Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Oke. Sebelum gue lanjut untuk beropini ria, kita lihat dulu definisi konsisten dan komitmen menurut KBBI (noted: PENTING! wajib baca)

    KOMITMEN
    Komitmen berarti : perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak; perkumpulan mahasiswa seharusnya mempunyai -- thd perjuangan reformasi.

    KONSISTEN
    Konsisten berarti : tetap(tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai; perbuatan hendaknya.

    Sumber: Blog Dede

    Kali ini gue ga bahas mengenai apa itu konsisten dan komitmen menurut KBBI, I just remind you about what the definition. So lets talk about it based on our opinion.
    Salah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh "some people" : konsisten dan komitmen. Dalam bentuk apapun itu. Padahal jika seseorang berhasil untuk konsisten atau berkomitmen akan suatu hal, itu impactnya akan sangat luar biasa. Contoh sederhana. Gue punya kakak tingkat yang sangat konsisten dengan hobinya : travelling. Gue ngikutin perkembangannya dari awal, bagaimana dia membangun citra seorang "travel blogger" di sosial media. Dan itu dia mulai ketika telah banyak travel blogger di Indonesia. Sampai dia bisa sukses sampai sekarang ini.

    Ada beberapa point yang gue ambil dari contoh tadi. Pertama, kegigihan dan kerja keras. Kedua, pantang menyerah. Ketiga, yakin. Banyak sekali dari kita, termasuk gue, yang sangat susah untuk bisa konsisten akan suatu hal. Why??
    Dari contoh kakak tingkat gue tadi kita bisa liat. Memulai dari nol hingga kita bisa menikmati hasilnya itu gak gampang. Kita gak akan bisa konsisten kalau ketiga poin yang gue sebutkan tadi tidak bener-bener kita jalani (bisa saja poin itu sama sekali gak ada di diri kita). Coba kalau dia gak konsisten dari awal, gue yakin sampai saat ini gue liatnya "nothing". Banyak hal di sekeliling kita yang bisa kita jadiin contoh "akibat dari konsisten". Contohnya lagi "selebgram". Konsisten dalam hal konsep foto, feed, ootd, dan ciri khas.

    Sekarang gue mau bahas komitmen. Komitmen seringkali dikaitkan dalam "menjalani suatu hubungan", bukan menjalani suatu hal seperti hobi/kegemaran. Berkomitmen itu penting, biar gak terjadi ketimpangan. Menurut gue, komitmen dan konsisten itu gak jauh beda. Impactnya jika dijalani akan berpengaruh bagus buat kita. Tapi kalau dilihat dari segi perbedaan, komitmen itu lebih ke sebuah perjanjian bukan ke diri pribadi, tetapi lebih kepada perjanjian dengan orang lain.
    Continue Reading
    Sebagai anak perantauan yang tinggal di lingkungan dan culture yang berbeda (walaupun masih di negara yang sama), gue menemukan arti perbedaan yang lebih terasa. Kalau dulu sewaktu masih kuliah, perbedaan kultur gak begitu terasa. Karena masih sama-sama orang Minang. Disini gue dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat dengan kaum mayoritas "orang pulau Jawa". Ibarat pepatah Minang :

    Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang 

    Tanah kelahiran gue sangat bangga akan pepatah yang nilai-nilainya akan senantiasa mengikuti kemanapun kami merantau. Dua bulan gue berada dalam ruang lingkup "manusia hebat", terlepas dari sisi buruk yang gue temuin disini. Kalau bukan karena paksaan orangtua, gue gak bakalan bisa survive dengan baik di lingkungan baru. Karena adaptasi adalah masalah serius bagi penganut "kaum introvert". 

    Why I called "manusia hebat"???

    Petama, gue ditakdirkan untuk bertemu dengan para sarjana dari lulusan kampus terkenal. Dan semuanya berasal dari background Teknik/IT. Kedua, cara mereka berfikir. Gue bisa bahas apa aja dan sharing apa aja dengan mereka. Dan tentunya itu sangat bermanfaat bagi gue. Ketiga, mereka sama sekali tidak pelit "dengan ilmu". Ada kalanya pembicaraan kami sama sekali tidak berfaedah, tapi gue tetap bersyukur. Pembicaraan itu bukan lagi sedekar "ini gue". Tapi lebih kepada obrolan yang berfaedah. Dan mereka berperan penuh dalam ngebantu gue untuk bisa beradaptasi dengan baik. 


    Ini foto pertama yang diambil sebelum bootcamp berakhir. Gue masih inget ini kejadian sewaktu kami baru aja ditransfer uang transport hahaha. Ibarat uang gajian dalam angan. 


    Nah ini foto yang diambil secara diem-diem oleh trainer kami. Mungkin bisa dibilang ini foto kenangan yang gue punya selama kami mini project. Dan akan selamanya gue kenang karena disini disamping kami dituntut oleh berfikir lebih keras, banyak kejadian-kejadian lucu yang mungkin akan kembali terulang ketika placement berakhir.




    Last but not least, ini adalah foto setelah bootcamp berakhir dan kami akan mulai penempatan di beberapa projek untuk beberapa bulan kedepan. Gue bahagia bisa bertemu dengan kalian, terlepas dari bullyan yang kalian hadiahkan ke gue selama bootcamp. Akan gue kenang terus hahaha. Gue doain semoga beberapa tahun kedepan kita sudah sukses dengan job dan impian masing-masing. Amin.
    Continue Reading
    Kita lahir di negara yang mempunyai beragam suku bangsa, budaya yang begitu disenangi bahkan dicintai oleh masyarakat luar (ex Indonesia), beribu bahasa, ras and I am proud. Gue sebagai anak bangsa lahir dengan suku Mandailing (note: bukan Mandailing batak but Mandailing minang). Tepatnya gue "gadih minang" yang mempunyai sejuta mimpi..

    Oya ngomongin masalah bahasa khususnya logat, gue udah sering banged denger someone yang ngomong pake logat daerah mereka. Lucu but thats Indonesia. Negara lain gak punya tapi kita punya. Gue sering liat aktor/aktris wara wiri di tv, acting pake logat daerah mereka bahkan terkadang mereka dikasih tanggung jawab buat ngomong pake logat daerah lain. Tapi ada satu hal yang bikin gue kecewa. Kenapa setiap kali ada aktor/aktris yang meranin jadi orang "minang", mereka sama sekali tidak total bahkan gue sendiri malu denger mereka ngomong pake bahasa minang padahal mereka disuruh jadi orang minang (note: Padang). Tapi kenapa kalau pake logat daerah lain mereka bener2 acting total? Why??? Sesulit itukah??

    Itu case pertama. Case kedua, gue sering denger kalau orang Padang ngomong pake bahasa Indonesia, pasti belepotan. Is it true?? Dan parahnya paradigma seperti itu bertahan sampai sekarang. Disamping Sate Padang, Rendang dan Rumah Makan Padang yang terkenal seantero Indonesia tapi ada satu hal yang selalu jadi lelucon untuk kami : Bahasa. Gue sebagai pendatang baru di kota Metropolitan sering di interview oleh beberapa mas-mas gojek. Ketika di tengah percakapan, mereka nanya "kayanya mba bukan orang sini deh, logatnya beda". Dan itu benar, gue dengan bangganya pamer daerah gue. Bagi gue pertanyaan seperti itu masih wajar. Case ketiga. Nah ini yang pengen gue bahas..

    Mungkin lo bakal tau kegiatan gue sekarang apa, gue ngapain aja kalau lo baca post gue sebelumnya. Gue sebagai kaum minoritas, eits minoritas? Iya. Minoritas. Minoritas karena gue satu-satunya cewe, orang sumatera disini. Dan ruang lingkup gue adalah orang yang beneran asli di Pulau ini. Cewe dengan berkepribadian Introvert kayak gue, harus menyesuaikan diri walaupun itu sangat susah. Dua bulan gue ngejalani hidup disini dengan orang-orang baru. Enjoy but ada satu hal yang semakin lama gue semakin risih. 

    Gue mau nanya, kira-kira gimana perasaan lo ketika lo datang merantau dari daerah lain, dan lo ditertawakan karena perbedaan logat dan itu dijadikan jokes setiap hari? Awalnya its okay tapi lama-lama ngerasa risih gak sih? Apa perbedaan ini harus ditertawakan? Dan bahkan salah satu diantara mereka bilang gue baperan?? Oh God.. Gue pernah punya temen cewe, dia dijadiin jokes tiap hari dan dia ikut ketawa. Tapi suatu ketika dia marah besar karena dia sudah gak nyaman dengan jokes itu, gak nyaman karena dia dijadiin bahan candaan tiap hari dan dia bilang "tolong kalian kalau mau ngelucu jangan bawa2 gue, gue jg punya perasaan, jangan karena gue diem, karena gue tertawa kalian jadi seenaknya". Dan semua diam. 

    Sumber : pinterest

    Setiap orang punya sisi humor, gue pun juga. Mereka marah bukan karena mereka baper, tapi karena mereka juga punya batas kesabaran. Sesuatu yang bersifat kedaerahan itu sama sekali gak boleh dijadiin bahan candaan. Logat mereka, bahasa mereka, itu bagian dari adat yang ada di Indonesia. Masa mau ngetawain adat dan budaya sendiri?? Apakah itu yang dinamakan saling menghargai? Belajarlah untuk saling menghargai perbedaan karena di dunia ini tidak ada yang sama.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ►  2022 (1)
      • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ▼  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ▼  Oktober 2018 (3)
        • Konsisten vs Komitmen
        • Bahagia itu Sederhana
        • Eh Kok Baper?
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top