Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Sebuah stigma, perbedaan, pemahaman konsep, pikiran, skeptis, sudut pandang yang dinilai berdasarkan penampilan. Headline postingan gue kali ini.

    Ingatan gue masih segar walaupun judul ini telah berdebu di draft blog, tepatnya dibuat pada saat hari Maulid Nabi. Sebenernya gue gak pengen bahas topik yang beginian tapi lama-lama merasa risih juga kalau semuanya dikaitkan dengan penampilan. Tepat pada tanggal 20 November 2018, temen-temen gue rame banget membahas masalah hukum perayaan Maulid Nabi dalam Islam dan rata-rata para penganut hijab dalam yang berkicau seperti ini. Termasuk temen gue yang sebentar lagi menuju tahap hijab dalam a.k.a hijab syar'i. Tapi kok kesannya gue benci banget yak dengan "hijab syar'i"? Bukan. Bukan seperti itu gaes. Jadi simak ocehan gue berikut ini.

    Gue tipikal orang yang senang baca, dari kecil sampai sekarang. Selain majalah Bobo gue juga seneng banget baca majalah Hidayah (yang cover depannya bikin orang mau tobat saat itu juga). Yup, dua majalah itu merupakan majalah favorit gue waktu kecil. Dalam artian kalau bacaan seperti itu telah menjadi makanan gue. Kalau dipikir-pikir gue ngerasa kalau apa yang gue baca bukan diperuntukan untuk anak SD, terlalu berat dan terlalu nyeremin (lu bakal tau kalau pernah baca majalah Hidayah). Kesimpulannya gue telah tertarik dengan hukum-hukum Islam, sejarah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama gue. Sedikit banyaknya gue telah mengetahui dari buku-buku yang telah gue baca dan pencerahan dari bokap. Kenapa gue gak jadi ustadzah aja? Karena gue berpikir itu adalah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan, bayangin kalau ilmu lu masih dangkal dan lu dengan pedenya nyebarin hal minim yang lu tau tanpa mendalami dan mereka pada percaya dengan yang lu omongin dan ngikutin apa kata lu. Jika yang lu katakan masih jauh dari kata baik, dosa mereka siapa yang nanggung? Ya kita. Nah itu jawabannya.

    Sekarang mari kita hubungkan dengan soal penampilan. Adakah hukum alam yang menulis bahwa jika penampilan seseorang yang terlihat goblok bakal merepresentasikan ilmu yang ia miliki? No! Bagi gue hal seperti itu tidak ada. Sama sekali tidak ada. Adakah yang menjamin seorang professor memiliki ilmu yang sempurna? No! Tidak ada yang bisa menjamin. Lantas mengapa pengetahuan seseorang diukur berdasarkan penampilan?? Sama kasusnya seperti yang gue alami. Jadi mengenai perayaan Maulid Nabi, karena gatal akhirnya gue ngepost salah satu hukum perayaan Maulid Nabi dalam Islam lewat instastory gue (soalnya waktu itu rame yang protes kenapa perayaan Maulid Nabi dilarang). Dan story gue direspon oleh salah satu temen yang bisa dikatakan dia.................... sering nongkrong di Masjid. Ibaratnya dia terlihat dari luar sebagai seseorang yang agamis. Nah gue yang bukan pengguna hijab syar'i terkadang masih buka lepas hijab (cuma dirumah dan sekitaran kompleks), seperti tidak punya hak untuk menyampaikan pendapat gue hanya karena penampilan. Apakah penampilan agamis akan menjamin tingkatan iman dan pengetahuan seseorang? Apakah orang seperti itu berhak menjudge mereka yang tidak agamis? Seperti gue??

    Belajarlah untuk menghargai seseorang bukan dari penampilan. Hal bodoh semacam itu telah mendarah daging bagi sebagian orang. Tak hanya penampilan, berdasarkan jenis pekerjaan juga termasuk. Intinya tidak ada gunanya membedakan seseorang berdasarkan tampilan luar karena lu gak tau sesungguhnya apa yang ada dibalik otak mereka.


    Continue Reading
    Halloooo.. 
    Udah lama gue gak posting sesuatu yang gak jelas lagi. Apa kabar readers? Yahhh walaupun gue gak tau kalian menantikan omelan gue atau gak atau bahkan ada yang berharap gue gak nongol lagi? Hahahah. Bukan karena gak punya ide atau opini yang mengakibatkan tak ada satupun artikel yang gue posting tiga minggu belakang. Tapi entah kenapa tiga kali weekend berturut-turut gue males banget bukak laptop. Tapi kan bisa lewat hp?? Betullllll tapi ya balik ke draft doang pfft..

    Oya mengenai judul postan gue kali ini, mungkin kalian yang baca agak sedikit bingung. Sama. Gue juga lebih bingung. Bingung kenapa gue selalu nemuin orang yang sholat secepat kilat!!! Woi itu lo baca apaan? Komat kamit doang? Gue baru baca Al-Fatihah lu udah rukuk, lu baca apan njirrr?? Kesellll gue!!!!!! (sorry ngegas). Tolong beri gue pencerahan arti Sholat sebenarnya apa. Gue gak butuh google tapi gue butuh jawaban dari kalian yang Sholat bagai Jin terbang.

    Lalu ada suara.... Dan makian kayak gini

    "Emang situ udah bener?"

    "Sok alim lo!"

    "Urusan sama lo apa ya?"

    "Terserah gue dong, emang kalo gue salah situ yang bakal nanggung dosa gue?"

    Dan kalimat lainnya.

    Memang bukan urusan gue tapi gue risih.

    "Yauda lu Sholat aja sendiri di ruang tertutup. Jauh2 sana kayak udah bener aja!"

    Pfft. Pengen ketawa kalau ada yang ngomong kek gitu. Jadi gini ya, dosa kita itu udah banyak. Baik yang disadari maupun gak disadari. Emang mau nambah dosa lagi? Melalui Sholat kita berkomunikasi dengan Tuhan kita, Allah SWT (bagi yang muslim). Melalui Sholat, kita bisa menumpahkan seluruh keluh kesah kita. Kalau Sholat kita masih belum bener, apa akan diterima? Nabi atau sahabat Nabi aja yang sudah teruji ketakwaannya, yang sudah bener wudhu dan Sholatnya masih khawatir kalau Sholatnya gak diterima. Bahkan sampai diulang2 karena saking takutnya gak keterima. Lantas kita yang umat bodoh yang tersisa ini dengan pedenya Sholat dengan seperti itu? Gerakan Sholat ataupun bacaannya?? Setidaknya perbaiki Sholat kita. Jangan di kritik lantas marah. Gue juga sadar Sholat gue masih berantakan tapi setidaknya gue betul2 baca bacaan Sholat dengan jelas tanpa tergesa-gesa kayak Jin terbang.

    Nah sekarang masih mau maki-maki gue?

    "Kayak ustadzah aja lo nyet!"

    Oke. Terserah. Nah terus, bacaan Sholat itu semuanya dari bahasa arab. Punya tajwid, ada yang harus dipanjangkan ketika pelafazan ataupun dipendekan atau didengungkan. Salah baca saja sudah memiliki makna lain. Nah ini, lu baca kayak gimana sih tong? Bahkan ada yang selama Sholat bibirnya dieeeemmmm aja. Dan bahkan ada yang jujur ke gue kalau selama ini dia Sholat karena terpaksa. Astaghfirullah. Lu minta surat pengunduran diri buat hidup aja deh ya.
    Jadi intinya disini gue bukan karena sok tau tapi gue risih. Kita sama2 instropeksi diri aja, setidaknya mulai dari kewajiban kita dulu. Gue juga gak sempurna, ibadah gue juga belum sempurna. Sorry di postingan ini gue agak sedikit ngegas, yahh mudah-mudahan ada hikmahnya. Tengs buat yang sudah berkenan baca. Bye..
    Continue Reading
    Have you ever felt this before??

    Okay let's talk about that..

    Selama ini kita melihat begitu banyak perbedaan yang terjadi di sekitar kita. Bahkan sedari dulu perbedaan ini telah ada. Status sosial, ras, agama, suku, bangsa. Seringkali menjadi faktor utama akan perbedaan. Tapi di postingan kali ini gue akan melupakan faktor tersebut sejenak dan mencoba membahas faktor lain.

    Begitu banyak sosial media bermunculan dari tahun ke tahun. Ada yang bertahan dan ada yang "tumbang". Haha lucu memang mengingat persaingan para developer. Unjuk jari diantara barisan code. Unjuk jari dibelakang layar. Tetapi apa yang ditampilkan didepan seringkali palsu dan terkesan munafik. Semua orang bisa memainkan semua karakter. Tak jarang juga berakhir dengan kebencian. Gue bukanlah seorang pengguna sosial media yang gila. Its still to be a normal. Tapi bisa jadi gue seorang pengamat sosial media. Yah maybe. Mengamati perilaku dan kepalsuan disana. 

    Sebuah kepribadian yang terbentuk dari dulu tanpa kalian menginginkan hal itu dan tumbuh pesat di lingkungan yang "aneh". Satu tahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun terjebak dalam pertemanan yang sama sekali tidak -bersahabat. Dan pada suatu saat kalian ingin keluar dari lingkungan tersebut. Dan berharap hari itu tak lagi datang. Berat memang untuk seorang manusia Introvert. Mereka acapkali disebut sebagai kaum anti sosial. Padahal kenyataannya bukanlah seperti itu. Mereka hanya ingin menikmati hari mereka, hanya ingin memiliki kualitas waktu serta hidup dengan dirinya sendiri. Tak mudah bagi seorang Introvert. 

    "Pembuktian apapun yang kau lakukan tak akan berarti jika mereka telah membangun benteng dan menggunakan topeng supaya bayanganmu tidak masuk"

    Kini jeratan itu telah lepas, tetapi kepribadian itu telah tertanam jauh ketika memutuskan untuk bergabung ke dalam sosial media. Dimana notabene disanalah tipu muslihat berkumpul. Kepalsuan dan tidak adanya pengakuan berkumpul. Tarik ulur seringkali terjadi. Apapun yang dilakukan hanyalah sepotong layar yang pengendalinya ingin eksis.  But who's care?? Nothing. Sedih gak? Ah itu sudah tidak penting lagi. Hati gue sudah terlanjur kuat karena tempaan yang dulu senantiasa menghiasi hidup. Dari sini gue berpikir, mindset seseorang tidak akan berubah jika pikiran itu telah buruk. Terlalu banyak zat kimia berbahaya. Mau jungkir balik pun tidak akan ada yang peduli,

    Sekarang mari kita pergi dari tempat terkutuk itu.
    Beranjak ke tempat dimana roda itu telah membawamu ke tempat yang baik. Tidak ada lagi kepalsuan disana, yang ada hanyalah kehidupan yang sesungguhnya. Disana, di dunia maya sana gue gak menemukan pasukan alay. Pemakai media sosial yang menggunakan otak dan skill. Lebay? Tapi ini kenyataan. Apa yang gue sharing, apa yang gue tulis mendapatkan respon yang positif. Jangan ngomong jabatan, mereka orang berpangkat tetapi bisa menghargai tulisan bodoh gue. Sekarang pertanyaan bodoh itu muncul "apa kita harus pergi ke dunia dimana tak seorangpun mengenalimu dan kau bisa dengan sesuka hati menunjukan dirimu tanpa kau harus malu untuk diabaikan??" dan gue merasakannya sendiri. 

    Lingkungan, who's behind you, merupakan faktor untuk menentukan kebahagiaanmu. Dari sini gue belajar bahwa pembuktian apapun yang kau lakukan tak akan berarti jika mereka telah membangun benteng dan menggunakan topeng supaya bayanganmu tidak masuk. 
    Continue Reading
    Akhirnya kesampaian juga bikin postingan yang isinya akan bermanfaat bagi orang lain *uhuk*
    Biasanya isi postingan gue itu, curhatan dan opini gak jelas, tapi hari ini gue bakalan post sesuatu yang barangkali sedang kalian butuhkan. Berbahagialah kalian yang membaca dan menemukan tutorial ini di blog gue *nangis .. Jangan lupa mampir di postingan gue yang lain yaa 😍

    Sedikit cerita, gue menyelami dunia blog udah lama banged. Sejak kelas 2 SMP. Berawal dari keinginan punya website sendiri tapi bodohnya gue gak tau caranya sama sekali dan biayanya juga mahal. Jadi waktu itu bokap gue baru aja pulang dan membawa sebuah buku dimana dari buku itulah gue mengenal blog. Gue happy banged setelah tau kalau mau bikin blog itu gratis. I learn from that book, karena waktu itu internet baru mulai semarak di kampung gue dan gue juga belum terbiasa untuk googling. And finally I have a blog! Bermodalkan internetan di warnet, jadilah blog pertama gue. Tapi yang namanya manusia tidak pernah puas, gue pun bosan melihat tampilan blog yang "itu-itu aja". 

    Dari rasa ingin tahu tadi "gimana caranya biar tema blog gue bisa berubah", gue jadi tau apa itu template dan berkat blog "gue jadi tertarik untuk belajar pemrograman". Bahasa pemrograman yang pertama kali gue tahu dan gue cintai sampai saat ini : HTML. Gue rasa gue gak perlu ngejelasin ke kalian apa itu template, tapi kurang lebih maksudnya begini.

    Template Default

    Menggunakan Template Pihak Ketiga

    Keliatan kan bedanya dimana? Gambar pertama itu masih menggunakan template bawaan dari blogger (yang sudah disediakan oleh blog). Dan di gambar kedua setelah menggunakan template pihak ketiga. Pihak ketiga itu maksudnya adalah menggunakan template yang telah disediakan oleh beberapa situs (diluar pihak blogger), biasanya template ini telah dimodifikasi bahkan di create dari nol sebagus dan seinformatif mungkin. Bukan suatu keharusan jika mempunyai blog harus mengganti template default, tetapi itu balik lagi ke selera masing-masing. 

    Oke sampai sini paham?? Good.

    (Note : gambar pertama itu merupakan potongan layar dari blog temen gue. Silahkan mampir bagi pecinta kalimat penuh makna Ruang Cerita)

    Berhubung karena dari tadi gue banyak bacot, jadi gue langsung saja. Oya jangan sampai ada step yang terlewatkan. Jika ada yang kurang paham boleh tinggalkan jejak di kolom komentar atau email gue.

    Bahan :
    1. Download template blog. 
    Ada dua situs penyedia template gratisan yang menurut gue oke. Bisa langsung cari di BTemplates atau Gooyabi Template. Disini gue make template dari Gooyabi.

    Tampilan situs Gooyabi Template

    Silahkan cari template yang menurut lo sesuai dengan style lo sendiri. 


    Contohnya gue milih tema simple seperti di gambar. Disitu ada button "Live Preview" dan "Download". Klik "Live Preview" kalau lo pengen liat tampilan template dalam satu layar full. Gue saranin untuk selalu Live Preview biar nantik lo dapat gambaran kira-kira template itu sesuai atau gak dengan style dan kebutuhan lo. Kalau udah yakin, klik button "Download". 


    Pastikan file yang lu download formatnya .zip

    2. Ekstrak file yang telah didownload.
    Setelah selesai, file yang tadi udah lo download lo ekstrak. Gunanya biar kita dapet satu folder (nama folder sesuai dengan nama template) yang berisikan file code dan file pendukung lainnya. Disini gue ekstrak file menggunakan 7zip.


    Setelah itu silahkan lo bukak folder hasil ekstrak tadi dan pastikan di dalam folder itu ada beberapa file seperti gambar dibawah.

    Folder sesuai dengan nama template


    File yang ada di dalam folder 

    Dan pastikan juga ada file yang formatnya XML karena kalau gak ada file itu, lo gak bisa ganti template blog lo. File berformat XML berisikan kode-kode yang nantinya bakal lo gunain buat mempercantik blog.

    Sekarang lo udah punya bahan file XML, sekarang kita masuk ke tahap eksekusi.

    1. Buka file XML tadi menggunakan Notepad++ 
    Bisa menggunakan Notepad biasa tetapi kekurangannya kode yang ditampilkan tidak beraturan. Sebenarnya tidak masalah, tapi jika menggunakan Notepad++ lo bisa sekalian belajar karena kode yang tampil pun akan beraturan. Akan menguntungkan jika ada yang mau lo edit di template tersebut seperti menu.

    Kode-kode yang ada di file XML

    2. Copy semua kode yang ada di Notepad++
    3. Selanjutnya silahkan login ke blog kalian, lalu pergi ke bagian "Tema"


    Klik "Edit HTML" (perhatikan gambar baik-baik).

    4. Delete semua kode yang ada pada box HTML tersebut. 
    Saran : sebaiknya kode tersebut kalian backup terlebih dahulu. Dengan cara copy lalu paste ke Notepad++. Save dengan nama "Template Backup".


    Setelah di-delete, silahkan paste semua kode yang ada di file XML tadi ke dalam box HTML (perhatikan gambar diatas). Lalu klik "Simpan Tema". 

    Silahkan kalian refresh page dan klik "Lihat Blog" yang ada di pojok kiri.

    Eksekusi template selesai!!!!

    Sekian tutorial "Cara Mengganti Template Default Blog" ala bahasa gue. Kalau ada yang kurang paham silahkan tinggalkan jejak atau DM gue di Instagram. 

    Semoga bermanfaat. Thankyou!! 





    Continue Reading
    Bukan pertemuan yang sesungguhnya, melainkan perbincangan yang terjadi di dunia maya. But Why I called "a good thinking person"? Because baru kali ini gue ngepost sesuatu yang ditanggapi positif dari orang-orang hebat. Kali ini cerita yang akan gue share terjadi di "LinkedIn".

    Gue baru join di LinkedIn sekitar beberapa bulan yang lalu. Bukan karena gue gak tau apa itu LinkedIn melainkan pada saat itu gue merasa "belum terlalu butuh" but I do some a mistake. Gue baru ngeh kegunaan dengan memiliki akun di LinkedIn setelah gue butuh pekerjaan. Ibaratnya LinkedIn merupakan sosial media yang dikhusukan untuk para "kaum elit". Just kidding dude. Disana gue menemukan postingan dari orang-orang hebat, bukan hanya sekedar share tentang "their lifestyle", pamer OOTD ataupun kegiatan-kegiatan gak penting lainnya seperti di sosial media yang biasa gue gunain. Bahkan setiap berangkat kerja, gue selalu meluangkan waktu beberapa menit hanya untuk sekedar membaca postingan yang tentunya memiliki banyak manfaat buat gue.

    Mengenai postingan, gue sebagai "anak baru" mencoba untuk membuat post untuk pertama kalinya dan apa yang gue dapat? Respon positif and I am happy. Walau gue kalah jumlah like dan komentar but I am still get happy. Jadi di postingan itu gue membahas masalah "Euforia Kelulusan". Hati gue tergerak untuk menulis mengenai hal itu karena gue sendiri telah mengalami beberapa bulan yang lewat dan sebagian teman-teman gue baru ngerasain hal itu sekarang. So what the conclusion??

    Jadi gini, gue akan menyinggung mengenai Euforia Kelulusan disini.
    Gue lulus pada tahun 2018 tepatnya bulan April yang lalu dalam kurun waktu 3,5 tahun. Its a great? I think yes but not now. Dengan bangganya gue mengantongi gelar sarjana, serta ijazah yang berisikan nilai-nilai bagus plus IPK yang gak bisa dibilang rendah. Bangga, tentu saja. Tetapi rasa bangga itu hanya bertahan sebentar. Gue tipe orang yang tidak terlalu suka berdiam diri dirumah tanpa ada kesibukan. Kebanggaan itu sirna ketika gue akan membuat CV (note: Curriculum Vitae). Pada akhirnya gue tersadar, bahwa gue tidak mempunyai pengalaman satu pun. Entah itu magang, volunteer, organisasi atau kegiatan lainnya. Gue sempat terpikir untuk kuliah lagi tapi biaya untuk S2 tidak semurah itu. Gue pun memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan harapan uang yang terkumpul itu nantinya akan gue gunakan untuk biaya les. Karena gue mau meringankan beban orangtua mengingat biaya yang telah dikeluarkan oleh orangtua ketika gue skripsi tidaklah sedikit.

    Rasa malu akan diri sendiri ketika melihat "I am nothing" disaat gue melihat orang lain yang jauh lebih kaya pengalaman dan ilmu daripada gue. Euforia kelulusan itu tak lagi gue rasakan. Dan disaat ini ketika gue melihat teman-teman gue yang baru lulus, gue bisa ngerasakan rasa haru mereka disaat gue berada pada posisi mereka beberapa bulan lalu. Itu hak mereka, seperti dulu. Itu hak gue untuk bahagia. Tapi itu hanyalah sebentar.

    Sedetik yang lalu itu tetaplah "masa lalu"..
    So mau kau apakan gelar sarjanamu itu??  


    Hidup ini bukan hanya sekedar angka. Karena angka tidak akan terbentuk hanya karena yakin. Tetapi terus berusaha, berdoa, dan terus melangkah walau seribu pedang ada disetiap langkahmu.
    Continue Reading
    Oke. Sebelum gue lanjut untuk beropini ria, kita lihat dulu definisi konsisten dan komitmen menurut KBBI (noted: PENTING! wajib baca)

    KOMITMEN
    Komitmen berarti : perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak; perkumpulan mahasiswa seharusnya mempunyai -- thd perjuangan reformasi.

    KONSISTEN
    Konsisten berarti : tetap(tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai; perbuatan hendaknya.

    Sumber: Blog Dede

    Kali ini gue ga bahas mengenai apa itu konsisten dan komitmen menurut KBBI, I just remind you about what the definition. So lets talk about it based on our opinion.
    Salah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh "some people" : konsisten dan komitmen. Dalam bentuk apapun itu. Padahal jika seseorang berhasil untuk konsisten atau berkomitmen akan suatu hal, itu impactnya akan sangat luar biasa. Contoh sederhana. Gue punya kakak tingkat yang sangat konsisten dengan hobinya : travelling. Gue ngikutin perkembangannya dari awal, bagaimana dia membangun citra seorang "travel blogger" di sosial media. Dan itu dia mulai ketika telah banyak travel blogger di Indonesia. Sampai dia bisa sukses sampai sekarang ini.

    Ada beberapa point yang gue ambil dari contoh tadi. Pertama, kegigihan dan kerja keras. Kedua, pantang menyerah. Ketiga, yakin. Banyak sekali dari kita, termasuk gue, yang sangat susah untuk bisa konsisten akan suatu hal. Why??
    Dari contoh kakak tingkat gue tadi kita bisa liat. Memulai dari nol hingga kita bisa menikmati hasilnya itu gak gampang. Kita gak akan bisa konsisten kalau ketiga poin yang gue sebutkan tadi tidak bener-bener kita jalani (bisa saja poin itu sama sekali gak ada di diri kita). Coba kalau dia gak konsisten dari awal, gue yakin sampai saat ini gue liatnya "nothing". Banyak hal di sekeliling kita yang bisa kita jadiin contoh "akibat dari konsisten". Contohnya lagi "selebgram". Konsisten dalam hal konsep foto, feed, ootd, dan ciri khas.

    Sekarang gue mau bahas komitmen. Komitmen seringkali dikaitkan dalam "menjalani suatu hubungan", bukan menjalani suatu hal seperti hobi/kegemaran. Berkomitmen itu penting, biar gak terjadi ketimpangan. Menurut gue, komitmen dan konsisten itu gak jauh beda. Impactnya jika dijalani akan berpengaruh bagus buat kita. Tapi kalau dilihat dari segi perbedaan, komitmen itu lebih ke sebuah perjanjian bukan ke diri pribadi, tetapi lebih kepada perjanjian dengan orang lain.
    Continue Reading
    Sebagai anak perantauan yang tinggal di lingkungan dan culture yang berbeda (walaupun masih di negara yang sama), gue menemukan arti perbedaan yang lebih terasa. Kalau dulu sewaktu masih kuliah, perbedaan kultur gak begitu terasa. Karena masih sama-sama orang Minang. Disini gue dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat dengan kaum mayoritas "orang pulau Jawa". Ibarat pepatah Minang :

    Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang 

    Tanah kelahiran gue sangat bangga akan pepatah yang nilai-nilainya akan senantiasa mengikuti kemanapun kami merantau. Dua bulan gue berada dalam ruang lingkup "manusia hebat", terlepas dari sisi buruk yang gue temuin disini. Kalau bukan karena paksaan orangtua, gue gak bakalan bisa survive dengan baik di lingkungan baru. Karena adaptasi adalah masalah serius bagi penganut "kaum introvert". 

    Why I called "manusia hebat"???

    Petama, gue ditakdirkan untuk bertemu dengan para sarjana dari lulusan kampus terkenal. Dan semuanya berasal dari background Teknik/IT. Kedua, cara mereka berfikir. Gue bisa bahas apa aja dan sharing apa aja dengan mereka. Dan tentunya itu sangat bermanfaat bagi gue. Ketiga, mereka sama sekali tidak pelit "dengan ilmu". Ada kalanya pembicaraan kami sama sekali tidak berfaedah, tapi gue tetap bersyukur. Pembicaraan itu bukan lagi sedekar "ini gue". Tapi lebih kepada obrolan yang berfaedah. Dan mereka berperan penuh dalam ngebantu gue untuk bisa beradaptasi dengan baik. 


    Ini foto pertama yang diambil sebelum bootcamp berakhir. Gue masih inget ini kejadian sewaktu kami baru aja ditransfer uang transport hahaha. Ibarat uang gajian dalam angan. 


    Nah ini foto yang diambil secara diem-diem oleh trainer kami. Mungkin bisa dibilang ini foto kenangan yang gue punya selama kami mini project. Dan akan selamanya gue kenang karena disini disamping kami dituntut oleh berfikir lebih keras, banyak kejadian-kejadian lucu yang mungkin akan kembali terulang ketika placement berakhir.




    Last but not least, ini adalah foto setelah bootcamp berakhir dan kami akan mulai penempatan di beberapa projek untuk beberapa bulan kedepan. Gue bahagia bisa bertemu dengan kalian, terlepas dari bullyan yang kalian hadiahkan ke gue selama bootcamp. Akan gue kenang terus hahaha. Gue doain semoga beberapa tahun kedepan kita sudah sukses dengan job dan impian masing-masing. Amin.
    Continue Reading
    Kita lahir di negara yang mempunyai beragam suku bangsa, budaya yang begitu disenangi bahkan dicintai oleh masyarakat luar (ex Indonesia), beribu bahasa, ras and I am proud. Gue sebagai anak bangsa lahir dengan suku Mandailing (note: bukan Mandailing batak but Mandailing minang). Tepatnya gue "gadih minang" yang mempunyai sejuta mimpi..

    Oya ngomongin masalah bahasa khususnya logat, gue udah sering banged denger someone yang ngomong pake logat daerah mereka. Lucu but thats Indonesia. Negara lain gak punya tapi kita punya. Gue sering liat aktor/aktris wara wiri di tv, acting pake logat daerah mereka bahkan terkadang mereka dikasih tanggung jawab buat ngomong pake logat daerah lain. Tapi ada satu hal yang bikin gue kecewa. Kenapa setiap kali ada aktor/aktris yang meranin jadi orang "minang", mereka sama sekali tidak total bahkan gue sendiri malu denger mereka ngomong pake bahasa minang padahal mereka disuruh jadi orang minang (note: Padang). Tapi kenapa kalau pake logat daerah lain mereka bener2 acting total? Why??? Sesulit itukah??

    Itu case pertama. Case kedua, gue sering denger kalau orang Padang ngomong pake bahasa Indonesia, pasti belepotan. Is it true?? Dan parahnya paradigma seperti itu bertahan sampai sekarang. Disamping Sate Padang, Rendang dan Rumah Makan Padang yang terkenal seantero Indonesia tapi ada satu hal yang selalu jadi lelucon untuk kami : Bahasa. Gue sebagai pendatang baru di kota Metropolitan sering di interview oleh beberapa mas-mas gojek. Ketika di tengah percakapan, mereka nanya "kayanya mba bukan orang sini deh, logatnya beda". Dan itu benar, gue dengan bangganya pamer daerah gue. Bagi gue pertanyaan seperti itu masih wajar. Case ketiga. Nah ini yang pengen gue bahas..

    Mungkin lo bakal tau kegiatan gue sekarang apa, gue ngapain aja kalau lo baca post gue sebelumnya. Gue sebagai kaum minoritas, eits minoritas? Iya. Minoritas. Minoritas karena gue satu-satunya cewe, orang sumatera disini. Dan ruang lingkup gue adalah orang yang beneran asli di Pulau ini. Cewe dengan berkepribadian Introvert kayak gue, harus menyesuaikan diri walaupun itu sangat susah. Dua bulan gue ngejalani hidup disini dengan orang-orang baru. Enjoy but ada satu hal yang semakin lama gue semakin risih. 

    Gue mau nanya, kira-kira gimana perasaan lo ketika lo datang merantau dari daerah lain, dan lo ditertawakan karena perbedaan logat dan itu dijadikan jokes setiap hari? Awalnya its okay tapi lama-lama ngerasa risih gak sih? Apa perbedaan ini harus ditertawakan? Dan bahkan salah satu diantara mereka bilang gue baperan?? Oh God.. Gue pernah punya temen cewe, dia dijadiin jokes tiap hari dan dia ikut ketawa. Tapi suatu ketika dia marah besar karena dia sudah gak nyaman dengan jokes itu, gak nyaman karena dia dijadiin bahan candaan tiap hari dan dia bilang "tolong kalian kalau mau ngelucu jangan bawa2 gue, gue jg punya perasaan, jangan karena gue diem, karena gue tertawa kalian jadi seenaknya". Dan semua diam. 

    Sumber : pinterest

    Setiap orang punya sisi humor, gue pun juga. Mereka marah bukan karena mereka baper, tapi karena mereka juga punya batas kesabaran. Sesuatu yang bersifat kedaerahan itu sama sekali gak boleh dijadiin bahan candaan. Logat mereka, bahasa mereka, itu bagian dari adat yang ada di Indonesia. Masa mau ngetawain adat dan budaya sendiri?? Apakah itu yang dinamakan saling menghargai? Belajarlah untuk saling menghargai perbedaan karena di dunia ini tidak ada yang sama.
    Continue Reading
    Sumber : pinterest

    Di umur yang sudah memasuki kepala dua, rasanya tak ingin lagi bermain dengan hati. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa hal itu terlalu cepat, dan bahkan tak sedikit yang mencibir.

    "Lo mau ngapain umur segini udah mikirin hal begitu?"

    "Hey nikmati dulu masa mudamu"

    Dan kalimat tersotoy lainnya..

    Setiap orang mempunyai goals yang berbeda-beda, tujuan serta prinsip hidup yang jauh berbeda. Mungkin goals gue sekarang adalah "kerja-lanjut S2-kerja-nikah". Simple?? Tapi banyak cobaan. Gue yang terlahir tanpa kakak dan adik pastinya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar ketimbang mereka yang punya saudara kandung.

    "Kan enak jadi satu-satunya!"

    Enak? Iya. Kalau umur lo masih balita. Kalau udah diumur segini? Think again!! Harus siap dengan segala resiko. Mulai dari karir sampai ke "teman hidup". Bicara mengenai teman hidup, kita gak akan pernah tau "siapa sosok" yang akan berhasil membawa kita sampai ke tahap serius. Sekalipun itu "pacar". Godaan akan selalu ada. Balik lagi, harus siap dengan segala kemungkinan buruk terjadi. Ketika ada sesuatu hal yang mengganjal hati, seketika hati ingin berteriak sekencang, sekuat mungkin. But who's care??

    Bertindak masa bodo? Itu mudah. Tapi akan ada pemberontakan yang tak kuasa untuk dibendung. Mau disimpen, mau ditutup rapat-rapat tapi sewaktu-waktu akan jadi api dikala hati tak sanggup untuk menanggung. 
    Continue Reading
    Pengen ketawa aja sih kalau tiba-tiba ada orang yang sok bijak nanggepin cita-cita gue. Bijak dengan sok bijak itu bagi gue kerasa bedanya, lo gak bakalan bisa ngibulin gue. Trust it. Beberapa bulan yang lalu, gue lupa pastinya kapan, katakanlah seseorang ngechat gue dengan segala ke-sok-tahuannya tentang apa yang gue jalani.

    Everybody has a dream, mau mimpi itu dibentuk sejak kecil atau pas udah baligh, mau mimpi itu konsisten atau gak, itu hak pribadi setiap manusia yang masih punya napas. Same on me, gue punya mimpi yang udah gue bentuk sejak SMP. Gue sangat tergila-gila dengan dunia teknologi. Headlinenya begitu, tapi kalau digali lebih dalam lagi, teknologi gak ada habisnya. Dan sampai sekarang gue masih belajar. For example, I know "HTML" since Junior High School. Itu semua gara-gara blog kampret ini, disaat teman-teman gue baru belajar Ms Word, gue udah penasaran sama yang namanya HTML. Yang bikin gue sedih pada saat itu adalah nobody can teach me about that. Sekalipun guru gue. Internet pada saat itu belum kayak sekarang. Boro-boro nanya ke teman, guru aja gak bisa ngasih penjelasan ke gue. Gue baru belajar apa itu HTML pas udah kuliah. Alhamdulillah, sampai sekarang gue masih mencoba menggali lebih dalam. Itu salah satu upaya gue dalam mencintai teknologi.

    Berkaitan dengan gelar, cita-cita, pekerjaan, hobi, passion semua tak lepas dari IT/Techno. Bisa dibilang gue paling males belajar ilmu pasti kayak fisika, matematika ketimbang ilmu IT. Walaupun dalam dunia IT masih ada hitung-hitungan tapi gue enjoy. Gue bisa dibilang setengah anak IT, setengahnya lagi engineer. Pede banget ya gue ngomong tapi harus. Lo harus bisa memberikan "label" ke diri lo sendiri, lo harus yakin. Karena nantinya lo bakalan "ngejual label" lo sendiri ke depan HRD. Semasa kuliah gue mempelajari tiga hal berharga dalam hidup ini, Programming, Hardware like an Arduino (microcontroller), dan Jaringan. Tapi kalau ditanya tentang jaringan, gue kabur. Selepas kuliah gue harus ngejar cita-cita gue, mimpi-mimpi gue. Sebagai seorang "fresh graduate" sebenarnya gue agak gamang karena gue sama sekali gak punya pengalaman kerja ataupun magang. Cuma ngandalin skill tanpa portfolio, ijazah sama IPK. Apalagi gue cewek dan rata-rata lowongan buat para engineer kebanyakan diperuntukan untuk cowo. Kesal. Benar-benar kesal. Dan di saat sinilah si sok bijak datang menghampiri gue..

    Sumber : pinterest

    Jadi waktu itu gue lagi ngepost di WA skrinsut dari persyaratan pekerjaan untuk posisi engineer di salah satu perusahaan. Kalau untuk freshgrad kayak gue persyaratan itu emang berat banget. Nah kebetulan gue bikin keterangan begini "kira-kira kalau cewe yang apply diterima gak ya". Selesai. Gak sampe satu jam dia langsung komen status gue. Gue lupa isi chat pertama dia karena hati gue terlalu kesal, tapi yang gue tangkap inti dari chat dia yang panjangnya gak guna buat gue : "ngapain terlalu dikejar? Pekerjaan kan banyak, gak harus itu." Gue pengen ngakak, kayak gak punya tujuan banget sih hidup lo? Hey dont u have a dream?? Bagi gue mimpi dan cita-cita itu segalanya dan harus diperjuangin. Baru lulus kok udah nyerah pake ngasih nasehat lagi ke gue. Sotoy banget. Balik lagi ke kalimat gue yang tadi, setiap orang punya mimpi dan lo sama sekali gak berhak untuk sok tahu dengan mimpi mereka. Kita gak pernah tahu usaha apa yang udah mereka lakuin, pengorbanan apa saja yang mereka lakuin, we never know. 

    Jadi intinya jangan sok bijak dengan kehidupan seseorang.
    Continue Reading
    Haloooo selamat datang di blog gue *ala ala Yutuber gituch*
    Gue lupa kapan terakhir kali gue ngepost. Tapi sejatinya di postan gue kali ini ada kaitannya sama post gue yang sebelumnya soooooo jangan lupa mampir yau walaupu cuma sekedar baca judulnya doang :') cekidot 

    Tanggal 28 Juli tepatnya gue mendarat dengan selamat di bumi Indonesia ini, maksudnya di Jakarta. Mungkin bisa dibilang ini perjalanan gue yang tujuannya abu-abu banget. Why abu-abu? Kenapa gak putih?? Lha gue juga bingung. Gue mau curhat dikit, gak apa-apalah yaa kan toh ini blog gue (pengen nampol gak sih lu?) gue udah lama banget, gregetan pengen merantau. Dari dulu dari jaman SMP tapi kagak dibolehin dengan alasan mainstream mak gue : "the only one daughter". Gak perlu dijelasin lagi lu pasti paham. Suka duka jadi anak tunggal itu gimana. Gue persingkat, jadi karna abang gue udah merid (baca : sepupu) dan Alhamdulillah udah ada rumah juga, jadilah gue merantau. Kebetulan abang gue juga anak tunggal. Jadi ibaratnya yang gede berasa punya adek, yang kecil berasa punya kakak kandung. Kurang lebih begitu. Merantau itu ada enaknya dan ada nggaknya. Enaknya : "gue merdeka mau bangun jam berapapun". Gak enaknya : "diomelin terus". Simpel.

    Alasan gue merantau adalah bukan karena masalah mau bangun jam berapa, tapi karena mengejar "cita-cita". Gue yang dari orok sampai cukup umur ini always stay di tanah kelahiran gue : Padang. Dan gue sama skali belum pernah ngerasain ngerantau. Ngelakuin apa-apa sendirian. Belom! Mau apa-apa dianterin, pulang sama angkot ditelfon-telfon. Ribet. Tapi yang anehnya pas mau berangkat kesini gue ijinnya ke mak gue "pergi liburan". Bukan berangkat mau cari kerja. Termasuk ke kucing gue. Tapi gue serius lho, gue pergi kesini gue minta ijin sama kucing gue : Bimo a.k.a Momo and mak nye, Lulu. Bukan momo challange yang serem itu. "Cing lala pergi dulu ye" dan kucing gue diem (gak usah lu bayangin). Dan terakhir gue pamit berangkat samaaaaaaa............. myBF. Yaaaa begitulah. Gue tau curhatan gue ini gak guna sama lu tapi lu baca aja ya sedih gue gak ada yang baca.. hiks hiks


    Oya gue sempat bilang di kalimat sebelumnya di bait keberapa gue lupa, kalau perjalanannya ini tujuannya abu-abu. Jadi maksudnya gini. Jujur gue mengalami per-gejolak-an bathin sebelum bener-bener memutuskan untuk merantau. Disatu sisi mental gue siap kalau gue harus jauh dari mak babe, pacar dan kucing kesayangan gue. Tapi disatu sisi gue juga gak tega ninggalin mereka. Sementara itu gue kayak ngerasa kalau kesempatan gue buat ke Jakarta itu ya "sekarang". Untuk "cari kerja" walaupun pas nyampe sini gue gak tau sampai kapan gue harus nunggu. Semenjak lulus kuliah, gue udah drop CV ke puluhan PT, perusahaan. Mulai dari yang skala kecil sampai yang besar. Tetap aja gak direspon. Gue ngebet banget nih nyari Organisasi yang suka ngadain atau oprec jadi "volunteer" tapi gue gak nemuin disini. Gue ikutan jobfair nih, tapi kebanyakan disini mereka hire for akuntan atau manajemen. Mentok di perhotelan. Untuk lulusan kayak gue?? NO! Gak ada coy. Gue mau nyari pameran beasiswa nih, tapi disini lagi-lagi gue gak nemuin hal berbau seperti itu. Solusinya apa?? Ya merantau, ke Jakarta. Gue gak tau apa gue yang minim informasi atau gimana, tapi sejauh ini gue gak nemu apa yang gue butuhin. Lingkaran pertemanan gue juga gak begitu mendukung. Gue pernah ngajak beberapa orang/teman untuk bikin sebuah mini startup kos-kosan tapi yaaaa gak nemu titik terang, Istilahanya begitu. Gue belum nemuin orang yang bener-bener punya antusias yang begitu tinggi dengan IT khususnya software. Gue kecewa. Gue marah sama diri sendiri. Kenapa gue gagal di terima di PTN terkenal? Kalau keterima kan otomatis lingkaran pertemanan gue berubah. Untuk itu gue ijin ke mak gue kalau gue mau pergi liburan. Jadi kesannya itu "gue pergi mau refreshing otak", senang2 jadi mak dan babe gak terlalu jadi beban buat ngijinin gue.

    Jadi intinya lo harus berkorban demi sesuatu dan harus yakin. Segala usaha dan doa serta restu dari kedua orangtua itu yang terpenting. Ingat, hidup ini cuma sekali. Jadi nikmati, kejar impian lo. Lo mau jadi traveller atau fotografer? Its ok, asal fokus dan bisa jadiin itu job dream lo. Bukan sekedar hura-hura gak jelas. Mau jadi pelawak? Why not?? Toh banyak kok orang yang sukses dengan job tersebut. Dan tentunya semua pekerjaan itu butuh pengorbanan bukan? 

    Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

    Bersama kesulitan akan ada kemudahan.

    Akan ada pelangi setelah hujan.

    Allah SWT akan memberikan sesuatu sesuai dengan prasangka hambaNya.

    Oke, semoga kebacotan gue bermanfaat..
    Continue Reading
    Hari ini aku membawa setumpuk pekerjaan yang akan menjadi bunga tidur ku malam ini. Deadline yang menghampiri beberapa jam berikutnya sudah cukup membuat fikiran ini lelah.
    Aku beruntung di sela kepenatanku, setetes air turun membahasi bumi pertiwi dan membasahi jalanan yang senantiasa menjadi saksi biksu perjuanganku demi mengais rezeki. 
    Hujan kali ini sedikit memberikan ketenangan untukku ketika diriku muak dengan permasalahan yang ada.

    Alunan musik itu kini menemani sisa-sisa perjalananku di malam hari. Kaca yang biasanya dihinggapi seonggok debu, kini betap indahnya diukir oleh tetesan air. Aku sengaja duduk di tepi kaca, merenungi, meratapi di sudut diamku. Tuhan begitu indah nikmatmu. Begitu indah pemandangan di hadapanku, sebuah pemandangan yang sama sekali tak ingin kau lihat di saat teriknya matahari.
    Tetesan air hujan juga turut membiaskan pesonanya pada lampu-lampu mobil. Alangkah cantiknya. Ku terbuai dengan suasana ini. Aspal yang dipenuhi mesin-mesin beroda. 
    Ku terlelap.. 
    Dalam..
    Continue Reading
    Its my first post since 2018.. Yeup! Akhirnya gue bisa kembali dengan selamat setelah berjuang selama 4,5 bulan dengan dunia perskripsian. Alhamdulillah gue lulus *sujudsyukur*
    Hari ini gue pengen ngebahas pentingnya organisasi dan kegiatan volunteer semasa dunia perkuliahan. 


    Jujur dari dulu gue jarang aktif di kegiatan organisasi sejak SMP. Bukan berarti gue orangnya anti sosial tapi gue masih ingat waktu kelas 8 SMP gue sempat dicalonkan jadi ketua OSIS dan gue tolak! Gak yakin juga sih bakalan menang hahaha *ehh tapi serius, gue nolak bukannya gue sok tapi alasan klasik gue waktu itu karena gue takut ngemban amanat, gue takut OSIS ditangan gue ancur. Lanjut ke SMA (ceritanya ngebut aje yee). Pas SMA baru gue kumpulin niat buat masuk jadi anggota OSIS, tapi sayang tinggal kenangan. Hiks.. Disaat itu gue lebih memilih bergabung dalam kegiatan KIR yaitu Karya Ilmiah Remaja. Yaitu sebuah ekstrakurikuler yang diperuntukan buat mereka yang hobi dengan dunia jurnalistik. Alasan gue gabung karena gue menyukai dunia jurnalistik setidaknya gue suka nulis dan baca. Alhamdulillah ditahun kedua gue bergabung di KIR, gue dipercayakan buat jadi ketua sampai gue tamat dari SMA.

    Setelah menjalani wajib sekolah 12 tahun, gue memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Disaat kuliah gue nemuin beragam organisasi tapi satu yang jadi incaran gue, yaitu BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Sebenarnya banyak organisasi lain yang menarik perhatian gue tapi saat itu gue lebih memilih untuk fokus di satu organisasi aja. Dan lagi2 itu semua tinggal kenangan. Masa kuliah gue ditahun pertama gue habiskan dengan belajar dan kongkow bareng teman2. Yap! Gue gak jadi join ke BEM karena dengan satu alasan, MALAS! Gue malas harus pergi ke stand buat daftar apalagi gue belum terbiasa dengan keberadaan senior. Ditahun kedua, gue nyoba untuk gabung di organisasi jurusan yaitu IMATekKom (Ikatan Mahasiswa Teknik Komputer). Saat itu gue kebagian jadi anggota divisi HUMAS. Namanya aja yang anggota tapi pada saat acara (organisasi ini selalu ngadain acara kemah bakti setiap tahun ajaran baru), gue ditunjuk jadi ketua dari salah satu kelompok peserta. Gue masih ingat waktu itu yang jadi peserta adalah mahasiswa tahun baru. Gue ditugasin buat ngawasin mereka selama acara.

    Selesai KBM, gue berniat untuk gabung di organisasi Cyber Netix yaitu organisasi yang bergerak dalam bidang IT. Tapi gue harus rela gak daftar karena saat itu bertepatan dengan dibukanya pendaftaran untuk jadi Asisten Labor. Salah satu syarat pendaftarannya ialah tidak boleh mengikuti satupun organisasi. Jadi gue lebih milih untuk daftar jadi aslab walaupun pada akhirnya gue gagal di tes wawancara. Hiks.. Jadi kesimpulannya selama kuliah gue tidak aktif dalam kegiatan organisasi maupun kegiatan lainnya karena bagi gue itu sama sekali tidak penting. Tapi ternyata opini gue salah. Ada suatu penyesalan di dalam diri gue kenapa gue gak terlalu mentingin organisasi.

    Bisa dikatakan gue termasuk orang yang ketinggalan informasi, gue terjebak dalam ruang lingkup pertemanan yang rata2 emang gak peduli dengan organisasi dan kegiatan lainnya semacam volunteer. Gue terjebak didalam pertemanan yang mana mereka hanya peduli dengan pendidikan. Ternyata main gue kurang jauh. Sebenarnya gue gak nyalahin mereka tapi gue menyalahkan diri gue sendiri. Kenapa gue baru sadar di akhir dan kenapa selama ini gue selalu stuck dalam kegiatan yang sama. Tidak mempunyai pengalaman yang begitu berarti. Ohya buat kalian yang baca tulisan gue dan sedang menempuh pendidikan entah itu SMP, SMA/SMK, ataupun kuliah, jangan ditiru yah. Organisasi itu penting apalagi kegiatan volunteer. Dua kegiatan itu melatih kemampuan kalian dalam hal kepemimpinan, pola pikir, bagaimana kalian bekerja dalam team, kemampuan problem solving. Karena rata2 dunia kerja maupun penyelenggara beasiswa tidak hanya membutuhkan kandidat yang bagus dalam bidang akademik, tapi juga membutuhkan mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus. Dan itu bisa kalian latih selama berorganisasi. Bentuk kepedulian dan pengabdian yang telah kalian lakukan buat suatu daerah, bisa kalian buktikan dengan kegiatan volunteer.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ►  2022 (1)
      • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ▼  2018 (13)
      • ▼  Desember 2018 (2)
        • Knowledge Based on Hijab
        • Sholat Bagaikan Jin Terbang
      • ►  November 2018 (3)
        • Got a Different Response
        • [Tutorial] Cara Mengganti Template Default Blog
        • Meet with A Good Thinking Person
      • ►  Oktober 2018 (3)
        • Konsisten vs Komitmen
        • Bahagia itu Sederhana
        • Eh Kok Baper?
      • ►  September 2018 (1)
        • Ketika Hati Ingin Bicara
      • ►  Agustus 2018 (3)
        • Whats a Job? Is it a Joke?
        • Ketika Gadis Minang Bercerita
        • Lelah Menyelimuti
      • ►  Februari 2018 (1)
        • Organisasi & Volunteer
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top