Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Source : google

    Udah lama gak nulis karena somehow lagi lumayan sibuk dan kemageran gue yang semakin hari semakin naik level. Entahlah I dont know, mungkin karena terlalu menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang akan terjadi dalam beberapa tahun kedepan.

    Bulan lalu akhirnya gue dapat kesempatan buat balik ke kampung halaman setelah satu tahun merantau. Momen yang pas dan tepat buat balik karena si dia juga udah graduated. Ohiya di post kali ini bakal penuh dengan cerita random, apa yang gue pikirin apa yang terlintas di benak gue, bakal gue tulis. Jadi maaf kalau rada gak nyambung. 

    Di sepanjang tahun ini gue kayaknya lagi dikasih serangan jantung bertubi-tubi, konotasi ya. Bukan yang sebenarnya. Tahun ini adalah tahun dimana temen dan junior gue, pada hobi mendadak nikah. Absurd banget yak, ya maksud gue itu tiba-tiba aja mereka udah nyebar undangan, padahal gak pernah ngepost poto pacaran (atau dijodohin kali ya atau memang si cowo datang dalam keadaan mapan dan temen gue juga udah siap jadi siap untuk nikah), atau ada lagi yang tiba-tiba post poto prewed padahal yang gue tau mereka dulu pacaran dengan si ono. Ya namanya jodoh ya, hari ini post dengan si A, lusa post poto prewed dengan si B. Who knows. Terus ada lagi, gue tau dia punya pacar dan pacaran dengan si A, lalu tiba-tiba memutuskan untuk nikah. Wajarlah ya, ya mereka nikah dengan pacarnya. Cuma yang bikin gue kaget itu, mereka jarang ngumbar poto berdua tapi tiba-tiba nikah. Kalian yang tau instagram gue dan udah liat poto-poto yang ada di gallery gue, itu dikit banget. Karena sebagian besar gue arsipin dan beberapa tahun belakang gue juga udah jarang ngepost poto berdua sama si dia. Dan untungnya dia gak terlalu mempermasalahkan. Karena semakin kesini gue udah gak mau lagi orang terlalu sok tau tentang hubungan gue, terlalu banyak kaum kepo diluar sana. Bahkan ada juga yang nanya "masih sama si dia gak?". Mungkin ya, alasan gue ini juga kurang lebih sama dengan temen gue yang udah nikah sama pacarnya tapi jarang ngumbar dan pamer. Liat banyaknya angkatan gue yang udah mulai memutuskan untuk nikah satu per satu, gue jadi malu dengan diri sendiri. Rasa malu itulah yang bikin gue mulai mengontrol apa yang mau post dengan dia. Sebenarnya itu hak kita, tapi ada rasa takut, takut kalau selama ini kalau gue terlalu berlebihan untuk pamer, ternyata dia bukan jodoh gue. Yang memutuskan itu semua sebenarnya bukan kita, tetapi Tuhan kita. Dan kita berusaha untuk ikhlas menerima, namun sebagian dari kita, terkadang suka lupa diri dan gak sadar sampai melontarkan kalimat bernada sumbang. 

    Kayak gini misalkan

    "Kasian ya jagain jodoh orang"

    "Makanya jangan terlalu pamer"

    "Dasar mampus lu, sering pamer eh malah ditinggal dia nikah dengan yang lain"

    Emangnya itu kemauan kita? Kalau misalkan sedikit saja kita mencoba untuk berempati dan mengontrol diri untuk tidak mengucapkan hal menyakitkan itu dan mengingat bahwa apa yang terjadi dengan "dia" adalah suatu bentuk ketetapan dari Tuhan. Simpel tapi pelaksanaannya berat. Disaat hati mencoba untuk ikhlas dengan takdirnya, tapi ada saja yang buat hati menangis karena omongan orang lain. 

    Cerita selanjutnya ada lagi. Gue udah 23 tahun hidup dan bernafas di dunia ini (Alhamdulillah", otomatis gue udah bertemu dengan beragam karakter, sifat orang lain. Walaupun gak sebanyak kalian yang baca postingan gue ini. Dari puluhan karakter itu, gue bikin circle terkecil aja, yaitu pamer dan sombong. Sejujurnya, kalau gue disuruh milih temen yang satu suka ngomong kasar dan yang satunya lagi pamer dan sombong, gue lebih milih yang suka ngomong kasar. Kedua pilihan itu gak baik sih, tapi misalkan. Alasannya karena gue gak nyaman sama karakter itu. Again, kita gak bisa mengontrol prilaku dan sifat orang lain, apalagi teman ya, gak bakalan bisa. Kita boleh saja memberi nasehat dan pandangan, selebihnya balik ke orang itu. Dan gue sadar akan hal itu. Makanya jalan satu-satunya adalah menghindar. Atau kalau misalkan lu diharuskan untuk bertemu tatap muka dengan dia setiap hari? Yasudah cuekin aja. 

    Gue ya entah kenapa mulai jadi agak rada sensitif, semakin kesini gue gak mau orang lain terlalu kepo dan memaksakan idealis mereka ke gue. Kayak gini (yang sering gue terima) 

    "Lu kan udah lama sama dia, nikah gih"

    "Kamu sama dia aja, dia kaya tuh"

    "Harga segitu murah mah, uang kamu kan banyak, beli dong"

    "Atau jangan-jangan kamu bucin ya?"

    "Itu yang di instagram siapanya kamu?"

    Dan kalimat tersotoy dan terANJIR lainnya. Makanya gue gak mau lagi terlalu ngurusin hidup orang. Urusan mereka apa gitu. Gak ada faedahnya juga kan? Makasih lho udah perhatian sama gue sampai ngurusin hal-hal pribadi gue. Masing-masing dari kita, sudah punya waktu versi diri sendiri. Tinggal bagaimana kita terus berusaha dan tetap berada di jalan yang kita yakini benar. Gue salut ya, liat beberapa selebgram (gak semua selebgram), yang fokus dan tetap jalan lurus dengan passion mereka. Gue liatnya tuh mereka jarang deh ngurusin hidup orang lain, atau mungkin ada kali ya tapi gak mereka share ke publik. Dan ketika mereka sharing kegiatan travelling ke LN, rasanya tuh kayak bangga karena mereka bisa berada di titik itu berkat usaha dan kerja keras. Juga campur tangan dari Tuhan. Tanpa harus nyindir sana nyindir sini karena merasa diri mereka benar dan agung. Kecuali kalau mereka yang dilukai oleh perbuatan dan omongan orang lain, terus mereka balik nyindir. Itu beda case yak.

    Yah intinya dari cerita gue ini, apa ya gue juga bingung. Sekedar pelepas keluh kesah aja, karena dulu pernah ada yang bilang ke gue "kamu daripada numpahin segala macam di sosial media (waktu itu masih facebook-an) dan omonganmu kadang kasar, mending kamu nulis. Biar lebih plong". Makasih buat kamu (cewe ya), yang udah ngingetin gue. Padahal itu nasehat udah lama banget, jaman SMA. Thanks a lot, put! Sekian dulu ya, byebye
    Continue Reading
    Tak terasa ya, sudah setahun berlalu. Thats mean, udah setahun gue ngejalani profesi sebagai developer gadungan (canda canda). Gue gak tau apakah satu tahun ini adalah waktu yang cukup memantaskan diri gue menyandang predikat "Junior Developer". Atau, bisa jadi gue hanya mengalami perkembangan sepersekian-nya dari temen-temen gue. Menjadi seseorang yang expert, tidak hanya butuh waktu. Melainkan didalamnya terlibat sebuah pengorbanan, perjuangan, jatuh bangun, suka duka yang dijalani. Tidak menutup kemungkinan bahwa, mereka yang diluar sana, "mungkin" saat ini memiliki pandangan yang berbeda ke gue. Dan itu gak bisa dibantah. Anggapan orang-orang yang mengatakan "lu udah jago, udah bisa segala macam", yasudahlah ya. Gue cuma bisa ketawa.

    Gue masih ingat, pertama kali terjun ke ruang lingkup dunia kerja yang sebenarnya. Yang dikatakan mahasiswa ketika lulus "Welcome to the Jungle" kemungkinan yang seperti itu kali ya, "Selamat datang di dunia kerja". Rasa takut, cemas, khawatir tidak bisa menjalankan tugas dan kerjaan dengan baik. Takut tidak bisa beradaptasi dan takut jika hasil kerja kita, tidak memuaskan. Dan membuat mereka kecewa, kesal. Atau mungkin menyesal telah merekrut kita? Ya, itu contoh ekstrim aja. Tapi Alhamdulillah, gue bisa survive sampai detik ini. Tiga bulan, empat bulan dan bulan-bulan berikutnya, ketakutan itu perlahan hilang dan perlahan timbullah rasa jenuh serta bosan di diri gue. Bosan karena "gue di assign ke project itu mulu". There's no challange anymore, gue butuh berkembang. Otak gue butuh asupan, jari gue butuh gerak. Seketika rasa iripun muncul, iri kenapa? Gue iri, kenapa temen-temen gue bisa ini, bisa itu, tau project itu, kenapa gue gak? Gue ngerasa tertinggal. Dan kenapa cuma gue doang yang gak di assign ke project lain? Kenapa di assign ke temen gue yang lain? Apa karena gue masih kurang pengalaman? Pikiran-pikiran itu yang selama ini cukup menganggu kinerja otak gue.


    Pada akhirnya, hanya keluhan yang datang dalam diri gue. Bayangin aja, mereka ngomong apa, gue gak ngerti. Mereka bahas project A, gue gak paham. Yaudah gue dieeemmmm, gak tau mau ngomong apa. Aneh ya. Mungkin bagi kalian ini aneh, "lha kan enak, kerja trus digaji, tapi kerjaan santai". Iya, memang betul. Tapi buat apa kita cape pergi pagi pulang malam, kalau gak ada sesuatu hal baru yang dibawa pulang? Satu tahun atau dua tahun kerja, tapi otak kita stuck disitu doang, tidak ada perkembangan? Gimana mau maju? Hidup tak melulu soal uang. Ketika seseorang mencapai level sebagai Project Manager atau Team Lead, setelah 6 tahun berjuang. Kenapa gak kita percepat aja waktu 6 tahun itu? Tidak ada aturan baku. Kalau kita mampu, kenapa tidak?

    Bulan ini, disaat keluhan itu gue rasain berbulan-bulan yang lalu, salah satu Team Lead ngasih gue "challange" baru, yang selama ini gue nanti-nantikan. Yang gue tunggu-tunggu. Yang selama ini gue cuma bertanya-tanya "flownya gimana?". Beliau ngasih gue pencerahan selama kurang lebih dua jam. Semua jelas, terpapar begitu jelas. Dimana secara tidak langsung, ilmu yang beliau kasih ke gue, turut menggambarkan "workflow" sebuah sistem melakukan pembayaran di perusahaan-perusahaan lainnya. Seperti di OVO, DANA. Its so amazing. Membayangkannya saja gue sudah cukup terkesima, apalagi gue disuruh terjun langsung mengerjakan "sistem" itu. 

    Darisitu gue belajar, bahwa sesuatu yang terjadi di diri kita, secuil ilmu apapun yang kita dapatkan, selagi itu masih positif, tidak ada yang sia-sia. Gue udah buktiin. Ilmu itu mahal, pengetahuan itu mahal, jadi bersyukurlah jika masih ada orang yang dengan suka rela membagi itu gratis kepadamu. Terus berkembang dan terus belajar. Gue bersyukur bisa dipertemukan dengan rekan tim yang solid, tidak pelit, mau berbagi. Serta lingkungan kerja yang membuat gue dari yang tidak tau apa-apa, menjadi yakin kedepannya gue mau ngapain dengan ilmu yang telah mereka berikan.

    Keep spirit :) 
    Continue Reading
    Gue merupakan salah satu penduduk di Indonesia yang pernah berada di fase menjadi seorang "Jobseeker" a.k.a si pencari kerja. Gue bukanlah seorang anak yang pas lulus kuliah langsung disambut dengan pekerjaan. Tahun lalu, tepatnya sejak dinyatakan lulus (bulan Februari), penyesalan itu datang. Gue tersadar kalau selama ini gue bukanlah mahasiswa yang "baik". Kenapa? Apa yang bikin gue sadar? Jawabannya satu : CV. Gak ada yang bisa gue banggain ketika bikin CV. Magang? Gak pernah. Intern? No. Volunteer? Apalagi. Student exchange? Bahasa inggris aja ancur. Toefl gue? Jangan ditanya, mau nangis T_T. Trus pengalaman organisasi? Anggota doang. Jadi asisten labor? Pernah tes tp gak lulus wkwk. Apa yang gue banggain? Cuma satu, IPK. Iya, itu aja. Yang lebih parah, gue sendiripun gak yakin pas cantumin skill di CV. Yasudah apa boleh buat, CV dan surat lamaran kerja tetap gue bikin.

    Perjalanan dimulai, gue bikin akun di beberapa "media". Kayak jobsDB, jobsID, jobstreet. Gue apply semua lowongan yang tersedia (tentunya juga liat dari beberapa faktor, seperti jobdesk, requirement, lokasi, dan bidang pekerjaan). Tapi gak ada satupun perusahaan yang manggil gue buat interview. Sedih, pasti. Gue juga ikutan jobfair di kota gue, tapi hasilnya tetap nihil. Trs gue juga masukin lamaran ke kantor Ayah gue, tapi tetap saja gak kepanggil interview. Pada suatu waktu, abang gue nelfon dan nanya "kamu minat gak buat jadi programmer?". Kaget dong, gue sama sekali belum kepikiran buat menuju "kesana", walaupun itu impian dari dulu, tapi dikarenakan kemampuan gue standar. Minder. Gue juga khawatir dengan kondisi mata yang makin lama minusnya makin nambah. Akhirnya gue disuruh ngirim CV buat dikirim lagi ke temen abg gue.


    Tapi yang namanya ada orang yang berniat nolongin kita, kita juga gak bisa berharap banyak. Gue sadar, yang ngerekrut seseorang di suatu perusahaan itu bukanlah tugasnya temen abg gue. Dia cuma bisa nolongin biar CV kita langsung nembus ke bagian personalia atau HRD. Sisanya? Bukan tanggung jawab dia lagi. Semua balik ke HR/HRD atau team recruiter, CV ini mau diproses atau tidak. Mereka juga gak bisa ngejamin kita bakal diundang buat interview. Kalaupun sampai di  tahap interview, belum tentu menjamin kita akan keterima. Akhirnya gue pun hijrah ke Jakarta. Bulan Agustus, gue ikutan bursa kerja di Bogor. Gue yang sama skali gak pernah ke bogor seorang diri, memutuskan untuk tetap pergi. Berbekal rasa nekad dan sebuah aplikasi pemandu. 

    Singkat cerita, gue ngelamar di tiga perusahaan. Untuk posisi sebagai developer. Dan akhirnya gue dipanggil buat interview (dari tiga, cuma dua yang ngubungin gue). Perusahaan pertama berlokasi di Bogor, tepatnya di Kedunghalang (eh bener gak ya penulisan nama lokasinya). Ini tempatnya dimana? Sumpah gue gak tau sama sekali dan gak pernah kesana. Gue beraniin diri ke lokasi itu sendiri. Sempat muter2 nyari lokasi karena si driver juga kurang tau hahaha. Walaupun akhirnya gue ditolak dan diterima di perusahaan kedua. Alhamdulillah.

    Dari pengalaman itu gue belajar, bahwa memang ada orang yang ditakdirkan cepet dapat kerja, atau nunggu dulu, berjuang dulu. Intinya kita tetap sabar, ikhtiar dan terus berusaha. Bukan berarti selama "nganggur" gue gak bosan, gue juga pernah ngerasain itu dan merasa kalau waktu gue terbuang sia-sia. Sebelum gue berada di titik ini, gue juga pernah bertanya ke senior yang udah duluan kerja. Tapi respon yang gue dapat sama skali tidak mengenakkan. Gue ngedumel dan menganggap "sombong amat ih mentang-mentang udah kerja". Padahal gue cuma nanya "kakak kerja dimana?". Selama jadi jobseeker pun gue juga belajar, kalau nyari kerja itu ternyata gak gampang. Serta mencoba untuk instropeksi diri. "Gue kurangnya dibagian mana". Mungkin kita kurang menjual CV, atau surat lamaran kita bahasanya acakadul? Atau bisa saja karena nickname email kita terlihat kurang "profesional". Atauuu kita ngirim email ke HRD kurang ber"etika". Tidak memperhatikan aturan-aturan, misal jam berapa sebaiknya kita ngirim email lamaran ke HRD, tata bahasa yang formal dan sopan seperti apa, format file yang biasanya dikehendaki itu yang bagaimana. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa kita tidak dipanggil.

    Pesan gue buat yang baca, jika kalian sedang dalam masa "mencari sebuah pekerjaan" yang layak, gue punya sedikit tips. 

    1. Teruslah berusaha

    Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Sebanyak apapun kalian coba dan masih "gagal", jangan pernah mundur. Kita gak tau "lamaran" keberapa yang bakal terima kita buat gabung di suatu perusahaan

    2. Rajin bertanya dan mencari informasi

    Jangan yang seperti :

    "Eh cariin gue kerjaan dong"

    "Disitu ada kerjaan gak?"

    "Disitu ada lowongan gak?"

    Kenapa gak boleh? Pertama, lowongan kerja itu tersebar dimana-mana. Dan banyak banget. Tinggal dari dalam diri kita, mau berusaha atau tidak. Kedua, gak semua orang yang bekerja di perusahaan A tau apakah ada lowongan di perusahaan tempat dia kerja. Karena yang bertugas nyari tenaga baru, karyawan baru itu udah ada timnya. Udah ada bagian yang menghandle masalah itu. "Lu kan kerja disana, masa gak tau sih?". Iya kita bakalan tau kalau mereka ngumumin ke karyawan "eh kita butuh orang baru nih".

    Lalu pertanyaan seperti apa yang bikin kita terlihat bertanya tapi juga mandiri?

    "Bro kalau lu denger atau liat ada lowongan buat job A B C D, kasih tau gue yak"

    "Eh kasih tau dong info perusahaan apa aja yang nyediain training/pelatihan/bootcamp gratis?"

    "Sob tempat kursus A B C yang rekomen dimana aja ya? Biar abis kursus gue punya keahlian tambahan".

    "Cuy lu tau perusahaan yg kayak2 outsourcing gitu gak?"

    Keliatan kan bedanya gimana? 

    Kita butuh tapi gak "manja"

    3. Jangan ngeluh! Tekun, sabar, ikhtiar. 
    4. Instropeksi diri dan memantaskan diri

    Seperti yang udah gue ceritain tadi. Kesalahan kecil bisa bikin orang gak "tertarik" sama lu. Coba deh baca postingan gue yang ini "Rahasia bikin CV part 1" dan "Part 2". Gaes, jangan pernah menuntut seseorang yang udah nolongin kalian, diluar "kuasa" mereka. Gue pribadi (jujur), terkadang dibikin seolah-olah gue bisa menjamin mereka bakal keterima. 

    Oke, segitu aja. Semoga bermanfaat! Goodluck :)
    Continue Reading
    Yap, gue tolak karena gue ngerasa belum pantas digaji segitu. Skill maupun pengalaman gue belum saatnya untuk dihargai dengan nominal yang menurut gue itu udah gede banget. Realistis aja, hidup memang butuh duit. Tapi jangan "sok idealis" juga. Dan jangan maksain kehendak. Bukannya gue ngeremehin kemampuan diri sendiri atau "harga jual" gue maunya dibayar rendah. Siapa juga yang gak mau digaji gede? Semakin tinggi nilai jual lu, semakin besar tanggung jawab yang di amanatkan ke lu. Dan gue percaya akan tiba waktunya dimana gue baru pantas "digaji 8juta" dan gue juga siap menanggung beban pekerjaan yang dibekali oleh skill dan pengalaman. 

    Kalau ngomongin salary yah, kayaknya gak bakal pernah habis. Dan selalu menarik buat dibahas. Beberapa waktu lalu, sempat viral di dunia maya a.k.a Instagram. Tentang seorang oknum yang ngaku lulusan UI dan ngerasa gak pantas digaji "DELAPAN JUTA" (untuk ukuran Fresh Graduate) karena dia lulusan UI, jadi gaji segitu gak level buat dia. So what?? Are you kidding me?? 
    Jadi, kronologisnya begini. Waktu itu gue lagi liatin instastory orang-orang, dan ada satu instastory yang cukup menarik perhatian dan cukup membuat malam gue jengkel. Jadi, katakanlah si selebgram, dia ngepost screenshot story orang lain, namanya diblur, dan captionnya seperti ini :


    Gue kaget dong, kesel dong, marah! Dan keesokan harinya, beritanya pun viral. Sampai beberapa artis pun ikutan berkomentar. Disini gue mencoba untuk berpendapat mengenai hal itu, berdasarkan sudut pandang gue. Ada beberapa faktor atau point penting kenapa tindakan ini sangatlah buruk dan menyesatkan :

    1. Interview kerja di PERUSAHAAN LOKAL dan nawarin gaji CUMA 8 JUTA DOANG!

    Oke, ada apa dengan perusahaan lokal? Sebegitu rendahnya perusahaan lokal di mata ANDA? Kalau memang kita ngerasa "pintar", kenapa gak apply di perusahaan asing? Yang gue tangkep disini adalah, dia secara tidak langsung menunjukan rasa tidak saling menghargai. Kerja perusahaan lokal bukan berarti buruk. Perusahaan lokal di Indonesia yang besar diantaranya Martha Tilaar Group, Bio Farma, PT Mega Andalan Kalasan, Polygon, Telkom Indonesia dan masih banyak lagi. Itu baru perusahaan, bagaimana dengan startup unicorn dan decacorn? Beuh, kalau kerja disana gajinya gede cuy. Masih mau anggap remeh perusahaan lokal???

    Trus, dia nolak gaji karena si empunya cuma nawarin (CUMA ya C.U.M.A) 8 juta (J.U.T.A) doang. Gini, buat adek-adek diluar sana yang mau lulus atau lagi skripsi, setelah lulus kalian bakal menyandang gelar "Fresh Graduate". Syukur-syukur kalau misalkan kalian punya segudang pengalaman selama kuliah, seperti ikut lomba trs dapet sertifikat, seminar, kegiatan volunteer, aktif di organisasi, magang, internship, ikutan project diluar kampus, atau freelance. Banyaklah, intinya di CV kalian informasinya gak cuma sekedar deskripsi, profil diri, riwayat sekolah dan skill yang kalian sendiri juga gak begitu yakin dengan skill itu. Lalu kalian apply ke beberapa perusahaan. Dan pada saat keterima, kalian bakal dikasih tau benefit yang didapat apa aja, salarynya berapa, jobdesknya apa. Disitu kalian bakal tau, kalian bakal digaji berapa. Berapapun yang ditawarkan, bersyukurlah terlebih dahulu. Jangan tamak, apalagi yang belum punya pengalaman selama kuliah, kayak gue nih. Biasanya ya gaji untuk FG itu berkisar 3,6jt s/d 5jt. Tergantung perusahaan. Bahkan ada yang digaji berkisar 2,5jt s/d 3,3jt. Logikanya nih ya, lu pergi ngelamar di perusahaan berbekal ilmu yang lu dapat selama kuliah doang yang notabene kalian gak tau dunia kerja itu seperti apa. Msti dikasih ini itu, diajarin ini itu, ada yang ditraining dulu baru kerja. Si perusahaan juga mikir dong, orang yang belum terlalu paham dan ngerti apa-apa, ya dikasih gaji sesuai dengan standar si calon dong. Sadar diri aja, iye gue tau. Buat perantau kayak gue, kalau digaji 3,6jt gak akan cukup. Nabung pun pas-pasan. Belum lagi bayar sewa kos, biaya hidup perbulan. 

    Terlepas lu mau lulusan mana, bangga sih udah pasti kalau lu lulusan dari kampus terkenal. Tapi jangan pernah jadiin almameter lu sebagai patokan dalam menentukan seberapa "pantas" lu dihargai. 

    2. Fresh Graduate lulusan UI, lho!! UI, Universitas Indonesia!! Jangan samain lulusan UI denga kampus lain

    Terus kenapa kalau lu lulusan UI, bambang? Kita atau si HRD harus hormat dan sujud dikaki lu gitu?? Gak juga keleus. Rasis terhadap ras, suku dan agama itu sudah umum terjadi di negara kita. Kalau rasis terhadap "lulusan mana"? Banyak cuy. Masih banyak banget diantara kita yang suka membeda-bedakan seseorang hanya karena dia lulusan kampus swasta, tidak terkenal, jurusan, dan IPK tentunya. 

    "Gak level gue ih"

    Ya kira-kira begitulah. Apakah faktor kepintaran ditentukan hanya berdasarkan kampus? Kampus itu wadah. Wadah tempat lu nuntut ilmu. Dan kita cuma sebagai pendatang, mengisi wadah tersebut. Gue kasih ilustrasi. Ada dua wadah (gelas). Gelas yang pertama terbuat dari emas, gelang kedua terbuat dari plastik biasa. Kacalah misalkan. Nah, di gelas pertama lu tuangin air putih (nothing special). Secara tidak langsung, alam bawah sadar kita mengatakan, airnya enak, mewah, dan mahal. Hanya karena wadahnya mewah. Kita jadi gak sadar, kalau yang didalamnya cuma air putih doang. Trus, di gelas kedua, lu kasih air yang ada rasanya. Misal jus, kopi, atau teh. Walaupun rasanya enak, tapi orang-orang gak bakal begitu tertarik karena gelasnya cuma terbuat dari plastik. Padahal isinya bagus. 

    Kesimpulannya apa? Kalau lu lulusan kampus terkenalpun, kalau lu lulus dengan nilai seadanya, tidak ada yang spesial, ya orang-orang akan tetap melihat embel-embel almamater lu. Dan lu juga kecipratan euforia kebanggaan itu. Sementara, mereka yang lulus dengan nilai yang memuaskan dan datang dari kampus, katakanlah orang-orang banyak yang gak tau dengan kampus kita, tidaklah dilirik. Menyakitkan, tapi yasudahlah. Emang culture kita sepertinya dibangun seperti itu.

    3. UI levelnya PERUSAHAAN ASING alias LN. Kalau LOKAL mah OKE aja, asal HARGA COCOK

    Pertama, dia ngerasa gak level dengan kampus lain. Kedua, dia ngerasa kalau UI levelnya perusahaan LN. Dan yang ketiga, kalau perusahaan lokal oke kalau harga cocok. Oke, kesimpulan yang gue tarik :
    - Mindset yang mengatakan bahwa lulusan UI itu patut dihargai, disanjung dan dihormati
    - Perusahaan LN wajar ngasih gaji 8jt
    - Perusahaan lokal GAK WAJAR ngasih 8jt, harus diatas 8juta

    Lagi, lagi dan lagi. Kenapa mindset seperti ini harus tertancap bak paku terhadap generasi kita? Anak muda lho. Perusahaan raksasa seperti Google, Amazon, Alibaba, Facebook itu sama sekali tidak memperhitungkan mereka lulusan dari negara mana, kampus apa. Mereka bahkan gak sungkan menerima yang hanya lulusan SMA untuk bekerja di perusahaan mereka. Asalkan, berkompeten. FYI, teman satu bootcamp gue itu ada yang lulusan UGM, ITB, ITS tapi tidak satupun dari mereka yang menyombongkan almamater. Yang gue soroti disini, dia menganggap kalau perusahaan LN wajar ngasih harga segitu. Referensinya darimana? Bukannya seharusnya perusahaan LN yang harus ngasih kita harga sesuai dengan ekspetasi? Terus kenapa perusahaan lokal harus ngasih gaji diatas 8 juta? 

    Si perusahaan ngasih kita harga "rendah", dalam artian tidak sesuai dengan harapan kita, seperti kasus ini, itu bukan berarti mereka tak mampu. Ada beberapa faktor/indikator sesuai standar perusahaan, HRD terhadap si calon, "orang ini layak dikasih berapa". Pasti sudah ada rule dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Mereka juga gak masalah sebenernya mau kasih kita berapa, tapi kompetensi kita apakah berbanding lurus dengan "harga" yang ditawar??? Realistis lah. 

    Jadi intinya adalah "Mengubah mindset dan memantaskan diri tanpa harus menyinggung pihak lain.". Jadilah manusia yang banyak bersyukur, realistis, dan tidak suka memaksakan kehendak. Ingatlah, bahwa harga yang kamu anggap remeh itu, bisa jadi itu adalah "harapan dan cita-cita orang lain". 
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Desember 2022 (1)
        • Sebenarnya Disiplin itu Apa?
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top