Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak

    Welcome to 2019!!!!! Yipiiiii....... Antara senang dan sedih karena di tahun ini umur gue bakal berkurang lagi. But its ok selagi gue masih diberi kesempatan buat nulis artikel gak jelas di blog ini, kali aja di 2019 traffik blog gue naik Amin. How are you gaes and whats your resolution???

    Di tahun ini gue mencoba untuk keep active buat nulis lagi dan semoga terealisasikan. Walaupun yang baca belum banyak tapi gue yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil. Pembuka tahun ini gue mencoba untuk mereview salah satu skincare kecintaan para kaum hawa di tahun sebelumnya. Agak telat sih sebenernya, kenapa gue baru ngereview sekarang, tapi yah semoga saja ulasan gue membantu kalian yang baru akan mencoba skincare yang satu ini di tahun sekarang.

    Note :
    "Gue bukan seorang profesional dan ahli dalam bidang kecantikan dan mengerti serta paham dengan komposisi suatu produk skincare. Disini gue hanya mencoba ngeshare pengalaman gue selama memakai produk ini dengan bahasa gue sendiri."

    So let talk about this !!!!!!!!!!!!!

    Packaging
    Kalau ngomongin soal packaging, kayaknya dari foto diatas sudah cukup menggambarkan hahaha.. Kemasannya gede banget sumpah, baru kali ini gue nemuin produk skincare yang kemasannya seperti ini (bego banget gue).


    Ini barusan gue foto tadi di halaman depan rumah dan seperti kalian liat kemasannya sangat tidak travel friendly. Bukan menjelekan tapi memang begitulah adanya. Memakan banyak tempat. Jadi saran gue kalau kalian mau nginep dirumah teman atau mau travelling dan pengen bawa produk satu ini, mending kalian pindahin beberapa lembar sesuai kebutuhan ke dalam jar.

    Kemasan ini bukan terbuat dari kaca, tetapi lebih kayak plastik tebal. Tutupnya pun juga tebal, ada sekitar beberapa inch (gue males ngukur haha). Dan tentunya transaparan. Lu bisa liat sendiri isi dari produk ini terpampang nyata dan sangat memanjakan kulit. Sesuai dengan variannya, Lemon jadi background tulisannya juga dibikin warna kuning. Ini yang gue suka, desainnya gak ribet. Dibagian belakang kemasan, ada penjelasan mengenai Neogen Dermalogy dan cara pemakaian. Tapi tulisannya gak bisa gue baca dengan jelas karena berwarna putih. Sedangkan dibagian bawah kemasan ada informasi mengenai tahun expired produk.


    Seperti gambar diatas, ketika kalian pertama kali bukak si produk ini, kalian tidak akan langsung meliat isinya, melainkan ada plastik pelindung semacam aluminium foil gitu untuk melindungi isi produk. Menurut gue ini salah satu upaya si Neogen untuk ngelindungi isi produknya. Gue sendiri gak ngebuka keseluruhan plastik pelindung, tujuannya ya itu agar isi produk tetap terjaga. Setelah itu, baru dah keliatan isi yang sesungguhnya yaitu "lembaran-lembaran eksfoliasi berwarna kuning nan menyejukan kulit" berjumlah 30 buah.

    Tesktur
    Urusan packaging selesai, sekarang gue mau ngebahas dari segi tekstur. Produk ini termasuk golongan produk eksfoliasi yang unik. Kenapa? Karena ia tidak berbentuk eksfoliate toner (cair) ataupun scrub (padat) yang seperti biasa lo temuin. Produk eksfoliate dari Neogen ini berbentuk lembaran yang telah direndam dalam cairan essence (menurut yang gue baca dari berbagai sumber). Terdapat dua sisi dalam lembaran tersebut.

    Sisi Pertama : Bagian Kasar

    Sisi ini merupakan sisi kasar yang pertama kali digunakan dalam aktifitas eksfoliate kulit. Walaupun permukaannya kasar tapi Insha Allah masih nyaman digunakan untuk pemilik kulit kering. Asal ketika digunakan tidak ditekan terlalu keras. Permukaan yang kasar ini digunakan untuk mengangkat sel-sel kulit mati dan sebisa mungkin ketika pemakaian hindari kulit yang sedang berjerawat atau ditepuk-tepuk saja (agar cairannya tetap mengenai jerawat). 

    Sisi Kedua : Bagian Lembut

    Sisi kedua ini berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang telah terangkat. Bagian ini super lembut dan tentunya menenangkan kulit.

    Cara Pemakaian versi Gue
    Oya jeng gue make si neogen ini every two day in a week (eh bener gak sih englishnya gitu?)
    Karena ini eksfoliator jadi makenya jangan tiap hari bisa-bisa jadi rapuh kulit lo hueheh. Step pertama yang harus lo perhatiin adalah PASTIIN WAJAH DALAM KEADAAN NO MAKEUP alias bersih. Kalau bisa double cleansing (khusus yang make makeup lengkap). Kalau yang cuma make bedak/BB cream/two way cake dan lipstik sih gak apa-apa cuma satu kali cleansing tapi itu kembali ke kalian.

    Setelah bersihin muka, tepuk-tepuk muka dengan lembut menggunakan handuk (jangan pernah mengeringkan muka dengan cara digosok pake handuk!). Pastiin muka lo dalam keadaan kering. Lalu ambillah satu lembar neogen dan gunakan sisi kasar pertama kali, gosok di seluruh permukaan wajah, hindari daerah berjerawat (atau neogennya ditepuk-tepuk aja ke bagian yang berjerawat) dan jangan digosok kuat-kuat. Lakukan step tersebut selama kurang lebih 10 menit.

    Biasanya setelah step ini, gue diemin dulu beberapa menit biar cairan si neogen bener-bener nyerap dan pijat lembut wajah. Setelah itu, gunakan sisi neogen yang terakhir yaitu bagian sisi lembut. Ini akan membantu mengangkat sel-sel kulit mati yang sudah dikikis oleh sisi kasar. Pada step ini, lo boleh menggosokan ke bagian yang berjerawat karena permukaannya yang lembut sehingga tidak akan terjadi kontraksi. Eh maksud gue iritasi (maafkan sodara-sodara). Lakukan selama kurang lebih 10 menit (sampai tangan pegal juga gak apa-apa). Setelah itu biarkan kira-kira 2 menit dan bilas dengan air hangat. Why??

    Gue telah mencoba membilas wajah gue pake air hangat dan air biasa setelah melakukan kegiatan eksfoliating dengan neogen dan kesimpulannya :
    Dengan air biasa
    Gue ngerasa kulit gue gak ngerasain perubahan yang begitu kentara. Bagian kening gue yang rentan dengan jerawat juga agak kering. Dan tidak ada efek menyegarkan setelah dibilas dengan air biasa.
    Dengan air hangat
    Tapi yang anehnya ketika gue mencoba bilas pake air hangat, gue ngerasa efek menyegarkannya ada dan ngerasain hasil serta manfaat si neogen ini di wajah gue. Biasanya setelah bilas muka (after exfoliating), gue ngebiarin muka gue kering dengan sendirinya. Dan setelah kering muka gue juga lebih cerah dan perlahan tekstur kulit wajah juga membaik, result seperti ini gue dapatkan setelah ngebilas pake air hangat.

    So, gue menyarankan ke kalian agar membilas pake air hangat. Gue gak tau ini ada magis apa dan gue juga gak tau kalimat gue ini bener atau gak, gue cuma menyimpulkan dengan kebodohan gue sendiri. And the last, lo pakein skincare yang sama sekali gak bikin kulit wajah lo kering setelah eksfoliasi. Entah itu night cream atau mouisturizer atau serum, its up to you. Intinya jangan sampai lo pake bahan yang kontradiktif dengan neogen yang versi Lemon ini. Bisa-bisa efek dari neogen ini malah gaada hasilnya di kulit lo.

    I SUGGEST TO YOU............
    1. Pakenya minimal dua kali seminggu dan maksimal 3x (jangan keseringan)
    2. Dipakenya lebih baik di malam hari
    3. Sebelum make ini pastiin wajah bener2 BERSIH
    4. Kalau lo pengen make dua atau tiga macam eksfoliator dalam seminggu, nah si neogen ini cukup satu kali atau maksimal dua kali dan beri jarak hari pemakaian untuk eksfoliasi.
    Contoh :
    Day 1 : Neogen
    Day 3 : Scrub
    Day 5 : AHA/BHA Clarifying Toner
    Day 7 : Neogen
    atau
    Day 1 : Neogen
    Day 4 : Scrub
    Day 7 : Neogen
    5. Jangan lupa make sesuatu yang melembapkan kulit lo setelah eksfoliasi

    Kesimpulan
    Berdasarkan paparan gue diatas, kesimpulan dan informasi yang bisa gue beri :
    Positive Value :
    - Wanginya enak
    - Lembarannya gede jadi lebihnya bisa buat siku tangan dan kaki, tumit dan bagian kering lainnya hehe
    - Isi banyak dan tentunya hemat

    Negative Value :
    - Kemasan gede banged yaampun
    - Harga mahal tapi worth dengan manfaat yang diberikan
    - Ada alkohol
    - Kalau mau beli produk ini, beli di onlineshop aja yaa (setau gue belum ada di Century, Watson, ataupun Guardian. Storenya juga gaada di Indo. Setau gue yaa jeng)

    Price : 210K s/d 320K
    Where to Buy : on Shopee
    Recommended? : YES!!!!!

    Oke sekian review gue kali ini, semoga membantu *pelukgampar*
    Continue Reading
    Sebuah stigma, perbedaan, pemahaman konsep, pikiran, skeptis, sudut pandang yang dinilai berdasarkan penampilan. Headline postingan gue kali ini.

    Ingatan gue masih segar walaupun judul ini telah berdebu di draft blog, tepatnya dibuat pada saat hari Maulid Nabi. Sebenernya gue gak pengen bahas topik yang beginian tapi lama-lama merasa risih juga kalau semuanya dikaitkan dengan penampilan. Tepat pada tanggal 20 November 2018, temen-temen gue rame banget membahas masalah hukum perayaan Maulid Nabi dalam Islam dan rata-rata para penganut hijab dalam yang berkicau seperti ini. Termasuk temen gue yang sebentar lagi menuju tahap hijab dalam a.k.a hijab syar'i. Tapi kok kesannya gue benci banget yak dengan "hijab syar'i"? Bukan. Bukan seperti itu gaes. Jadi simak ocehan gue berikut ini.

    Gue tipikal orang yang senang baca, dari kecil sampai sekarang. Selain majalah Bobo gue juga seneng banget baca majalah Hidayah (yang cover depannya bikin orang mau tobat saat itu juga). Yup, dua majalah itu merupakan majalah favorit gue waktu kecil. Dalam artian kalau bacaan seperti itu telah menjadi makanan gue. Kalau dipikir-pikir gue ngerasa kalau apa yang gue baca bukan diperuntukan untuk anak SD, terlalu berat dan terlalu nyeremin (lu bakal tau kalau pernah baca majalah Hidayah). Kesimpulannya gue telah tertarik dengan hukum-hukum Islam, sejarah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama gue. Sedikit banyaknya gue telah mengetahui dari buku-buku yang telah gue baca dan pencerahan dari bokap. Kenapa gue gak jadi ustadzah aja? Karena gue berpikir itu adalah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan, bayangin kalau ilmu lu masih dangkal dan lu dengan pedenya nyebarin hal minim yang lu tau tanpa mendalami dan mereka pada percaya dengan yang lu omongin dan ngikutin apa kata lu. Jika yang lu katakan masih jauh dari kata baik, dosa mereka siapa yang nanggung? Ya kita. Nah itu jawabannya.

    Sekarang mari kita hubungkan dengan soal penampilan. Adakah hukum alam yang menulis bahwa jika penampilan seseorang yang terlihat goblok bakal merepresentasikan ilmu yang ia miliki? No! Bagi gue hal seperti itu tidak ada. Sama sekali tidak ada. Adakah yang menjamin seorang professor memiliki ilmu yang sempurna? No! Tidak ada yang bisa menjamin. Lantas mengapa pengetahuan seseorang diukur berdasarkan penampilan?? Sama kasusnya seperti yang gue alami. Jadi mengenai perayaan Maulid Nabi, karena gatal akhirnya gue ngepost salah satu hukum perayaan Maulid Nabi dalam Islam lewat instastory gue (soalnya waktu itu rame yang protes kenapa perayaan Maulid Nabi dilarang). Dan story gue direspon oleh salah satu temen yang bisa dikatakan dia.................... sering nongkrong di Masjid. Ibaratnya dia terlihat dari luar sebagai seseorang yang agamis. Nah gue yang bukan pengguna hijab syar'i terkadang masih buka lepas hijab (cuma dirumah dan sekitaran kompleks), seperti tidak punya hak untuk menyampaikan pendapat gue hanya karena penampilan. Apakah penampilan agamis akan menjamin tingkatan iman dan pengetahuan seseorang? Apakah orang seperti itu berhak menjudge mereka yang tidak agamis? Seperti gue??

    Belajarlah untuk menghargai seseorang bukan dari penampilan. Hal bodoh semacam itu telah mendarah daging bagi sebagian orang. Tak hanya penampilan, berdasarkan jenis pekerjaan juga termasuk. Intinya tidak ada gunanya membedakan seseorang berdasarkan tampilan luar karena lu gak tau sesungguhnya apa yang ada dibalik otak mereka.


    Continue Reading
    Halloooo.. 
    Udah lama gue gak posting sesuatu yang gak jelas lagi. Apa kabar readers? Yahhh walaupun gue gak tau kalian menantikan omelan gue atau gak atau bahkan ada yang berharap gue gak nongol lagi? Hahahah. Bukan karena gak punya ide atau opini yang mengakibatkan tak ada satupun artikel yang gue posting tiga minggu belakang. Tapi entah kenapa tiga kali weekend berturut-turut gue males banget bukak laptop. Tapi kan bisa lewat hp?? Betullllll tapi ya balik ke draft doang pfft..

    Oya mengenai judul postan gue kali ini, mungkin kalian yang baca agak sedikit bingung. Sama. Gue juga lebih bingung. Bingung kenapa gue selalu nemuin orang yang sholat secepat kilat!!! Woi itu lo baca apaan? Komat kamit doang? Gue baru baca Al-Fatihah lu udah rukuk, lu baca apan njirrr?? Kesellll gue!!!!!! (sorry ngegas). Tolong beri gue pencerahan arti Sholat sebenarnya apa. Gue gak butuh google tapi gue butuh jawaban dari kalian yang Sholat bagai Jin terbang.

    Lalu ada suara.... Dan makian kayak gini

    "Emang situ udah bener?"

    "Sok alim lo!"

    "Urusan sama lo apa ya?"

    "Terserah gue dong, emang kalo gue salah situ yang bakal nanggung dosa gue?"

    Dan kalimat lainnya.

    Memang bukan urusan gue tapi gue risih.

    "Yauda lu Sholat aja sendiri di ruang tertutup. Jauh2 sana kayak udah bener aja!"

    Pfft. Pengen ketawa kalau ada yang ngomong kek gitu. Jadi gini ya, dosa kita itu udah banyak. Baik yang disadari maupun gak disadari. Emang mau nambah dosa lagi? Melalui Sholat kita berkomunikasi dengan Tuhan kita, Allah SWT (bagi yang muslim). Melalui Sholat, kita bisa menumpahkan seluruh keluh kesah kita. Kalau Sholat kita masih belum bener, apa akan diterima? Nabi atau sahabat Nabi aja yang sudah teruji ketakwaannya, yang sudah bener wudhu dan Sholatnya masih khawatir kalau Sholatnya gak diterima. Bahkan sampai diulang2 karena saking takutnya gak keterima. Lantas kita yang umat bodoh yang tersisa ini dengan pedenya Sholat dengan seperti itu? Gerakan Sholat ataupun bacaannya?? Setidaknya perbaiki Sholat kita. Jangan di kritik lantas marah. Gue juga sadar Sholat gue masih berantakan tapi setidaknya gue betul2 baca bacaan Sholat dengan jelas tanpa tergesa-gesa kayak Jin terbang.

    Nah sekarang masih mau maki-maki gue?

    "Kayak ustadzah aja lo nyet!"

    Oke. Terserah. Nah terus, bacaan Sholat itu semuanya dari bahasa arab. Punya tajwid, ada yang harus dipanjangkan ketika pelafazan ataupun dipendekan atau didengungkan. Salah baca saja sudah memiliki makna lain. Nah ini, lu baca kayak gimana sih tong? Bahkan ada yang selama Sholat bibirnya dieeeemmmm aja. Dan bahkan ada yang jujur ke gue kalau selama ini dia Sholat karena terpaksa. Astaghfirullah. Lu minta surat pengunduran diri buat hidup aja deh ya.
    Jadi intinya disini gue bukan karena sok tau tapi gue risih. Kita sama2 instropeksi diri aja, setidaknya mulai dari kewajiban kita dulu. Gue juga gak sempurna, ibadah gue juga belum sempurna. Sorry di postingan ini gue agak sedikit ngegas, yahh mudah-mudahan ada hikmahnya. Tengs buat yang sudah berkenan baca. Bye..
    Continue Reading
    Have you ever felt this before??

    Okay let's talk about that..

    Selama ini kita melihat begitu banyak perbedaan yang terjadi di sekitar kita. Bahkan sedari dulu perbedaan ini telah ada. Status sosial, ras, agama, suku, bangsa. Seringkali menjadi faktor utama akan perbedaan. Tapi di postingan kali ini gue akan melupakan faktor tersebut sejenak dan mencoba membahas faktor lain.

    Begitu banyak sosial media bermunculan dari tahun ke tahun. Ada yang bertahan dan ada yang "tumbang". Haha lucu memang mengingat persaingan para developer. Unjuk jari diantara barisan code. Unjuk jari dibelakang layar. Tetapi apa yang ditampilkan didepan seringkali palsu dan terkesan munafik. Semua orang bisa memainkan semua karakter. Tak jarang juga berakhir dengan kebencian. Gue bukanlah seorang pengguna sosial media yang gila. Its still to be a normal. Tapi bisa jadi gue seorang pengamat sosial media. Yah maybe. Mengamati perilaku dan kepalsuan disana. 

    Sebuah kepribadian yang terbentuk dari dulu tanpa kalian menginginkan hal itu dan tumbuh pesat di lingkungan yang "aneh". Satu tahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun terjebak dalam pertemanan yang sama sekali tidak -bersahabat. Dan pada suatu saat kalian ingin keluar dari lingkungan tersebut. Dan berharap hari itu tak lagi datang. Berat memang untuk seorang manusia Introvert. Mereka acapkali disebut sebagai kaum anti sosial. Padahal kenyataannya bukanlah seperti itu. Mereka hanya ingin menikmati hari mereka, hanya ingin memiliki kualitas waktu serta hidup dengan dirinya sendiri. Tak mudah bagi seorang Introvert. 

    "Pembuktian apapun yang kau lakukan tak akan berarti jika mereka telah membangun benteng dan menggunakan topeng supaya bayanganmu tidak masuk"

    Kini jeratan itu telah lepas, tetapi kepribadian itu telah tertanam jauh ketika memutuskan untuk bergabung ke dalam sosial media. Dimana notabene disanalah tipu muslihat berkumpul. Kepalsuan dan tidak adanya pengakuan berkumpul. Tarik ulur seringkali terjadi. Apapun yang dilakukan hanyalah sepotong layar yang pengendalinya ingin eksis.  But who's care?? Nothing. Sedih gak? Ah itu sudah tidak penting lagi. Hati gue sudah terlanjur kuat karena tempaan yang dulu senantiasa menghiasi hidup. Dari sini gue berpikir, mindset seseorang tidak akan berubah jika pikiran itu telah buruk. Terlalu banyak zat kimia berbahaya. Mau jungkir balik pun tidak akan ada yang peduli,

    Sekarang mari kita pergi dari tempat terkutuk itu.
    Beranjak ke tempat dimana roda itu telah membawamu ke tempat yang baik. Tidak ada lagi kepalsuan disana, yang ada hanyalah kehidupan yang sesungguhnya. Disana, di dunia maya sana gue gak menemukan pasukan alay. Pemakai media sosial yang menggunakan otak dan skill. Lebay? Tapi ini kenyataan. Apa yang gue sharing, apa yang gue tulis mendapatkan respon yang positif. Jangan ngomong jabatan, mereka orang berpangkat tetapi bisa menghargai tulisan bodoh gue. Sekarang pertanyaan bodoh itu muncul "apa kita harus pergi ke dunia dimana tak seorangpun mengenalimu dan kau bisa dengan sesuka hati menunjukan dirimu tanpa kau harus malu untuk diabaikan??" dan gue merasakannya sendiri. 

    Lingkungan, who's behind you, merupakan faktor untuk menentukan kebahagiaanmu. Dari sini gue belajar bahwa pembuktian apapun yang kau lakukan tak akan berarti jika mereka telah membangun benteng dan menggunakan topeng supaya bayanganmu tidak masuk. 
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Desember 2022 (1)
        • Sebenarnya Disiplin itu Apa?
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top