke ruangan, seperti sertifikat mungkin?

    Jadi intinya, tinggalkanlah kesan yang baik di hadapan Interviewer. Siapapun yang ngeinterview lu, please leave your good personality! Buat mereka terkesan dengan skill dan kepribadian lu. Nah buat yang apply jadi programmer, ada tambahan dari gue :
    1. Review kembali yang udah lu pelajari
    2. Kuasai codingan yang lu bikin
    3. Prove your skill with action! Jika diminta sih hahaha
    Ya kurang lebih gitu, karena gue sendiri baru dua kali Interview. Ini hasil dari kekepoan gue ke senior programmer di kantor gue. 

    Lalu behind the scenes sebelum Interviewer ketemu dengan kandidat.
    Mba Lita said, bahwa ketika CV lu masuk beserta CV2 yang lain ke email resmi mereka, mereka akan melakukan proses screening terlebih dahulu. Apa aja point-point yang harus diperhatikan? Bisa dibaca di artikel gue sebelumnya. Setelah itu, maka keluarlah CV yang akan siap untuk di "introgasi". Biasanya para recruiter bekerja sama dengan manager perusahaan. Jauh daripada itu, sebelum info lowongan disebar, mereka akan diskusi terlebih dahulu tentang requirement apa aja yang dibutuhin untuk posisi tertentu. 

    Oke gue rasa cukup sampai disini. Thankyou banget yang udah baca dan big thanks to mba Lita dan mba Bella atas workshopnya yang begitu hebat dan juga kepada Generation Girl! Thankyou sooo much! Next kalau ada yang kelupaan gue bakal tambahin atau bisa jadi gue bikin artikel yang baru. Tunggu aja ya, See You!
    Continue Reading

    Yesterday, gue baru aja selesai ngikutin workshop yang diadain sama startup non-profit kece yaitu Generation Girl!! Topik yang dibahas sebenernya bisa gue googling sendiri via mbah google tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii alasan kenapa gue ngikutin workshop ini adalah : Pertama karena event ini diadakan di Tokopedia Tower. Kapan lagi kan gue bisa "nyemplung" dan main ke kantornya Tokopedia, syukur-syukur kalau suatu saat gue apply for a job position di Tokopedia dan kepanggil Interview, nah kalau gak?? Terus alasan yang kedua adalah salah satu speakernya datang dari perusahaan teknologi raksasa thats GOOGLE! Omaigat! Kurang kece apalagi event ini, gue bersyukur banget dan berterimakasih sama Generation Girl karena udah ngadain event ini. 

    Jadi workshop ini tuh main topicnya adalah membahas masalah adab ketika interview, kurang lebih begitu. Itu ekspetasi gue dan ketika datang pas hari H, bener-bener diluar ekspetasi gue. Karena apa, karena speakernya sangat-sangat berkualitas dan gue puas dengan ilmu yang mereka berikan. Sebagai bocoran sekaligus bentuk pamer (hueheh), speakernya dibawakan oleh mba Bella (Isabella Wibowo) dari Google. Beliau ini menjabat sebagai Global Product Partnership di Google dan sebelumnya pernah bekerja di Jepang dan Singapura. Speaker yang kedua datang dari Tokopedia, yaitu mba Lita (Lita Rosalia). Beliau menjabat sebagai Senior Recruitment Manager di Tokopedia. Keduanya cewe dan tentunya sangat menginspirasi buat gue. Jiwa kebodohan gue serasa diketuk ketika melihat betapa hebatnya dua orang ini. Lu tau sendiri kan gimana susahnya bisa masuk dan bekerja di Google serta Tokopedia?? 

    Oke, pamer dan rasa bangganya udah selesai. Sekarang kita masuk ke pembahasan yang pengen gue bahas. Berhubung karena point-point yang akan gue jelasin dibawah bersumber dari speaker yang kredibel, ya setidaknya gue berharap semoga point-point dan topik yang gue bahas bermanfaat buat kalian yang sudah berkenan membaca. Oya sebelumya gue minta maaf kalau pembahasan gue ngalor ngidul, gak jelas, bahasanya acakadul. Karena disini gue hanya menyampaikan "kembali" point-point itu dengan bahasa dan gaya gue sendiri ke kalian plus sudut pandang gue terhadap apa yang telah disampaikan kemarin. 

    Pertama, gue mau bahas dari sudut pandang HR (Human Resources). 
    Sebenernya, bagaimana proses screening dari sebuah CV yang dikirim via email??

    1. Universitas
    Yap! Ini salah satu hal yang paling mendasar. Kalian dari lulusan mana? Sebenernya ini jadi momok yang menakutkan buat gue pribadi dan sedikit tidak adil. Gue sering melihat dan merasakan sendiri ketimpangan dan rasa pilih kasih terhadap mereka yang lulusan kampus negeri atau swasta dan terkenal atau tidak terkenal. Mau protes? Ke siapa? 

    2. GPA 
    GPA atau biasa kita sebut IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Ini juga jadi salah satu hal yang menakutkan di sebagian besar mahasiswa. Tak sedikit perusahaan yang mensyaratkan IPK minimal 3.00 bahkan 3.25. Padahal tak semua mahasiswa berIPK rendah itu bodoh dan tidak semua mahasiswa punya IPK tinggi itu murni karena pintar. Gue ngomong gini bukannya mau meremehkan siapa-siapa, tapi kenyataannya seperti itu. Dan Alhamdulillah saat ini gue sedikit lega, karena IPK bukanlah jadi syarat mutlak untuk melamar sebuah pekerjaan. Alhasil, kebijakan seperti ini memberikan angin segar buat teman-teman diluar sana yang kurang beruntung dalam hal IPK karena mereka mengandalkan SKILL! Gue sering nemuin anak yang IPK tinggi tapi cuma hebat di teori.

    3. Jurusan yang diminta sesuai dengan jurusan kalian! 
    Kecuali "menerima segala jurusan". Nah ini beda lagi. Contoh ada lowongan pekerjaan sebagai programmer. Kualifikasi yang mereka minta adalah berasal dari jurusan Sistem Informasi atau Teknik Informatika. Atau ada lowongan sebagai HRD tapi yang diminta berasal dari jurusan Psikologi. Ini salah satu penentu. Bagaimana jika background jurusan kalian tidak sesuai dengan yang mereka minta tapi kalian tetap nekad apply? Boleh atau gak? Jawabannya BOLEH! Emang ada yang larang. Tapi dipastikan CV kalian langsung diskip. Hahaha!! 

    4. Volunteer/Organisasi
    Volunteer atau relawan. Saat ini sudah banyak forum atau suatu komunitas yang sering open for volunteer. Banyak banget! Tinggal kalian tekun dalam mencari informasi. Jangan cuma menunggu doang, keep active dong! Dan satu lagi pengalaman organisasi. Kenapa dua hal ini juga masuk ke dalam list screening? Pertama dari segi organisasi. Organisasi bisa saja dilakukan diluar atau didalam kampus. Kalian bisa melatih jiwa kepemimpinan, bekerja bersama-sama atau team working. Dan memecahkan masalah bersama. Kalau kalian aktif di organisasi, secara tidak langsung kalian telah mangasah soft skill kalian untuk kalian bawa di dunia kerja nanti. Hal ini tidak bisa kalian dapatkan didalam kelas. Kalian perlu mengasah softskill diluar aktivitas belajar. Jangan cuma jadi mahasiswa kupu-kupu. Kerjaannya cuma belajar atau kongkow gak jelas. Kedua dari segi volunteer. Ini menandakan bahwa kalian bukanlah makhluk anti sosial, kalian mau membaur dengan sesama, kalian aware dengan keadaan sekitar dan berkontribusi. Mana ada perusahaan yang mau punya karyawan yang anti sosial?? Eits inget ya, ketika ikut di organisasi, usahakan kalian punya kontribusi yang membangun. Kalau cuma jadi pelengkap buat apa?

    5. Sertifikasi (Keahlian/Bootcamp/Lomba)
    Ingat! Yang gue maksud disini bukan sertifikat menang lomba makan kerupuk. Bukan! Maksud gue adalah sertifikasi keahlian. Ini tuh berguna banget buat kalian yang baru lulus kuliah alias fresh graduated! Sertifikasi yang gue maksud adalah misalkan kalian ikut kelas coding/bootcamp kayak gue, dan di akhir kelas kalian diberikan ujian. Lalu setelah lulus kalian dapat sertifikat pengakuan/keahlian. Gunakan sertifikat ini sebaik mungkin untuk apply in job position yang kalian mau (relevan dengan sertifikat yang dimiliki). Bisa juga sertifikat lomba dan lomba yang kalian ikuti juga sesuai dengan pekerjaan yang mau kalian apply. 

    6. Magang/Internship
    Dua-duanya hampir mirip. Biasanya di kampus-kampus mensyaratkana mahasiswanya untuk magang. Kalau ditempat gue sendiri biasa disebut KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dan dikampus gue disebut PKL (Praktek Kerja Lapangan). Pada intinya sama. Usahain kalian dan kalau bisa kalian memanfaatkan waktu ketika magang/internship ini sebaik mungkin. Nilai plus buat para fresh graduated adalah karena pengalaman magang dan internship yang mereka miliki. Akan lebih bagus lagi kalau ketika magang/internship mereka bisa approve dan menyalurkan kontribusi, jadi betul-betul jadi "magang/internship yang berFaedah". 

    Next, gue bakal bahas lebih dalam lagi beserta sudut pandang gue pribadi. Artikel ini gue cukupkan sampai disini, part 2 akan segera menyusul. Stay stuned!!
    Continue Reading

    Welcome to 2019!!!!! Yipiiiii....... Antara senang dan sedih karena di tahun ini umur gue bakal berkurang lagi. But its ok selagi gue masih diberi kesempatan buat nulis artikel gak jelas di blog ini, kali aja di 2019 traffik blog gue naik Amin. How are you gaes and whats your resolution???

    Di tahun ini gue mencoba untuk keep active buat nulis lagi dan semoga terealisasikan. Walaupun yang baca belum banyak tapi gue yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil. Pembuka tahun ini gue mencoba untuk mereview salah satu skincare kecintaan para kaum hawa di tahun sebelumnya. Agak telat sih sebenernya, kenapa gue baru ngereview sekarang, tapi yah semoga saja ulasan gue membantu kalian yang baru akan mencoba skincare yang satu ini di tahun sekarang.

    Note :
    "Gue bukan seorang profesional dan ahli dalam bidang kecantikan dan mengerti serta paham dengan komposisi suatu produk skincare. Disini gue hanya mencoba ngeshare pengalaman gue selama memakai produk ini dengan bahasa gue sendiri."

    So let talk about this !!!!!!!!!!!!!

    Packaging
    Kalau ngomongin soal packaging, kayaknya dari foto diatas sudah cukup menggambarkan hahaha.. Kemasannya gede banget sumpah, baru kali ini gue nemuin produk skincare yang kemasannya seperti ini (bego banget gue).


    Ini barusan gue foto tadi di halaman depan rumah dan seperti kalian liat kemasannya sangat tidak travel friendly. Bukan menjelekan tapi memang begitulah adanya. Memakan banyak tempat. Jadi saran gue kalau kalian mau nginep dirumah teman atau mau travelling dan pengen bawa produk satu ini, mending kalian pindahin beberapa lembar sesuai kebutuhan ke dalam jar.

    Kemasan ini bukan terbuat dari kaca, tetapi lebih kayak plastik tebal. Tutupnya pun juga tebal, ada sekitar beberapa inch (gue males ngukur haha). Dan tentunya transaparan. Lu bisa liat sendiri isi dari produk ini terpampang nyata dan sangat memanjakan kulit. Sesuai dengan variannya, Lemon jadi background tulisannya juga dibikin warna kuning. Ini yang gue suka, desainnya gak ribet. Dibagian belakang kemasan, ada penjelasan mengenai Neogen Dermalogy dan cara pemakaian. Tapi tulisannya gak bisa gue baca dengan jelas karena berwarna putih. Sedangkan dibagian bawah kemasan ada informasi mengenai tahun expired produk.


    Seperti gambar diatas, ketika kalian pertama kali bukak si produk ini, kalian tidak akan langsung meliat isinya, melainkan ada plastik pelindung semacam aluminium foil gitu untuk melindungi isi produk. Menurut gue ini salah satu upaya si Neogen untuk ngelindungi isi produknya. Gue sendiri gak ngebuka keseluruhan plastik pelindung, tujuannya ya itu agar isi produk tetap terjaga. Setelah itu, baru dah keliatan isi yang sesungguhnya yaitu "lembaran-lembaran eksfoliasi berwarna kuning nan menyejukan kulit" berjumlah 30 buah.

    Tesktur
    Urusan packaging selesai, sekarang gue mau ngebahas dari segi tekstur. Produk ini termasuk golongan produk eksfoliasi yang unik. Kenapa? Karena ia tidak berbentuk eksfoliate toner (cair) ataupun scrub (padat) yang seperti biasa lo temuin. Produk eksfoliate dari Neogen ini berbentuk lembaran yang telah direndam dalam cairan essence (menurut yang gue baca dari berbagai sumber). Terdapat dua sisi dalam lembaran tersebut.

    Sisi Pertama : Bagian Kasar

    Sisi ini merupakan sisi kasar yang pertama kali digunakan dalam aktifitas eksfoliate kulit. Walaupun permukaannya kasar tapi Insha Allah masih nyaman digunakan untuk pemilik kulit kering. Asal ketika digunakan tidak ditekan terlalu keras. Permukaan yang kasar ini digunakan untuk mengangkat sel-sel kulit mati dan sebisa mungkin ketika pemakaian hindari kulit yang sedang berjerawat atau ditepuk-tepuk saja (agar cairannya tetap mengenai jerawat). 

    Sisi Kedua : Bagian Lembut

    Sisi kedua ini berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang telah terangkat. Bagian ini super lembut dan tentunya menenangkan kulit.

    Cara Pemakaian versi Gue
    Oya jeng gue make si neogen ini every two day in a week (eh bener gak sih englishnya gitu?)
    Karena ini eksfoliator jadi makenya jangan tiap hari bisa-bisa jadi rapuh kulit lo hueheh. Step pertama yang harus lo perhatiin adalah PASTIIN WAJAH DALAM KEADAAN NO MAKEUP alias bersih. Kalau bisa double cleansing (khusus yang make makeup lengkap). Kalau yang cuma make bedak/BB cream/two way cake dan lipstik sih gak apa-apa cuma satu kali cleansing tapi itu kembali ke kalian.

    Setelah bersihin muka, tepuk-tepuk muka dengan lembut menggunakan handuk (jangan pernah mengeringkan muka dengan cara digosok pake handuk!). Pastiin muka lo dalam keadaan kering. Lalu ambillah satu lembar neogen dan gunakan sisi kasar pertama kali, gosok di seluruh permukaan wajah, hindari daerah berjerawat (atau neogennya ditepuk-tepuk aja ke bagian yang berjerawat) dan jangan digosok kuat-kuat. Lakukan step tersebut selama kurang lebih 10 menit.

    Biasanya setelah step ini, gue diemin dulu beberapa menit biar cairan si neogen bener-bener nyerap dan pijat lembut wajah. Setelah itu, gunakan sisi neogen yang terakhir yaitu bagian sisi lembut. Ini akan membantu mengangkat sel-sel kulit mati yang sudah dikikis oleh sisi kasar. Pada step ini, lo boleh menggosokan ke bagian yang berjerawat karena permukaannya yang lembut sehingga tidak akan terjadi kontraksi. Eh maksud gue iritasi (maafkan sodara-sodara). Lakukan selama kurang lebih 10 menit (sampai tangan pegal juga gak apa-apa). Setelah itu biarkan kira-kira 2 menit dan bilas dengan air hangat. Why??

    Gue telah mencoba membilas wajah gue pake air hangat dan air biasa setelah melakukan kegiatan eksfoliating dengan neogen dan kesimpulannya :
    Dengan air biasa
    Gue ngerasa kulit gue gak ngerasain perubahan yang begitu kentara. Bagian kening gue yang rentan dengan jerawat juga agak kering. Dan tidak ada efek menyegarkan setelah dibilas dengan air biasa.
    Dengan air hangat
    Tapi yang anehnya ketika gue mencoba bilas pake air hangat, gue ngerasa efek menyegarkannya ada dan ngerasain hasil serta manfaat si neogen ini di wajah gue. Biasanya setelah bilas muka (after exfoliating), gue ngebiarin muka gue kering dengan sendirinya. Dan setelah kering muka gue juga lebih cerah dan perlahan tekstur kulit wajah juga membaik, result seperti ini gue dapatkan setelah ngebilas pake air hangat.

    So, gue menyarankan ke kalian agar membilas pake air hangat. Gue gak tau ini ada magis apa dan gue juga gak tau kalimat gue ini bener atau gak, gue cuma menyimpulkan dengan kebodohan gue sendiri. And the last, lo pakein skincare yang sama sekali gak bikin kulit wajah lo kering setelah eksfoliasi. Entah itu night cream atau mouisturizer atau serum, its up to you. Intinya jangan sampai lo pake bahan yang kontradiktif dengan neogen yang versi Lemon ini. Bisa-bisa efek dari neogen ini malah gaada hasilnya di kulit lo.

    I SUGGEST TO YOU............
    1. Pakenya minimal dua kali seminggu dan maksimal 3x (jangan keseringan)
    2. Dipakenya lebih baik di malam hari
    3. Sebelum make ini pastiin wajah bener2 BERSIH
    4. Kalau lo pengen make dua atau tiga macam eksfoliator dalam seminggu, nah si neogen ini cukup satu kali atau maksimal dua kali dan beri jarak hari pemakaian untuk eksfoliasi.
    Contoh :
    Day 1 : Neogen
    Day 3 : Scrub
    Day 5 : AHA/BHA Clarifying Toner
    Day 7 : Neogen
    atau
    Day 1 : Neogen
    Day 4 : Scrub
    Day 7 : Neogen
    5. Jangan lupa make sesuatu yang melembapkan kulit lo setelah eksfoliasi

    Kesimpulan
    Berdasarkan paparan gue diatas, kesimpulan dan informasi yang bisa gue beri :
    Positive Value :
    - Wanginya enak
    - Lembarannya gede jadi lebihnya bisa buat siku tangan dan kaki, tumit dan bagian kering lainnya hehe
    - Isi banyak dan tentunya hemat

    Negative Value :
    - Kemasan gede banged yaampun
    - Harga mahal tapi worth dengan manfaat yang diberikan
    - Ada alkohol
    - Kalau mau beli produk ini, beli di onlineshop aja yaa (setau gue belum ada di Century, Watson, ataupun Guardian. Storenya juga gaada di Indo. Setau gue yaa jeng)

    Price : 210K s/d 320K
    Where to Buy : on Shopee
    Recommended? : YES!!!!!

    Oke sekian review gue kali ini, semoga membantu *pelukgampar*
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ►  2022 (1)
      • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ▼  2019 (11)
      • ▼  November 2019 (1)
        • Hesemeleh
      • ►  September 2019 (1)
        • Secuil Ilmu, Seluas Lautan
      • ►  Agustus 2019 (6)
        • Cariin Gue Kerjaan, Dong?
        • Salary 8 Juta? Gue Tolak!
        • Hati-hati dengan Jokes
        • How I Fasting from Instagram
        • Tantangan Menuju Developer
        • Dibalik Menjadi Developer
      • ►  Mei 2019 (2)
        • Interview Insiders : Part 2
        • Interview Insiders : Google x Tokopedia
      • ►  Januari 2019 (1)
        • [REVIEW] Neogen Bio-Pell Gauze Peeling Lemon
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top