Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Its my experience when I was a student in one of university in West Sumatera. Maybe this story can give you a lesson for the future..
    Waktu gue mau lulus SMA, temen-temen gue udah pada nentuin mau kuliah di jurusan apa dan dikampus mana. Begitu juga dengan gue. Mulai dari jurusan A sampai Z, bahkan ada beberapa jurusan yang sebelumnya gue gak pernah denger. Contoh, jurusan okupasi yang ada di UI (Universitas Indonesia). Ada yang milih ngelanjutin di jurusan berdasarkan passion, hobi, atau sekedar ikut-ikutan, trus ada juga yang ngambil jurusan dengan PG (Passing Grade) yang tinggi karena nilai dia bagus, bahkan ada yang ngasal ngambil jurusan. Pemandangan yang bakal lu temuin di detik-detik sebelum UN. Sementara gue lebih milih ke jurusan yang sesuai dengan minat gue, Ilmu Komputer. Tapi ditengah kegalauan buat milih kampus (karena nilai gue yang pas-pasan alias rank 3 terakhir dari 23 siswa), orangtua menyarankan untuk ngambil jurusan Psikologi dan Manajemen. Sesuatu yang "itu bukan gue banget".  Langkah pertama yang gue ambil adalah, prospek kerja kedepannya seperti apa. Yang kedua, di dua jurusan itu nantinya ilmu apa aja yang bakal gue pelajari. Dan yang terakhir, ngeyakinin dan diskusi dengan hati. Walaupun pada akhirnya gue diijinkan buat kuliah di jurusan yang gue mau, Alhamdulillah.

    Masa-masa kuliah adalah masa-masa dimana gue mengambil peran sebagai anak yang lebih mandiri. Yap, gue ngekos. Hal yang gak pernah gue lakuin sebelumnya dan sekaligus pengalaman pertama gue. Kos gue bisa dibilang lebih mirip seperti asrama ketimbang kos-kosan. Dan penghuninya pun rata-rata kuliah di semua jurusan yang ada di kampus. Mulai dari teknik, ilkom, psikologi, ekonomi dan pendidikan. Selama ngekos, tak hanya rasa kebersamaan dan kemandirian yang gue rasain, tapi juga "wawasan". Wawasan tak hanya didapat dari buku bacaaan, tetapi juga pengalaman orang lain. Selama ngekos, gue kadang suka intip-intip tugas mereka seperti apa, matakuliahnya apa aja, dan gak jarang juga kami saling sharing. Gue yang anak "sistem komputer", yang banyak berhubungan dengan hardware dan alat-alat pertukangan kayak obeng, tang, solder, timah, turut memberikan rasa penasaran ke penghuni kos lainnya. Karena memang, cewe yang ada di jurusan gue itu terbilang sangat sedikit. Penghuni kos didominasi oleh anak manajemen, akuntansi, sistem informasi dan psikologi. Bicara mengenai teman, tentu kita punya temen yang bisa dibilang "lebih akrab" ketimbang lainnya. Dia anak psikologi. Baik, ramah, pinter ngomong (ya wajarlah kan anak psikologi harus pinter ngomong) dan bicaranya pun teratur, gak kayak gue yang suka hilang arah. Bisa dibilang kita lumayan deket, karena memang kamar kami juga bersebelahan. 

    Terkadang, kita harus lebih memahami dan bijak dalam memilih kata-kata yang digunakan. Baik itu ketika mau bercanda, serius. Tau memposisikan lawan bicara, jadi gak asal nyablak. Ada masa ketika gue ngerasa kecewa dengan ucapan yang ia lontarkan ke gue. Jadi waktu itu, gue lupa awalnya kita lagi ngebahas apa, tiba-tiba dia ngomong 

    "Anak IT ntar kerjanya jadi apa? Bikin robot?"

    "Ntar anaknya kek robot tuh hahaa"

    "Anak psikolog juga bisa tuh benerin laptop, gak harus anak jurusan komputer"

    Gue yang notabene sangat mencintai dan menjunjung tinggi jurusan gue, sangat kesal dengan ucapan yang ia lontarkan. Walaupu dibarengi dengan tawa, tapi ada kalanya kita ngerasa kecewa dan kesal dengan candaan yang dibuat. Dan gue tegaskan, "INI PIKIRAN BODOH BANGET!". Kalau ada diantara kalian yang baca tulisan gue dan juga berpikir hal yang sama, please tolong banget. Jangan pernah memandang rendah jurusan orang lain. Gaes, ketahuilah, kalau yang kuliah di jurusan IT, bukan berarti kami tau segala hal. Bukan berarti kami "ahli pertukangan". IT itu cabangnya sangatlah luas. Semakin maju perkembangan teknologi, semakin berkembanglah dunia IT. Di dunia kerja pun begitu, dalam satu department atau divisi IT, itu bagiannya banyak banget. Gue udah ngerasain makanya berani ngomong. 


    Waktu SMA, gue juga punya temen yang orangnya -ceria banget. Gue jarang ngeliat tampang badmoodnya dia, jadi suatu ketika ada temen lain yang becandain. Gue juga gak begitu tau candaan dia seperti apa dan temen gue ini ngomong, "tolong jangan kelewatan. Mentang-mentang selama ini gue diam dan slalu trima becandaan kalian, tapi tolong hargai perasaan gue juga. Perasaan gue gak sebercanda itu". Nusuk banget, kan?? Dan semuanya pada diem. Nah sama kasusnya kayak gue, gue yang memutuskan untuk diam pada saat candaan itu dia hadiahkan ke gue, mungkin ngerasa kalau hal itu bukanlah apa-apa. Jangan pernah anggap remeh perkataanmu dan jangan terlalu suka ngejudge seseorang "baperan". Karena memang tak semua orang bisa menerima dan tak semua orang fleksibel dengan candaan yang kelewat batas. So stop using "BAPER" ke orang-orang yang secara tak langsung kesal dan marah terhadap kalian. Instropeksi diri, salah satu hal terbaik yang harus dilakukan. Simpelnya gini, coba deh kalau orang lain yang ngejokes lu kek gitu, kira-kira bakalan kesal gak? 

    Pada akhirnya gue tersadar, bahwa untuk ngebuktiin bahwa omongan mereka salah, walau kata mereka "ah itukan gue cuma becanda keleus", adalah "menampar" mereka dengan kesuksesan. Sukses tak selalu berarti kaya. Karena definisi kata sukses begitu luas. Cukup dengan meyakinkan diri dan trus tumbuh ditengah orang lain meremehkan kita.
    Continue Reading
    I am Instagram user since 6 years ago. Tepatnya dimana handphone Android mulai merambah dunia SMA gue. Perlahan tapi pasti, Android mulai menggeser posisi ponsel "Blackberry" yang sempat hits selama beberapa dekade. Kelas tiga SMA itu masa dimana gue baru saja menjadi Android user yang sesungguhnya. Disaat temen-temen gue udah duluan punya handphone ber-OS Android, sementara gue baru menikmati di kelas tiga. Masa-masa dimana ketika gue pengen banget punya akun BBM dan bersyukur banget ketika BBM udah bisa dinikmati pengguna OS Android. Gue lupa pastinya kapan, pasca gue baru aja seneng2nya ngerasain chatting pake BBM, temen-temen gue udah mulai beralih ke sosial media baru, Instagram. Tapi emang dasarnya gue bukan tipe orang yang terlalu suka ngikutin tren, gue baru punya akun Instagram sebulan setelah temen-temen gue udah punya akun di IG. Dan disinilah awal cerita itu dimulai..


    Instagram isn't my first social media. Gue pertama kali main sosmed kelas 2 SMP karena diajakin temen. Apalagi kalau bukan "Facebook". Dulu main sosmed "pure" buat have fun doang. Gak ada yang namanya saling pamer, drama2an, pansos. Itu yang gue rasain di tahun 2011-2012. Kadar iri dan toxic dulu itu gak se-ekstrim sekarang. Rasa cemburu kita hanya terbatas sama jumlah pertemenan, siapa yang paling banyak di-add, yang paling banyak dapat like, atau yang bio-nya paling kreatif. Sisanya? Chatan sama gebetan, mau kenal atau kagak yang penting chat hahaha, trus send message via wall temen (biar dikata punya temen atau dijudge orang yg asik), trus upload poto dengan editan sekreatif mungkin. Tapi dari sekian banyak kenangan yang gue dapet selama main sosmed, baik atau buruk, gue gak pernah non-activein akun cuma karena "toxic" nya yang berlebihan. Gue non-activein akun cuma karena lagi bosen, atau dimarahi emak karena kebanyakan main. Sampailah pada akhirnya satu per satu temen gue pada ninggalin FB. Mungkin krena ada yang lebih asik, atau gak mau dibilang ketinggalan jaman mungkin?

    Yang awalnya sosmed cuma dijadiin ajang untuk have fun dan pelepas suntuk, perlahan berubah menjadi ajang pamer. Salah satu faktor yang gue liat adalah, Instagram merupakan platform sosial media yang memfokuskan penggunanya untuk berbagi poto. Poto identik dengan visual, dikombinasi dengan hasrat alamiah manusia yang selalu ingin terlihat bagus dan baik. As you can see, dari waktu ke waktu Instagram selalu diperbaharui dari segi fitur dan mengutamakan kenyamanan pengguna. Makanya jaman sekarang bisa diliat Instagram user kebanyak anak muda dalam rentang usia 13-27th. Itu menurut gue ya, oke. Dan Facebook user mulai didominasi oleh generasi emak kita. Itu semua tak lepas dari perkembangan teknologi yang turut berkontribusi merubah pola prilaku manusia. Tanpa memandang usia. Dan kenapa pada akhirnya gue memutuskan untuk berpuasa dari Instagram? Karena sudah menjadi racun di diri gue. Gue pernah bener2 detox Instagram selama satu bulan (kalah ama SelGom), pas gue lagi skripsi. Itu efeknya bener2 ngaruh banget ke gue. Ibarat lu lagi sakit dan disuruh istirahat total. Gue ngerasa kalau kehidupan normal gue kembali seutuhnya. Walaupun you knowlah, skripsi pusingnya gimana, tapi gue bener-bener plong karena racun itu udah gue detox. Kelar skripsi, godaan itu datang lagi.  Gue kembali install dan aktifin akun gue kembali.

    Back to yourself, sebenernya baik atau buruknya sebuah sosmed itu balik lagi ke diri masing-masing. Tapi gue gak semunafik itu, karena efek buruk yang gue rasain itu bener-bener nyata. Gue jadi sering cemas, iri, sakit kepala. Mungkin beberapa dari kalian juga pernah ngalamin hal ini. Bahkan gue pernah terobsesi dengan like dan followers. Gue kesal kalau ngeliat temen-temen gue dapat like yang banyak. Ya, seracun itu dan akhirnya gue memutuskan untuk menarik diri. Gue gak bisa menahan diri untuk tidak melihat dan membanding-bandingkan kehidupan gue. Gaes, actually it depend on you. Mungkin gue yang agak sakit jiwa, overthinking, dan gak bisa ngontrol emosi. Yang pantes disalahin siapa? Gak ada, gak ada yang salah 100%. Semua aspek turut berkontribusi memberikan toxic itu. Baik itu dari lingkungan, tren, lifestyle. Kalau gak bisa nahan diri dan emosi, yaudah. Gue ucapin selamat, mending lu detox atau fasting dulu deh kayak gue hahaaha.. 
    Continue Reading

    Seperti yang gue bahas di postingan sebelumnya, kenapa akhirnya memutuskan buat jadi developer? Karena gue terpesona dan kagum akan magic dari barisan code-code. Dan juga berkat sebuah buku yang dibeliin bokap. 

    Oke, lanjut ya. 

    Gue lulus bulan April 2018, udah setahun yang lalu ya. Langsung dapat kerja? Tidak. Gue lulus hanya bermodalkan IPK, jujur. Dan kampus gue juga jauh terkenal dengan kampus yang ada di ibukota. Agak sedikit menyulitkan buat gue yang baru saja jadi "Fresh Graduate". Gue sempet ditawarin pekerjaan buat jadi programmer di salah satu perusahaan tempat temen abang gue kerja. Tapi "basic" gue belum terlalu kuat. Ada perasaan takut, tidak percaya diri. Belum lagi karena kondisi mata gue yang minusnya "lumayan tinggi". Entah kenapa, keinginan buat jadi developer yang awalnya begitu menggebu-gebu pada akhirnya "hilang". Sekitar pertengahan bulan Mei 2018, gue dapet informasi kalau ada sekolah coding di jakarta, "Purwadhika Startup School". Dengan biaya yang menurut gue lumayan mahal. Selama kurang lebih dua bulan, dan bisa dicicil. Permintaan gue gak langsung dikabulkan karena beberapa pertimbangan. Masa setelah lulus kuliah itu adalah masa pencarian gue yang sesungguhnya. Habis ini gue mau ngapain? Masa nganggur? Gak lucu dong, gue udah cape-cape kuliah, ngabisin biaya gak sedikit pas skripsi (karena skripsi gue itu bikin alat). 

    Akhir July, gue diajak abang buat merantau ke Jakarta. Bulan Agustus, gue mulai nyari-nyari info mengenai jobfair. Akhirnya gue ikutan jobfair di Bogor (bermodalkan nekad karena gue gak pernah ke Bogor seorang diri). Dari puluhan perusahaan, gue cuma apply ke tiga perusahaan untuk posisi developer. Dan yang kepanggil cuma dua. Akhirnya gue lulus di salah satu perusahaan. Kiprah gue, mimpi buat menjadi seorang developer, perlahan terwujud disini. 

    Jadi, si perusahaan itu nyediain bootcamp gratis selama dua bulan. Dengan ketentuan, jika lulus bootcamp maka akan dikontrak buat kerja disana selama dua tahun. Bagaimana kalau resign? Gue harus bayar penalty (sejenis uang ganti rugi mungkin), sejumlah 20jt s/d 50jt. Nominal ini sebenarnya tergantung kebijakan perusahaan. Selama bootcamp, gue kembali diingatkan soal basic pemrograman. FYI, akhirnya mimpi gue buat jadi Web Developer harus diganti ke Java Developer, karena suatu keadaan. Lalu, tantangan apa aja yang gue hadapi? Banyak. Gue bener-bener kayak orang bego yang gak tau apa-apa tentang Java, karna waktu kuliah gue sama skali gak tertarik dengan Java. Ibaratnya, lu dipaksa mencintai seseorang yang mana dari awal lu gak ada rasa sama itu orang. Pasti sulit bgt kan? Nah itu yang gue alami. Tapi gue megang prinsip "sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi kita". Jadi gue berkesimpulan, jalan gue menuju developer sedang dibuka, tapi disaat yang bersamaan gue juga tidak "dijodohkan" dengan bahasa pemrograman yang gue cintai. Semua pasti ada hikmahnya. 

    Lulus bootcamp, gue langsung placement di client di daerah Pondok Indah sebagai  Java Developer. Khususnya Backend. Karena untuk Frontend, ada vendor lain yang ngehandle bagian itu. Lagi-lagi gue dapet "challange" buat diri sendiri. Contoh gini, lu udah apal teori BAB 1. Tapi pas ujian, yang keluar malah teori BAB 5. Diluar ekspetasi lu. Itu yang gue rasain. Jadi gue bener-bener belajar dari awal lagi dan adaptasi secepat mungkin disini. Sulit gak? Iya, awalnya. Tapi itu berlangsung selama satu bulan, hingga pada akhirnya satu aplikasi kecil bener-bener dilepas dan dihandle oleh gue sendiri :)

    Dari kisah gue tadi, ada beberapa hal yang bisa gue jadiin pelajaran hidup. Salah satunya "jangan pernah menyerah". Hingga gue sadar, gak ada gunanya untuk merasa takut untuk sesuatu yang belum pernah lu coba. Buktinya, selama 11 bulan ini gue sangat enjoy menjalani profesi ini karena gue "nyaman". Ternyata tidak semenakutkan itu, padahal gue cewek lho. Gue pernah nemuin bug-bug, awalnya slalu merengek ke senior tapi pada suatu waktu gue nanya ke diri sendiri "sampe kapan nanya mulu woi??". Dan disitu, gue mencoba untuk solve sendiri. Walaupun gue pusing nge-debug codingan gue baris per baris tapi akhirnya berhasil gue selesain. Gue yang awalnya takut banget buat debug, akhirnya ketagihan (tapi gak ketagihan ngalamin bug). Gue yang awalnya suka copy paste, jadi membiasakan diri buat ngetik. Biar apal. Buat lu tau aja, sebulan kerja itu jantung gue selalu gemetaran saking takutnya. Sampai gue takut buat berangkat kerja. Parah kan? (Anjir kenapa dulu gue gitu hhahah)

    Oke, mungkin sampai sini aja dulu ya. Gue cuma berharap semoga pengalaman gue yang gak seberapa ini, ada pembelajaran dan motivasi yang bisa kalian ambil. Gak berharap lebih, udah itu aja. Makasih buat yang sudah berkenan baca :)

    Continue Reading

    Hai.. Gue balik lagi nih, pada kangen gak hahaha
    Tulisan ini gue bikin disela-sela jam kerja, nyolong waktu gitu. Biar tetep produktif dan sepertinya sudah jadi kebiasaan kalau after deployment pasti rada "gabut". So lets talk about this topic ..
    Sebenernya gue gak ikutan deploy karena pasti lembur (gak diizinkan pulang malem), jadi gue kebagian standby pagi keesokan harinya. Not bad lah. Temen-temen gue yang lembur itu besoknya diizinkan buat cuti alias libur, karena memang deploy-nya baru kelar pas mau hampir subuh. Dan mereka baru balik ke kosan sekitar jam 6 pagi. 

    Mungkin sebagian dari kalian banyak yang bertanya-tanya "deployment itu apa?"
    Next yaa gue bakal bahas tentang tahap-tahap yang dilakukan agar sebuah aplikasi/web bisa diakses untuk publik. Mungkin bakal collab juga sama temen, jadi tunggu aja (kalau inget dan gak lupa hehe).

    Jadi beberapa waktu lalu, gue iseng-iseng bikin story ig dan naro "question box" disitu. Gak berharap lebih sih karena memang beberapa kali gue naro question box juga gak ada response (respon ecek-ecek gitulah, gak dibalas jg gak apa-apa karena kalau dibalas pun gue nganggepnya malah kayak spam, story ig gue titik-titik dan pastinya bakal di-skip karena unfaedah). Nah entah kesambet apa jadi hari itu "lumayan banyak" yang nanya masalah coding, pemrograman, dll ke gue. Yang bikin gue seneng apa, karena question yg mereka lempar ke gue rata-rata memang berbobot! Gile, tengs banget buat kalian. Berkat kalian juga gue makin banyak belajar, yang tadinya gak pernah kepikiran sm gue, tapi krena question kalian gue jd ikutan "berpikir". Beberapapun ada yang berlanjut via DM. Nah, tulisan gue kali ini juga lahir berkat "request" salah satu dari kalian, tentang story kenapa gue jadi developer. 

    Guys, gue jadi developer baru 11 bulan. Belum genap setahun, jadi so sorry kalau cerita gue masih pendek. Diambil sisi positifnya aja, jangan julid ya (mohon maaf suhu-suhu diluar sana kalau kebetulan baca cerita gue, kalau ada yg salah tolong nasehati dan kasih gue motivasi ya :( ).

    Gue lahir, tumbuh dan besar di kota Padang. Kelas 5 SD, orangtua memutuskan untuk balik ke kampung halaman karena alasan "urgent". Sampai gue tamat SMA. Masih inget, SMP kelas 2 itu pertama kali gue berkenalan dengan "blog" berkat sebuah buku yang dibeliin bokap. Dari dulu gue suka baca dan kepo. Gue anaknya visual banget, suka sama hal yang berbau desain tapi gak ada skill ngedesain. Lu tau kan kalau template default blog itu "gitu-gitu doang?". Gak ada yang menarik. Membosankan. Berkat rasa ingin tau, gue berusaha untuk mencari tau "ini cara ganti templatenya gimana?". Dan, masalah pertama selesai. Timbul masalah kedua, "kok ada tulisan yg begini? kok diblog orang lain bisa gini-gini? gimana cara ngubah menu?". Gue searching lagi dong, dan jawabannya? EDIT YOUR HTML TEMPLATE! Gue yang sama sekali gak tau dan gak paham apa itu HTML, akhirnya coba nyari bahan bacaan dan ulasan mengenai HTML. Disitulah awalnya gue tertarik dengan "pemrograman". 

    Like a Magic! Bayangin aja, berkat sebuah code "gak jelas" itu, bisa menghasilkan sebuah tampilan yang bagus, bisa build sebuah web dan aplikasi. "Kok bisa ya??", sebuah pertanyaan yang selalu terlintas di benak gue. Gue pernah beberapa kali nanya ke guru TIK, tapi jawabannya malah lebih gak jelas dari code-code itu. Mau searching pun gue tetep butuh penjelasan lebih. Sempat terhenti pencarian gue dan kembali "menggebu" pas SMA. Gara-gara ada OSN cabang Komputer. Lagi-lagi gue harus kecewa, pengen marah gitu. Karena OSN cabang komputer tidak begitu mendapatkan perhatian di sekolah gue. Dan guru yang bertugas untuk ngelatihpun kadang juga sibuk. Sedangkan OSN cabang kayak matematika, fisika itu pelatihnya didatangkan dari luar. Rata-rata dosen. Hasilnya gue bareng temen kudu belajar sendiri, tapi tetep saja. Kami tak lulus. 

    Tibalah waktunya gue harus kuliah dan memilih jurusan. Alangkah bahaginya ketika gue berhasil kuliah di jurusan yang gue mau, walaupun dia gak pure ngoding. Tapi lebih banyak ke hardware. Di jurusan itu gue belajar C/C++, Java, Delphi, Visual Basic. Dan ada matakuliah pilihan "Web Programming". Gue seneng banget dong! Akhirnya ada juga seorang yang berkompeten mengajar di bidang itu, penantian gue selama ini yang slalu tanpa kepastian akhirnya terbalas! Alhamdulillah.. Sampai lulus pun, gue memutuskan buat kerja jadi seorang Web Developer.

    Oke, sudah terjawab ya darimana datangnya buat jadi developer.
    Perjalanan menuju menjadi seorang "developer", bagaimana??
    Next akan gue bahas di postingan selanjutnya. Tanpa sadar ternyata cerita gue panjang banget hhahaha kelepasan, keyboard gue jebol coy :D

    Byebye, pending dulu ye....




    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Desember 2022 (1)
        • Sebenarnya Disiplin itu Apa?
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top