Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Udah lama nih gak nulis. Bukan karena hobi ini sudah tergantikan, cuma lagi pindah platform saja hehehe. Jadi ditulisan kali ini gue pengen membahas tentang satu buah webtoon. Tulisan ini bisa jadi terlihat seperti review sebuah komik, atau sebuah sudut pandang pembaca yang suka rebahan kayak gue. Ya itu balik lagi ke perspektif kalian.

    Judul webtoon yang pengen gue bahas kali ini adalah : KILL STAGRAM.

    Gue gak akan ngebahas authornya siapa ya. Bagi yang kepo, langsung saja googling. Kenapa webtoon ini? Ada apa dengan webtoon ini? Jadi alasan gue pengen banget ngebahas komik ini adalah karena ceritanya related dengan kehidupan kita sehari-hari. Komik ini tidak hanya sekedar komik tentang cinta-cintaan, manusia ganteng atau cantik, tonjok-tonjokan, bukan. Banyak sekali pembelajaran yang bisa dipetik dari komik ini. FYI, komik ini sebenarnya sudah tamat, tepatnya tanggal 22 Februari 2020. Kalau di Indonesia, tapi untuk versi navernya, gue gak tau komik ini kapan tamatnya. Karena memang di negara asalnya, komik ini di protect. Gue gak tau gimana caranya buat akses komik yang diproteksi di naver. Berhasil bikin akun saja sudah syukur hahaha..

    Sekilas tentang webtoon ini, sebelum masuk ke intinya. Komik ini bercerita tentang seorang cewe yang katakanlah, seorang selebgram dan memiliki seorang sahabat. Yang namanya selebgram yak, apa-apa di update. Si main character ini (MC), tiap update poto selalu tag lokasi atau ngasih hashtag yang berhubungan dengan poto yang dia posting ke akun Instagramnya. Sahabatnya sudah mewanti-wanti agar berhati-hati dalam memberikan informasi tentang dia di sosial media dan bijak menggunakan sosial media. Tapi si MC ini tidak menghiraukan nasehat sahabatnya. Pada akhirnya hashtag tersebut yang membuatnya hampir mati, ya walaupun endingnya dia bunuh diri.


    Oke lanjut.

    TERLALU MENGUMBAR KEHIDUPAN PRIBADI

    Seperti yang udah gue sebutkan diatas. Bisa kita lihat, di sosial media khususnya Instagram, kita semua seolah telah di-doktrin untuk selalu mengupdate apapun ke dunia maya. Lagi minum apa, lagi makan apa, lagi nongkrong dimana, habis beli apa, dan kegiatan-kegiatan personal lainnya. Gue pun terkadang juga gitu. Apalagi kalau lagi di tempat berkelas, cafe yang high-end misalkan. Atau lagi plesiran ke luar negeri. Tak lupa untuk tag lokasi. Semacam ada suatu kebanggan ketika telah mempublikasikan hal itu.

    Yes itu memang hak orang, bagaimana dia menggunakan sosial media. Tapi ada satu hal yang membuat kita lupa, bahwa diri sendiri juga butuh privasi. Hanya demi eksis, terlihat keren, up to date kita malah mengesampingkan privasi. Terlalu terpapar dengan sosial media juga tidak baik. Karena ia turut memberikan andil dalam mengubah kepribadian seseorang. 

    Apa dampaknya jika terlalu mengumbar hal yang ada dalam kehidupan kita? Wah banyak banget. Tak terhitung. Tapi di komik ini, lebih menyoroti kejahatan yang ditimbulkan dengan sikap kita tadi. Yakin semua orang sayang dan suka dengan kita? Yakin gak ada orang mau berniat jahat dengan kita? Hoho tidak semudah itu. Kita tidak pernah tau apa dampak yang ditimbulkan oleh perlakuan kita ke orang lain. Apakah itu baik atau buruk. Pernah denger kasus kan tentang satu keluarga dibunuh karena ada dendam yang tidak tersampaikan? Control your finger and your life. Hashtag-mu bisa jadi jalan pintas bagi seseorang untuk menguntitmu dengan mudah. 

    STOP BODY SHAMING dan BULLYING

    Haduhh tak terhitung sudah berapa banyak mulut yang berbicara dan menyuarakan "STOP BODY SHAMING dan BULLYING", tapi masih adaaaaa saja yang tetap melakukan. Sedih dan miris. Padahal udah banyak banget banget yang jadi korban perundungan bunuh diri. Faedahnya apa sih ngebully orang? Berasa keren dan berkuasa gitu? 

    Di komik ini tidak hanya menceritakan tentang si tokoh utama alias Remi yang suka ngasih hashtag dan memberi tahu orang dia lagi dimana, secara tidak langsung. Komik ini juga menceritakan tentang dampak fatal perundungan yang dialami oleh Doyeon a.k.a Doha. 


    Kalian pasti tau kan standar kecantikan di Korea? Lihat saja idol-idol mereka, ya seperti itulah kecantikan yang ditonjolkan ke publik. Tak sedikit orang yang kemudian menjadi terobsesi ingin memiliki kecantikan standar Korea. Gue pernah baca beberapa komentar, jika netizen Korea itu suka ngebully seseorang yang -tidak memenuhi- standar kecantikan di negara mereka. Kejadian itulah yang di angkat ke dalam komik ini. 

    Doyeon seorang siswi jurusan kecantikan, memiliki paras yang tidak sesuai dengan standar mereka. Operasi plastik adalah sesuatu hal yang lumrah dilakukan disana dan karena tidak tahan dibully, ia memutuskan untuk melakukan operasi plastik, dengan membawa sebuah ekspetasi. Nah si Doyeon ini melakukan operasi plastik di klinik kecantikan tempat si Remi kerja. Ketika di ruang operasi pun, si Doyeon ini masih "diejek" oleh si Dokter. Astaga, bangsat banget memang (maaf kasar). Tapi apakah operasinya berjalan lancar? TIDAK pemirsa. Lihat saja foto diatas.

    Sudahlah dibully, diejek, bahkan operasi pun gagal. Dampak psikologisnya ke siapa? Si Doyeon? NO!!!! Tapi satu keluarga mereka habis dibully! Ibunya dipecat dari tempat kerja padahal beliau tulang punggung keluarga (ayahnya sudah tidak ada), adeknya yang cewe juga dibully di sekolah dan malu punya kakak seperti Doyeon. Berkali-kali lipat rasa depresi yang ia alami. Akhirnya? Ibunya ngajak bunuh diri bersama, tapi naas, si Doyeon tetap hidup dan menanggung semua penderitaan sendiri. 

    Semua berawal dari apa? BULLYING. Dibully karena apa? STANDAR KECANTIKAN. Gak semua orang bisa bodo amat dengan omongan orang sekitar. Ada yang hatinya mudah rapuh, tapi tak sedikit juga yang tegar. 

    Keputus asaan, depresi yang menyerang mental dan akal sehat. Yang membangun standar kecantikan itu sebenarnya ya kita sendiri. Apalagi untuk para pria, munafik rasanya jika kalian tidak tergoda dengan wanita berparas cantik. Setidaknya hanya dengan lirikan. Jadi percuma saja rasanya berkoar-koar mengatakan "Self Love" atau "Body Positivity". 

    MENYAYANGI TANPA MEMBEDAKAN

    Ada dua kesamaan antara Remi dan Doyeon, yaitu sama-sama butuh perhatian. Remi sedari kecil telah ditelantarkan, ia juga korban perundungan dan pelecehan semasa sekolah. Sahabat baiknya lah yang selalu ada di belakangnya, Jia. Terkadang kita lupa bagaimana memanusiakan manusia dan mengasihi sesama. Kita lebih cenderung mengedepankan ego. Remi ini butuh perhatian dan kasih sayang. Ketika ia mendapatkan perhatian di sosial media, ia akan jadi bahagia. Hanya karena ia tidak memiliki dan tidak mendapatkan kasih sayang orang tua, ia dibully. Heran gue kenapa malah dibully. Orang seperti itu harusnya dirangkul dan disayangi. Tanpa peduli latar belakangnya seperti apa. 

    Lalu Doyeon. Sama seperti Remi, ia juga korban perundungan. Berharap dengan operasi plastik, ia akan mendapatkan kehidupan "yang normal" dan perhatian dari orang-orang sekitar. Tapi sayang, keinginan dia hanya terwujud di dalam mimpi. Seringkali kita berprilaku sekendak hati dan menjustifikasi seseorang karena latar belakangnya tidak jelas. 

    HATI YANG BAIK TAK MEMANDANG FISIK

    Sering banget ini mah, kalau liat orang yang berparas elok, yang dipikiran kita "ini orang pasti baik dan ramah". Apalagi kalau udah disenyumin, satu kali aja deh. Kebayangnya seminggu. Di komik ini, ada satu tokoh yang dari awal selalu dikata-katain readers. Tau kenapa? Pertama, karena rupanya. Kedua, karena si authornya jago memainkan perasaan pembaca hehehe. 


    Apa yang terlintas pertama kali di otak kalian ketika melihat gambar diatas? Ayo jujur saja. Namanya Lee Mankap, jadi bulan-bulanan pembaca sampai pada akhirnya menaruh rasa kasihan kepada tokoh ini. Dia seseorang yang mengalami kecacatan, dibully dan tidak memiliki teman. Tau siapa yang akhirnya ia merasa bahwa ada orang menganggap kehadirannya? Remi. Yap, si tokoh utama. Kebaikan Remi inilah yang memicu instingnya untuk melindungi Remi. 

    Lho kok melindungi? Yang jahatin siapa??


    Nih, tak kasih gambarnya. Orang disamping Remi adalah Doha a.k.a Doyeon yang operasi kelamin jadi laki-laki. Apa motivasinya mendekati Remi? Balas dendam. Karena operasinya gagal, ia menyalahkan Remi penyebab semuanya. Padahal yang salah bukan Remi. Doha ini sudah lama melakukan penyamaran, dengan menjadi dua orang yang berbeda. Satu, sebagai Doha yang memposisikan diri bak pahlawan untuk Remi. Dua, jadi sosok aneh alias manusia jahat dengan memakai kostum untuk mencelakai Remi. Dan ternyata, selama ini Doha selalu mengawasi Remi dengan membawa pisau di tangannya :')

    Lee Mankap yang melihat itu semua, berniat untuk memberi tahu Remi bahwa si Doha ini tidaklah sebaik yang dia pikirkan. Namun caranya salah. Remi pun juga udah takut duluan dengan Lee Mankap, karena ia merasa diterror dan lebih percaya Doha. Karena apa? WAJAH. Udah gak usah munafik hahaha. 

    Sekali lagi, authornya memang pinter betul memainkan perasaan pembaca. Dan dibuat kebingungan. Jaman sekarang ini, tak jarang kebaikan seseorang dilihat dari rupa. Ingin berkenalan saja pasti lebih gerak cepet yang parasnya -elok- bagi kalian. True?? 

    POTENSI MENJADI SEORANG PEMBUNUH (DAMPAK PSIKOLOGIS)

    Memang tidak bisa dipukul rata, dampak psikologis yang diterima oleh korban perundungan itu berbeda-beda. Ada yang menyisakan trauma, insecure, bahkan sampai bunuh diri, ada lagi yang memilih untuk bangkit tapi ada juga sebaliknya, ketika ia tumbuh besar, malah berprilaku sebagai tukang bullying. Kasus ekstrimnya lagi, berpotensi menjadi seorang pembunuh. Di webtoon ini diceritakan mengenai pembunuhan berantai, yang mana korban-korbannya adalah selebgram. Diakhir cerita diketahui bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh Doha a.k.a Doyeon.

    Kita tidak bisa menyalahkan sikap ini sepenuhnya. Tetapi juga tidak bisa dikatakan benar. Di penghujung episode webtoon ini, ada sepenggal monolog (scene) yang berupa suara hati Doha, bahwa membunuh membuatnya terasa lebih baik. Yang mana perasaan itu kian besar dan perlahan mengubahnya menjadi seorang monster. It's so scary, right?? Ketika rasa senang melakukan suatu hal berubah menjadi candu akan sangat susah untuk dihentikan. Pada akhirnya yang dirugikan tidak lagi individu yang bersangkutan, tapi semua orang. 

    ORANG BISA BERUBAH DALAM SEKEJAP & BERITA PALSU ITU KEJAM 

    Pada intinya, Remi dan Doha telah sama-sama sadar akan kesalahan masing-masing. Yang bikin gue salut adalah, walaupun Jia mati karena ulah Doha dan dia juga hampir saja juga kehilangan nyawa oleh Doha, tapi masih sempat-sempatnya ia menaruh rasa simpati dan empati kepada Doha, tidak ada dendam sedikitpun. Alasannya Remi bisa bersikap begitu karena dia juga mengalami hal yang sama seperti Doha. Kisahnya tak jauh beda, ada kesamaan diantara mereka, Remi tahu rasanya. Tapi disaat tangisan mereka, polisi datang bersama dua orang followers Remi, yang turut merekam kejadian itu disaat-saat terakhir. Doha (sepertinya) mati tertembak oleh polisi. Sedangkan Remi? Menangis, sejadi-jadinya. Sumpah part ini bikin gue nangis, gue gak bisa ngebayangin posisinya Remi gimana. Dan tangisan Remi ini direkam oleh followers dia. Dalam sekejap, menyebar ke media sosial. 

    Apa yang orang-orang lakukan? Ya MENGHUJAT lah. Followers yang dulunya memuja-muja Remi dengan sukarela, kini dalam sekejap menghujat Remi habis-habisan tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Coba kita lihat ke kehidupan nyata, apa kasus seperti ini ada? BANYAK. Contoh saja, publik figur. Ketika ada berita miring tentang dirinya, apa yang kita lakukan? Menghujat, menghabiskan kuota, membuang-buang waktu hanya untuk menghujat. Sumpah serapah keluar dari mulut kita, kalau dulu ada pepatah "mulutmu harimaumu, yang akan menerkammu". Sekarang, mulut sudah berganti dengan jari. Coba pikir-pikir lagi, sudah berapa kalimat, sudah berapa kali jari-jemarimu beraktivitas untuk mejatuhkan mental seseorang?? Menghujat, memaki, membully seseorang yang bahkan tidak kau kenal sekalipun? 

    Polisi di webtoon ini, menurut gue tidak bijak dalam menangani kasus. Remi diberitkan menderita Sindrom Stockhom. 

    Sindrom stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderaannya tanpa memperdulikan bahaya atau resiko yang dialami oleh sandera itu. Sumber : Wikipedia.
    Tuduhan ini yang kemudian dipublikasi dan menyebabkan hujatan datang bertubi-tubi. Seolah-olah sang polisi tidak peduli dan tidak mengorek informasi dengan baik kepada orang-orang yang terlibat dalam kasus ini, termasuk Remi. 

    Akhir cerita ini ditutup dengan bunuh dirinya sang tokoh utama, Remi. Ia sudah kehilangan semuanya. Mulai dari keluarga, sahabat, teman, sosial media, termasuk Doha. Dia merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Followers? Bullshit dengan followers. Mereka hanya memuja ketika kamu baik dan sesuai dengan apa yang mereka mau. Belum lagi hujatan dan bully yang kembali ia terima. Bunuh diri adalah jalan terakhir. Rasa depresi, tertekan, kuat atau tidaknya mental seseorang, kita tidak pernah bisa mengukur. Tidak ada yang bisa dijadikan tolak ukur. Perundungan ini tetap akan terus terjadi, pasti. Gue jamin, pasti akan selalu ada. Never die. 

    Oke itu saja poin-poin yang gue tangkap selama mengikuti webtoon ini. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini, buat yang belum baca, mampirlah sebentar. Walaupun hanya sekedar intip-intip. Episodenya gak banyak, cuma 44 episode. Termasuk epilog dan prolog. See you di next artikel. 
    Continue Reading
    This my third interview di tahun 2k20. Ya! Yang ketiga dan terjadi hari Rabu (8 Januari 2020)! Tiga hari berturut-turut, gila! Apa gue bilang kan, ini tuh udah diluar ekspetasi gue. Alhamdulillah. 

    Oke, jadi ceritanya perusahaan yang client-nya BTPN itu udah ngubungin gue di akhir tahun kemarin. And honestly, guesebenernya juga berharap bisa keterima disini. Gue baru dikabarin dan dikasih jadwal interview itu H-1. Jadi tanpa persiapan banyak. Testnya sendiri jam 2 siang, tapi diundur jadi jam setengah 3. Its okay, yang penting gue interview karena kalau di re-schedule lagi, degdegan gue tambah parah. Kebetulan temen gue juga ditempatkan disana, tapi beda vendor. Dia di bagian QA (Software Quality Assurance). 

    Gue nyampe di Menara BTPN (lokasi masih di Kuningan, Jakarta Selatan) jam 1 siang. Kok cepet?? Yaiya, daripada telat. Dari lobby GF gue diarahkan buat lapor dulu ke resepsionis di lantai 12, ekspetasinya gue bakal ke lantai 27 dulu (disuruh temen gue sih), katanya itu terbuka untuk umum. Tapi karena langsung disuruh nunggu di lantai 12, yaudah. Gue nurut-nurut aja. Yang interview gue waktu itu dikasih tau Bapak (inisial) E atau Ibu M. Nah gue sempat intip tuh profilenya bapak E di LinkedIn (ciee stalking, ciee tukang kepo), jadi maksud gue tuh biar gue tau jabatan beliau apa dan gue bisa memposisikan diri ntar di hadapan beliau. After that, gue disuruh naik ke lantai 16 (interviewnya disini) dan yang ngetest ternyata bukan bapak E, melainkan ibu M. Beliau masih muda dan orangnya humble, serius. Ternyata ada satu orang yang mau interview hari itu selain gue, dia cowo. Tapi beda vendor sama gue, dan kebetulan vendornya dia juga ngehire gue hahaha. Clientnya Prudential Life, tapi saat ini gue belum dikabarin interviewnya kapan. Oke, lupakanlah. 

    Ibu M ini ngasih sebuah kertas yang berisikan soal ke kami berdua dan selembar kertas kosong untuk jawaban. Jadi paper based, bukan pake laptop. Soalnya hmm.. Jujur, gak terlalu sulit. Ada lima buah soal. Rinciannya :

    1. Soal cerita peluang 
    2. Soal cerita (lebih ke penalaran masalah dengan matematika)
    3. Deret alfanumerik (ada 7 poin)
    4. Code simple test, jadi dikasih satu case. Bebas nulis dengan Java atau Pseudo Code
    5. Soal query (ada 4 buah tabel dan bikin relasi sesuai dengan masing-masing poin a,b,c,d)
    Gimana, gak terlalu sulit kan? Cuma waktu yang dikasih untuk mengerjakan jawaban itu sangatlah terbatas, yaitu 30 menit. Gak lebih dan gak kurang, siap gak siap dikumpul. Jadi beliau bilang, kalau soal itu bebas mau dikerjakan dari nomor berapa, yang kita anggap mudah lah. Tapi kalau gue saat itu, gue kerjakan secara beraturan. Gak ada sistem minus, terus jawab sebisanya aja. Karena yang dinilai adalah logika kita, cara berpikir dan kemampuan problem solving. Tapi kalau misalkan semua soal bisa dikerjakan, berarti kita orangnya cekatan. 

    Gue saat itu jawab hampir semuanya, tapi masih ada yang bolong dan pada soal terakhir, waktu habis. Karena lumayan panjang query yang dibikin untuk masing-masing poin. Setelah itu, interview selama 30 menit. Jadi total 1 jam waktu yang diperlukan. Interviewnya seputar pengalaman lu, project yang dikerjakan apa, waktu itu gue ditanyain beda microservices dan monolitik, trus lanjut ke diskusi soal tadi. Jadi jawaban lu tadi yang ditulis, lu jelasin. Kurang lebih gitu. Jadi disana, khusunya BTPN Syariah, untuk Backend mereka make Java dan Springboot framework. Sedangkan untuk Frontend make Android Native. Lebih bagus lagi sih kalau lu Fullstack, karena mereka nyarinya Fullstack. Tapi kalau lu cuma bisa salah satunya, ya gak apa-apa sih. Karena gue juga bukan seorang Fullstack, tapi ada kemungkinan ketika di project (kalau keterima ya), lu perlahan akan menjadi seorang Fullstack. Bagus, peluang ini sejujurnya bagus banget, untuk diri lu dan karir lu kedepannya.

    Source : Google

    Sekarang mari bahas sedikit mengenai kantornya BTPN. Jujur ya, tempatnya tuh nyaman banget. Lu gak ngerasa lagi kerja di sebuah Bank atau BUMN karena memang konsep kantornya dibikin like a StartUp. Gue pribadi amazed sih dengan konsep kantor mereka dan per lantai dibikin agak beda. Waktu di lantai 16 pun, interviewnya sendiri dilakukan bukan di ruangan tertutup, tapi kayak open space gitu. Yang lagi meeting juga disana, yang diskusi juga disana dan satu lagi, COLORFUL! Untuk outfit, kayaknya lebih ke casual outfit yak, santai aja gitu asal masih sopan. Sedihnya gue gak bisa kepoin basecampnya Jenius di lantai 18 terus beranda yang ada di lantai 27. Gue baru bisa liat di yutub hiks. Semoga next gue ada kesempatan buat datang lagi ke kantor itu tapi bukan sebagai tamu lagi, tapi sebagai tim divisi IT di BTPN!! Amin. 

    Oke sekian dulu cerita gue, gue bakal update lagi tulisan ini setelah menerima email penerimaan atau penolakan. See ya! Semoga membantu. Silahkan tinggalkan komentar jika ada yang mau ditanyakan :)
    Continue Reading
    Oke, kita lanjut ke kisah interview gue yang kedua di tahun ini. Bagi yang belum baca kebodohan gue pada saat interview di kantor pertama, silahkan langsung cek disini :

     Interview di AXA Mandiri

    Jadi ditulisan kali ini, gue pengen ngeshare pengalaman gue interview di salah satu perusahaan telekomunikasi terkenal yang ada di Indonesia, yaitu XL Axiata Tbk. Sebagai karyawan vendor ya, bukan ngelamar sebagai karyawan XL-nya langsung. Nah si XL ini adalah salah satu client di perusahaan outsourcing yang gue apply via Jobstreet. Gak perlu gue sebutinlah nama vendornya apa, intinya nih vendor juga cukup terkenal dan clientnya juga banyak. Awalnya gue ditawari buat client-nya yang Bank Mandiri, lokasi di Cideng. Emang dasar gue gak punya perasaan yak, langsung gue bilang "saya gak tertarik". Sumpah kalau diinget lagi, gue ngomongnya kurang sopan. Dan ngerasa bersalah juga. Seharusnya kalau kita gak tertarik, diungkapkan baik-baik. Jadi jangan ditiru sikap gue ini ya. Balik lagi, alasan gue nolak karena, pertama gue dikasih tau temen kalau daerahnya agak sepi dan terpencil. Gue langsung gugling dan bener saja, gue agak takut dan ngerasa waswas pas ngeliat sikon lokasi. Kalau gue lembur gimana, kalau hujan gimana, ortu gue pasti kepikiran. Alasan kedua, karena ngerasa jauh. 

    Source : Google

    Next cerita ya, jadi gue dijadwalkanlah interview di XL hari Selasa (7 Januari 2020). Gile bro!! Gue interview di dua kantor berbeda berturut-turut hahaha. Alhamdulillah (mungkin cerita setelah ini, bakal kaget lagi). Kantor XL sendiri itu berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan. Kayaknya itu kantor barunya mereka sekitar dua tahun terakhir. First impression ketika sampe dikantor mereka "Alhamdulillah akhirnya gue berkesempatan masuk dan melihat langsung kantornya XL". Karena selama ini gue cuma bisa denger dari orang-orang. Di invitation email, gue dikasih tau kalau yang bakal ngehandle interview itu mba (inisial) AU. Gue interview di lantai 23, lounge-nya XL dan dijadwalkan jam 09.30 WIB. Gue nyampe disana jam 9 pagi, karena ada drama salah naik busway dari halte Patra Kuningan. Perjuangan banget asli. Sampe sana, gue connect-in internet ke WiFinya mereka (sebelumnya udah dikasih tau sama mba HR) dan disuruh install "checkpoint mobile". Gue gak tau fungsinya apa tapi yaudahlah, gue ngikut ae.

    Singkat cerita, gue nunggu sejam lebih. Ngaret 30 menit dan yang datang juga bukan mba AU, tapi mas-mas dan gue gak tau namanya siapa. Lupa nanya, maafkan mas :(. Gue disuruh login ke portal mereka, tanpa registrasi email yang pake kode-kode gitu. Cuma daftarin nama lu siapa, email dan username. Udah gitu aja, habis itu login deh. Nah setelah itu, gue dikasih soal sebanyak 65 buah soal dengan waktu 4 jam!! Pikir gue, "ah gampanglah", ceritanya sombong nih. Dan ternyata.... Gue pusing ngerjain tuh soal, malah gue yang dikerjain wkwk. Ada beberapa soal yang otak gue gak nyampe, maksudnya "ini maksudnya apaan sih". Gitu. Setelah dikasih soal, gue ditinggalin gitu aja si mas. Gak diawasi, jadi bebas. Mau curangpun kayaknya bisa, tapi gak yakin juga gue. 

    Seinget gue, materi-materi yang ada di soal itu sbb :

    • Aptitude Test (Pilihan)
    • SQL/Query (Pilihan)
    • Java (Pilihan)
    • Java Programming (Essay)
    • PHP Programming (Essay)
    • TIBCO Developer (Essay)
    • SQL Question (Essay)
    Jujur yak, itu semua soal logic banyak yang gue gak paham. Dan soal test tersebut "full english", cuma ada satu atau dua soal yang make bahasa Indonesia. Sisanya english. Kalau untuk Java, ada soal pembuatan matrix. Ada dua buah soal Java dan lu disuruh ngoding, terus kalau untuk PHP, lu disuruh ngoding juga. Nah bagian PHP ini, gue gak jawab satupun! Iya karena gue gak tau mau nulis apa, jadi yasudah. Terus untuk TIBCO, pertanyaannya "TIBCO ini apaan???". Gue baru kali ini denger nama nih benda. Dan semua soal TIBCO kebanyakan teori, jadi bisa gugling. Tapi gue gak jawab semuanya, cuma dua buah soal. Last ada soal query, lu dikasih table (kalau gak salah ada 4) dan itu semua tabel production dan datanya njelimet semua. Gue pusing sumpah, tabelnya kecil amat dan ditaro dalam satu layar (satu halaman). Disuruh bikin relasi inilah itulah dan gue gak jawab semua. 

    Jadi apa yang gue dapat selama 4 jam test itu? Gak ada, pusing gue, Kayaknya gue belum layak buat apply di Google (mau muntah silahkan). Dan apakah gue berhasil menjawab semua soal? Off course, NO!! Lalu apakah waktunya cukup? Cukup banget malah! Malah gue udah siap selama dua jam wkwk, dua jam lagi ngapain? Ya gue ngobrol sama temen, kebetulan temen gue ada yang kerja disana. Jadi ngobrollah kami dan ternyata memang disana tuh make TIBCO, Java baru beberapa bulan belakang karena ada suatu kondisi dimana para senior developer harus menggunakan Java lagi.

    Dan setelah sekian lama gue ngadepin soal itu, akhirnya kelar dan gue diperbolehkan pulang. Hasilnya?? Hmm kalau gak lulus, gak apa-apa deh. Gue agak sedih juga kalau disuruh ninggalin Java, pure gak bersentuhan dengan Java. Lagian mau mengharapkan apa, gue jawab test itu pun setengah tau setengah bego dan setengah sadar ;'). Kalau gue lulus, Alhamdulillah. Namun pertanyaannya, kenapa gue diloloskan?? Gitu, karena penasaran sih. 

    Oke sekian dulu ya cerita gue kali ini, setelah ini bakal ada cerita interview lagi. See you-!!!!
    Continue Reading
    Ini bakal jadi cerita yang 'lumayan' panjang sekaligus rekor bersejarah selama hidup ini dan jujur, "ini sudah diluar ekspetasi" hidup gue njirrr. Dan lagi, kejadian ini terjadi di awal tahun 2020. Gue gak tau harus bilang ini sebagai anugrah atau rezeki tapi gue bersyukur banget. Tahun baru gue disambut dengan pengalaman tak terduga ini. Jadi setelah tulisan ini gue post, bakal ada dua buah tulisan lagi dengan kisah yang serupa. 

    Oke lanjut..

    Jadi akhir tahun kemarin, berbekal gue udah punya satu tahun pengalaman sebagai backend developer, iseng-isenglah gue apply ke dua perusahaan IT Consultant di Jakarta via Jobstreet. Gue update profile dan CV, profile gue dibantu dengan repository yang udah gue bikin lima bulan lalu. Walaupun belum bisa di running tuh codingan gue, setidaknya ada bukti lah kalau gue pernah di Java. Tiga hari setelah itu, kedua perusahaan itu nelfon gue. Inti dari pembicaraan kami adalah, mereka nanya sekarang gue masih karyawan *** ini gak, client kita disini nih, berminat gak (mereka nyebut client mereka dan apakah kita tertarik), trus mau salary berapa (mereka nanya ekspetasi kita di angka berapa), range salary gue saat ini berapa, trus benefit yang didapat apa aja, kontrak atau permanen, ada penalty atau tidak, dapat jatah cuti berapa kali, gitu. 

    Dan cerita gue kali ini, sebenernya gak ada hubungannya dengan dua perusahaan tadi. Lha trus gue ngapain ngebacot satu paragraf? Jadi gengs, client yang berhubungan dengan perusahaan yang gue apply tadi, bakal gue bahas di post berikutnya. Selain dua PT itu, ada lagi satu PT outsourcing yang nelfon gue, mereka liat profile gue di Jobstreet dan gue baru tau, kalau mereka juga bisa ngehire kita berdasarkan profile Jobstreet, Gue kira cuma LinkedIn doang yang bisa gitu wkwk. Karena ekspetasi salary gue cocok dengan mereka, walaupun belum deal sih, jadi yaudah gue cobalah.

    Client mereka adalah AXA Mandiri. Asuransi gitu, jadi dulunya AXA dan Bank Mandiri itu gak satu. Sedangkan AXA dulunya memang perusahaan asuransi tapi namanya dulu juga bukan AXA. Lebih lengkapnya search aja yak. Gue dijadwalkan interview hari Senin (6 Januari 2020), lokasinya sendiri di Kuningan, Jakarta Selatan. Testnya jam 2 siang dan yang mau interview gue waktu itu cowo, inisial namanya WB. Pikir gue bapak-bapak, kan. Ternyata salah..

    Source : google

    Sampailah gue disana jam 1 siang, jujur aja ya gue orangnya paling gak suka janjian yang ngaret. Karena gak suka itulah, jadi gue mengusahakan diri gue untuk datang minimal satu jam sebelum jadwal interview dimulai. Gapapa deh gue lama nunggu, daripada interviewer yang bete karena nungguin kita. Gue di interview di lantai 8. Dua hari sebelum interview, gue udah melakukan persiapan yang gue bisa. Gue baca beberapa artikel tentang AXA Mandiri, latihan di hackerrank sambil ngereview soal-soal yang sebelumnya udah pernah gue jawab, sampai gue review satu per satu aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan AXA yang ada di Playstore. Tujuannya apa, biar gue tau produk mereka apa aja, sekaligus gue juga punya saran dan ada hal yang mau gue tanyakan terkait apps yang mereka bikin.

    Set set, udah jam 2 lewat nih. Tapi belum sampe jam setengah tiga, kira-kira jam 2 lewat beberapa menit, datanglah orang yang ngeinterview gue ke ruangan. Posisi saat itu gue udah di ruangan, disuruh sama mba aaresepsionis buat nunggu di ruangan interview. Seperti yang gue bilang tadi, yang interview gue bukan bapak-bapak, tapi mas-mas yang masih muda. Mungkin sekitar 27-28 tahun gitu. Dan inilah saat yang paling mendebarkan...

    Jeng jeng jeng

    Tanpa basa-basi beliau langsung ngomong "perkenalkan diri kamu secara singkat, sebutkan project yang dikerjakan apa, pake bahasa apa beserta environtmentnya, apa aja deh yang berhubungan, anything". Kurang lebih seperti itu. Dan gue langsung jawab dengan memperkenalkan nama lengkap gue dan panggilan gue siapa, trus project yang gue kerjakan apa aja. Disaat gue lagi berusaha untuk menerangkan, beliau langsung memotong pembicaraan gue, gambarannya seperti ini "oke stop dulu, project yang pertama itu tentang apa" dan gue jawab dong ya dan beliau balas "oh maksudnya underwriting engine?", ya itu betul pak! Exactly. Jadi kenapa gue gak bilang underwriting, karena gue mikir kalau istilah itu cuma istilah yang hanya dipakai di lingkungan tempat gue kerja sebelumya, gue gak tau kalau istilahnya memang begitu (kayak penghitungan umur, tinggi dan berat badan). Setelah itu dia bilang "nah itu kan jelas, disini nyebutnya gak jelas sih (maksudnya di CV gue)". Deg! Gue kaget sumpah. Tapi gue berusaha untuk tetap tenang. 

    Dan gue disuruh lanjut ngomongin penjelasan yang sempat di-stop tadi. And you know gaes? Setelah itu gue dicecar pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan teori Java! Dari sekian pertanyaan yang ia lontarkan, jujur aja ada yang gue jawab ngasal, karena gue emang kurang paham secara teori padahal yang ia tanyakan udah gue praktekan selama setahun ini, gue yang goblok. Gue akui, udahlah goblok, gak baca pulak. Hahaha, trus ada yang gue jawab apa adanya dengan bahasa gue yang abstrak. Gue inget, waktu itu ditanyain gini :

    Mr. WB : Kamu di project make Java berapa?
    Gue : Ada Java 7 dan 8, tergantung projectnya apa
    Mr. WB : Kamu tau bedanya apa?
    Gue : Saya gak begitu memperhatikan, tapi selama saya make Java 7 atau 8, saya gak terlalu merasakan apa perbedaannya. Mungkin ada fitur di Java 8 yang gak saya pake atau secara gak sadar udah dipake
    Mr. WB : Fitur apa?
    Gue : ..........

    Dan gue jawab "Spring WEBFLUX!"

    Hahahaa anjirrr ketauan begonya gue, gue keinget webflux gara-gara courses yang di Udemy. Sontak saja beliau ketawa, entah itu ketawa mencomooh kebodohan gue wkwk dan dia nanya 

    Mr. WB : Kamu tau spring gak sih? Itu framework
    Gue : Iya spring itu framework
    Mr. WB : Lha trus???

    Gue langsung diam dan gatau mau jawab apa. Ada pertanyaannya yang gue jawab "maaf saya tidak tau" trus ada lagi, gue lupa dia nanyain apa, intinya gini 

    Gue : Kalau yang saya baca-
    Mr. WB : Saya gak butuh yang kamu baca, jelaskan dengan bahasa kamu. Gak usah text book

    Text book apaan, lha gue juga gak tau hahaha. Aduh mungkin beliau mikir "anjir gue udah buang-buang waktu buat wawancarai orang gak jelas gini" atau "ini anak ngomong apa yaAllah" atau "ini orang beneran developer bukan sih". Yah kalau itu memang benar, I know you feel mas. Gue akui, gue salah dan gue terima kalau gue gak lolos. Bakal lebih aneh lagi kalau gue tetap diloloskan. Jadi inilah poin yang dia tanya selama interview :

    • Design Pattern di Java (SOLID)
    • Konsep basic OOP
    • Hibernate dan JPA
    • Framework itu apa dan environtmentnya
    • Penjelasan Spring MVC
    • Ioc (Inversion of Control) dan Depedency Injection
    • Beda Java 7 dan Java 8
    • JUnit, Unit Testing dan Mockito
    • Lambda Expression
    • Konsep One to Many dan Many to Many di database
    Kalau gue pikir-pikir lagi, apa yang beliau tanya itu semua berkaitan dengan apa yang ada di CV gue. Cuma guenya aja yang terlalu fokus dengan hal-hal lain, sampai-sampai hal penting seperti itu gak terpikirkan oleh gue. Last beliau ngasih soal coding, jadi gue dikasih case sederhana yaitu "reverse" kalimat. Easy sih sebenarnya (sombong dulu), tapi masalahnya soalnya gini :

    Input : Saya makan bakso
    Output : ayaS nakam oskab

    Jadi di-reverse per kata, bukan perkalimat. Yang sering gue liat selama ini :

    Output : oskab nakam ayaS

    Nah bingung lah gue, secara mental gue udah mulai jatuh setelah ke-absurd-an jawaban gue selama interview. Tapi yasudahlah gue terima apapun hasilnya. Oya test codenya paper based jadi gak perlu laptop. Pelajaran yang bisa gue petik dari kejadian ini adalah "harus lebih bisa mempertanggung jawabkan isi CV" apalagi skill yang lu cantumin di CV. Jangan kayak gue yak, oke sekian dulu ya. Gue bakal update tulisan ini setelah terima hasil keputusannya. See ya-


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ►  2022 (1)
      • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ▼  2020 (4)
      • ▼  Juni 2020 (1)
        • Killstagram Webtoon : Sebuah Pembelajaran Kehidupan
      • ►  Januari 2020 (3)
        • [Interview] BUMN Rasa StartUp di Menara BTPN
        • [Interview] Java, PHP, Tibco? Test di XL Axiata Tbk
        • [Interview] Dicecar Teori Java di AXA Mandiri
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top