Pages

  • Home

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔

ʙʏ ᴀᴢᴋᴀ ʜᴀɴɪꜰᴀʜ

    • Kisah
    • Opini
    • Jejak
    Gue merupakan salah satu penduduk di Indonesia yang pernah berada di fase menjadi seorang "Jobseeker" a.k.a si pencari kerja. Gue bukanlah seorang anak yang pas lulus kuliah langsung disambut dengan pekerjaan. Tahun lalu, tepatnya sejak dinyatakan lulus (bulan Februari), penyesalan itu datang. Gue tersadar kalau selama ini gue bukanlah mahasiswa yang "baik". Kenapa? Apa yang bikin gue sadar? Jawabannya satu : CV. Gak ada yang bisa gue banggain ketika bikin CV. Magang? Gak pernah. Intern? No. Volunteer? Apalagi. Student exchange? Bahasa inggris aja ancur. Toefl gue? Jangan ditanya, mau nangis T_T. Trus pengalaman organisasi? Anggota doang. Jadi asisten labor? Pernah tes tp gak lulus wkwk. Apa yang gue banggain? Cuma satu, IPK. Iya, itu aja. Yang lebih parah, gue sendiripun gak yakin pas cantumin skill di CV. Yasudah apa boleh buat, CV dan surat lamaran kerja tetap gue bikin.

    Perjalanan dimulai, gue bikin akun di beberapa "media". Kayak jobsDB, jobsID, jobstreet. Gue apply semua lowongan yang tersedia (tentunya juga liat dari beberapa faktor, seperti jobdesk, requirement, lokasi, dan bidang pekerjaan). Tapi gak ada satupun perusahaan yang manggil gue buat interview. Sedih, pasti. Gue juga ikutan jobfair di kota gue, tapi hasilnya tetap nihil. Trs gue juga masukin lamaran ke kantor Ayah gue, tapi tetap saja gak kepanggil interview. Pada suatu waktu, abang gue nelfon dan nanya "kamu minat gak buat jadi programmer?". Kaget dong, gue sama sekali belum kepikiran buat menuju "kesana", walaupun itu impian dari dulu, tapi dikarenakan kemampuan gue standar. Minder. Gue juga khawatir dengan kondisi mata yang makin lama minusnya makin nambah. Akhirnya gue disuruh ngirim CV buat dikirim lagi ke temen abg gue.


    Tapi yang namanya ada orang yang berniat nolongin kita, kita juga gak bisa berharap banyak. Gue sadar, yang ngerekrut seseorang di suatu perusahaan itu bukanlah tugasnya temen abg gue. Dia cuma bisa nolongin biar CV kita langsung nembus ke bagian personalia atau HRD. Sisanya? Bukan tanggung jawab dia lagi. Semua balik ke HR/HRD atau team recruiter, CV ini mau diproses atau tidak. Mereka juga gak bisa ngejamin kita bakal diundang buat interview. Kalaupun sampai di  tahap interview, belum tentu menjamin kita akan keterima. Akhirnya gue pun hijrah ke Jakarta. Bulan Agustus, gue ikutan bursa kerja di Bogor. Gue yang sama skali gak pernah ke bogor seorang diri, memutuskan untuk tetap pergi. Berbekal rasa nekad dan sebuah aplikasi pemandu. 

    Singkat cerita, gue ngelamar di tiga perusahaan. Untuk posisi sebagai developer. Dan akhirnya gue dipanggil buat interview (dari tiga, cuma dua yang ngubungin gue). Perusahaan pertama berlokasi di Bogor, tepatnya di Kedunghalang (eh bener gak ya penulisan nama lokasinya). Ini tempatnya dimana? Sumpah gue gak tau sama sekali dan gak pernah kesana. Gue beraniin diri ke lokasi itu sendiri. Sempat muter2 nyari lokasi karena si driver juga kurang tau hahaha. Walaupun akhirnya gue ditolak dan diterima di perusahaan kedua. Alhamdulillah.

    Dari pengalaman itu gue belajar, bahwa memang ada orang yang ditakdirkan cepet dapat kerja, atau nunggu dulu, berjuang dulu. Intinya kita tetap sabar, ikhtiar dan terus berusaha. Bukan berarti selama "nganggur" gue gak bosan, gue juga pernah ngerasain itu dan merasa kalau waktu gue terbuang sia-sia. Sebelum gue berada di titik ini, gue juga pernah bertanya ke senior yang udah duluan kerja. Tapi respon yang gue dapat sama skali tidak mengenakkan. Gue ngedumel dan menganggap "sombong amat ih mentang-mentang udah kerja". Padahal gue cuma nanya "kakak kerja dimana?". Selama jadi jobseeker pun gue juga belajar, kalau nyari kerja itu ternyata gak gampang. Serta mencoba untuk instropeksi diri. "Gue kurangnya dibagian mana". Mungkin kita kurang menjual CV, atau surat lamaran kita bahasanya acakadul? Atau bisa saja karena nickname email kita terlihat kurang "profesional". Atauuu kita ngirim email ke HRD kurang ber"etika". Tidak memperhatikan aturan-aturan, misal jam berapa sebaiknya kita ngirim email lamaran ke HRD, tata bahasa yang formal dan sopan seperti apa, format file yang biasanya dikehendaki itu yang bagaimana. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa kita tidak dipanggil.

    Pesan gue buat yang baca, jika kalian sedang dalam masa "mencari sebuah pekerjaan" yang layak, gue punya sedikit tips. 

    1. Teruslah berusaha

    Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Sebanyak apapun kalian coba dan masih "gagal", jangan pernah mundur. Kita gak tau "lamaran" keberapa yang bakal terima kita buat gabung di suatu perusahaan

    2. Rajin bertanya dan mencari informasi

    Jangan yang seperti :

    "Eh cariin gue kerjaan dong"

    "Disitu ada kerjaan gak?"

    "Disitu ada lowongan gak?"

    Kenapa gak boleh? Pertama, lowongan kerja itu tersebar dimana-mana. Dan banyak banget. Tinggal dari dalam diri kita, mau berusaha atau tidak. Kedua, gak semua orang yang bekerja di perusahaan A tau apakah ada lowongan di perusahaan tempat dia kerja. Karena yang bertugas nyari tenaga baru, karyawan baru itu udah ada timnya. Udah ada bagian yang menghandle masalah itu. "Lu kan kerja disana, masa gak tau sih?". Iya kita bakalan tau kalau mereka ngumumin ke karyawan "eh kita butuh orang baru nih".

    Lalu pertanyaan seperti apa yang bikin kita terlihat bertanya tapi juga mandiri?

    "Bro kalau lu denger atau liat ada lowongan buat job A B C D, kasih tau gue yak"

    "Eh kasih tau dong info perusahaan apa aja yang nyediain training/pelatihan/bootcamp gratis?"

    "Sob tempat kursus A B C yang rekomen dimana aja ya? Biar abis kursus gue punya keahlian tambahan".

    "Cuy lu tau perusahaan yg kayak2 outsourcing gitu gak?"

    Keliatan kan bedanya gimana? 

    Kita butuh tapi gak "manja"

    3. Jangan ngeluh! Tekun, sabar, ikhtiar. 
    4. Instropeksi diri dan memantaskan diri

    Seperti yang udah gue ceritain tadi. Kesalahan kecil bisa bikin orang gak "tertarik" sama lu. Coba deh baca postingan gue yang ini "Rahasia bikin CV part 1" dan "Part 2". Gaes, jangan pernah menuntut seseorang yang udah nolongin kalian, diluar "kuasa" mereka. Gue pribadi (jujur), terkadang dibikin seolah-olah gue bisa menjamin mereka bakal keterima. 

    Oke, segitu aja. Semoga bermanfaat! Goodluck :)
    Continue Reading
    Yap, gue tolak karena gue ngerasa belum pantas digaji segitu. Skill maupun pengalaman gue belum saatnya untuk dihargai dengan nominal yang menurut gue itu udah gede banget. Realistis aja, hidup memang butuh duit. Tapi jangan "sok idealis" juga. Dan jangan maksain kehendak. Bukannya gue ngeremehin kemampuan diri sendiri atau "harga jual" gue maunya dibayar rendah. Siapa juga yang gak mau digaji gede? Semakin tinggi nilai jual lu, semakin besar tanggung jawab yang di amanatkan ke lu. Dan gue percaya akan tiba waktunya dimana gue baru pantas "digaji 8juta" dan gue juga siap menanggung beban pekerjaan yang dibekali oleh skill dan pengalaman. 

    Kalau ngomongin salary yah, kayaknya gak bakal pernah habis. Dan selalu menarik buat dibahas. Beberapa waktu lalu, sempat viral di dunia maya a.k.a Instagram. Tentang seorang oknum yang ngaku lulusan UI dan ngerasa gak pantas digaji "DELAPAN JUTA" (untuk ukuran Fresh Graduate) karena dia lulusan UI, jadi gaji segitu gak level buat dia. So what?? Are you kidding me?? 
    Jadi, kronologisnya begini. Waktu itu gue lagi liatin instastory orang-orang, dan ada satu instastory yang cukup menarik perhatian dan cukup membuat malam gue jengkel. Jadi, katakanlah si selebgram, dia ngepost screenshot story orang lain, namanya diblur, dan captionnya seperti ini :


    Gue kaget dong, kesel dong, marah! Dan keesokan harinya, beritanya pun viral. Sampai beberapa artis pun ikutan berkomentar. Disini gue mencoba untuk berpendapat mengenai hal itu, berdasarkan sudut pandang gue. Ada beberapa faktor atau point penting kenapa tindakan ini sangatlah buruk dan menyesatkan :

    1. Interview kerja di PERUSAHAAN LOKAL dan nawarin gaji CUMA 8 JUTA DOANG!

    Oke, ada apa dengan perusahaan lokal? Sebegitu rendahnya perusahaan lokal di mata ANDA? Kalau memang kita ngerasa "pintar", kenapa gak apply di perusahaan asing? Yang gue tangkep disini adalah, dia secara tidak langsung menunjukan rasa tidak saling menghargai. Kerja perusahaan lokal bukan berarti buruk. Perusahaan lokal di Indonesia yang besar diantaranya Martha Tilaar Group, Bio Farma, PT Mega Andalan Kalasan, Polygon, Telkom Indonesia dan masih banyak lagi. Itu baru perusahaan, bagaimana dengan startup unicorn dan decacorn? Beuh, kalau kerja disana gajinya gede cuy. Masih mau anggap remeh perusahaan lokal???

    Trus, dia nolak gaji karena si empunya cuma nawarin (CUMA ya C.U.M.A) 8 juta (J.U.T.A) doang. Gini, buat adek-adek diluar sana yang mau lulus atau lagi skripsi, setelah lulus kalian bakal menyandang gelar "Fresh Graduate". Syukur-syukur kalau misalkan kalian punya segudang pengalaman selama kuliah, seperti ikut lomba trs dapet sertifikat, seminar, kegiatan volunteer, aktif di organisasi, magang, internship, ikutan project diluar kampus, atau freelance. Banyaklah, intinya di CV kalian informasinya gak cuma sekedar deskripsi, profil diri, riwayat sekolah dan skill yang kalian sendiri juga gak begitu yakin dengan skill itu. Lalu kalian apply ke beberapa perusahaan. Dan pada saat keterima, kalian bakal dikasih tau benefit yang didapat apa aja, salarynya berapa, jobdesknya apa. Disitu kalian bakal tau, kalian bakal digaji berapa. Berapapun yang ditawarkan, bersyukurlah terlebih dahulu. Jangan tamak, apalagi yang belum punya pengalaman selama kuliah, kayak gue nih. Biasanya ya gaji untuk FG itu berkisar 3,6jt s/d 5jt. Tergantung perusahaan. Bahkan ada yang digaji berkisar 2,5jt s/d 3,3jt. Logikanya nih ya, lu pergi ngelamar di perusahaan berbekal ilmu yang lu dapat selama kuliah doang yang notabene kalian gak tau dunia kerja itu seperti apa. Msti dikasih ini itu, diajarin ini itu, ada yang ditraining dulu baru kerja. Si perusahaan juga mikir dong, orang yang belum terlalu paham dan ngerti apa-apa, ya dikasih gaji sesuai dengan standar si calon dong. Sadar diri aja, iye gue tau. Buat perantau kayak gue, kalau digaji 3,6jt gak akan cukup. Nabung pun pas-pasan. Belum lagi bayar sewa kos, biaya hidup perbulan. 

    Terlepas lu mau lulusan mana, bangga sih udah pasti kalau lu lulusan dari kampus terkenal. Tapi jangan pernah jadiin almameter lu sebagai patokan dalam menentukan seberapa "pantas" lu dihargai. 

    2. Fresh Graduate lulusan UI, lho!! UI, Universitas Indonesia!! Jangan samain lulusan UI denga kampus lain

    Terus kenapa kalau lu lulusan UI, bambang? Kita atau si HRD harus hormat dan sujud dikaki lu gitu?? Gak juga keleus. Rasis terhadap ras, suku dan agama itu sudah umum terjadi di negara kita. Kalau rasis terhadap "lulusan mana"? Banyak cuy. Masih banyak banget diantara kita yang suka membeda-bedakan seseorang hanya karena dia lulusan kampus swasta, tidak terkenal, jurusan, dan IPK tentunya. 

    "Gak level gue ih"

    Ya kira-kira begitulah. Apakah faktor kepintaran ditentukan hanya berdasarkan kampus? Kampus itu wadah. Wadah tempat lu nuntut ilmu. Dan kita cuma sebagai pendatang, mengisi wadah tersebut. Gue kasih ilustrasi. Ada dua wadah (gelas). Gelas yang pertama terbuat dari emas, gelang kedua terbuat dari plastik biasa. Kacalah misalkan. Nah, di gelas pertama lu tuangin air putih (nothing special). Secara tidak langsung, alam bawah sadar kita mengatakan, airnya enak, mewah, dan mahal. Hanya karena wadahnya mewah. Kita jadi gak sadar, kalau yang didalamnya cuma air putih doang. Trus, di gelas kedua, lu kasih air yang ada rasanya. Misal jus, kopi, atau teh. Walaupun rasanya enak, tapi orang-orang gak bakal begitu tertarik karena gelasnya cuma terbuat dari plastik. Padahal isinya bagus. 

    Kesimpulannya apa? Kalau lu lulusan kampus terkenalpun, kalau lu lulus dengan nilai seadanya, tidak ada yang spesial, ya orang-orang akan tetap melihat embel-embel almamater lu. Dan lu juga kecipratan euforia kebanggaan itu. Sementara, mereka yang lulus dengan nilai yang memuaskan dan datang dari kampus, katakanlah orang-orang banyak yang gak tau dengan kampus kita, tidaklah dilirik. Menyakitkan, tapi yasudahlah. Emang culture kita sepertinya dibangun seperti itu.

    3. UI levelnya PERUSAHAAN ASING alias LN. Kalau LOKAL mah OKE aja, asal HARGA COCOK

    Pertama, dia ngerasa gak level dengan kampus lain. Kedua, dia ngerasa kalau UI levelnya perusahaan LN. Dan yang ketiga, kalau perusahaan lokal oke kalau harga cocok. Oke, kesimpulan yang gue tarik :
    - Mindset yang mengatakan bahwa lulusan UI itu patut dihargai, disanjung dan dihormati
    - Perusahaan LN wajar ngasih gaji 8jt
    - Perusahaan lokal GAK WAJAR ngasih 8jt, harus diatas 8juta

    Lagi, lagi dan lagi. Kenapa mindset seperti ini harus tertancap bak paku terhadap generasi kita? Anak muda lho. Perusahaan raksasa seperti Google, Amazon, Alibaba, Facebook itu sama sekali tidak memperhitungkan mereka lulusan dari negara mana, kampus apa. Mereka bahkan gak sungkan menerima yang hanya lulusan SMA untuk bekerja di perusahaan mereka. Asalkan, berkompeten. FYI, teman satu bootcamp gue itu ada yang lulusan UGM, ITB, ITS tapi tidak satupun dari mereka yang menyombongkan almamater. Yang gue soroti disini, dia menganggap kalau perusahaan LN wajar ngasih harga segitu. Referensinya darimana? Bukannya seharusnya perusahaan LN yang harus ngasih kita harga sesuai dengan ekspetasi? Terus kenapa perusahaan lokal harus ngasih gaji diatas 8 juta? 

    Si perusahaan ngasih kita harga "rendah", dalam artian tidak sesuai dengan harapan kita, seperti kasus ini, itu bukan berarti mereka tak mampu. Ada beberapa faktor/indikator sesuai standar perusahaan, HRD terhadap si calon, "orang ini layak dikasih berapa". Pasti sudah ada rule dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Mereka juga gak masalah sebenernya mau kasih kita berapa, tapi kompetensi kita apakah berbanding lurus dengan "harga" yang ditawar??? Realistis lah. 

    Jadi intinya adalah "Mengubah mindset dan memantaskan diri tanpa harus menyinggung pihak lain.". Jadilah manusia yang banyak bersyukur, realistis, dan tidak suka memaksakan kehendak. Ingatlah, bahwa harga yang kamu anggap remeh itu, bisa jadi itu adalah "harapan dan cita-cita orang lain". 
    Continue Reading
    Its my experience when I was a student in one of university in West Sumatera. Maybe this story can give you a lesson for the future..
    Waktu gue mau lulus SMA, temen-temen gue udah pada nentuin mau kuliah di jurusan apa dan dikampus mana. Begitu juga dengan gue. Mulai dari jurusan A sampai Z, bahkan ada beberapa jurusan yang sebelumnya gue gak pernah denger. Contoh, jurusan okupasi yang ada di UI (Universitas Indonesia). Ada yang milih ngelanjutin di jurusan berdasarkan passion, hobi, atau sekedar ikut-ikutan, trus ada juga yang ngambil jurusan dengan PG (Passing Grade) yang tinggi karena nilai dia bagus, bahkan ada yang ngasal ngambil jurusan. Pemandangan yang bakal lu temuin di detik-detik sebelum UN. Sementara gue lebih milih ke jurusan yang sesuai dengan minat gue, Ilmu Komputer. Tapi ditengah kegalauan buat milih kampus (karena nilai gue yang pas-pasan alias rank 3 terakhir dari 23 siswa), orangtua menyarankan untuk ngambil jurusan Psikologi dan Manajemen. Sesuatu yang "itu bukan gue banget".  Langkah pertama yang gue ambil adalah, prospek kerja kedepannya seperti apa. Yang kedua, di dua jurusan itu nantinya ilmu apa aja yang bakal gue pelajari. Dan yang terakhir, ngeyakinin dan diskusi dengan hati. Walaupun pada akhirnya gue diijinkan buat kuliah di jurusan yang gue mau, Alhamdulillah.

    Masa-masa kuliah adalah masa-masa dimana gue mengambil peran sebagai anak yang lebih mandiri. Yap, gue ngekos. Hal yang gak pernah gue lakuin sebelumnya dan sekaligus pengalaman pertama gue. Kos gue bisa dibilang lebih mirip seperti asrama ketimbang kos-kosan. Dan penghuninya pun rata-rata kuliah di semua jurusan yang ada di kampus. Mulai dari teknik, ilkom, psikologi, ekonomi dan pendidikan. Selama ngekos, tak hanya rasa kebersamaan dan kemandirian yang gue rasain, tapi juga "wawasan". Wawasan tak hanya didapat dari buku bacaaan, tetapi juga pengalaman orang lain. Selama ngekos, gue kadang suka intip-intip tugas mereka seperti apa, matakuliahnya apa aja, dan gak jarang juga kami saling sharing. Gue yang anak "sistem komputer", yang banyak berhubungan dengan hardware dan alat-alat pertukangan kayak obeng, tang, solder, timah, turut memberikan rasa penasaran ke penghuni kos lainnya. Karena memang, cewe yang ada di jurusan gue itu terbilang sangat sedikit. Penghuni kos didominasi oleh anak manajemen, akuntansi, sistem informasi dan psikologi. Bicara mengenai teman, tentu kita punya temen yang bisa dibilang "lebih akrab" ketimbang lainnya. Dia anak psikologi. Baik, ramah, pinter ngomong (ya wajarlah kan anak psikologi harus pinter ngomong) dan bicaranya pun teratur, gak kayak gue yang suka hilang arah. Bisa dibilang kita lumayan deket, karena memang kamar kami juga bersebelahan. 

    Terkadang, kita harus lebih memahami dan bijak dalam memilih kata-kata yang digunakan. Baik itu ketika mau bercanda, serius. Tau memposisikan lawan bicara, jadi gak asal nyablak. Ada masa ketika gue ngerasa kecewa dengan ucapan yang ia lontarkan ke gue. Jadi waktu itu, gue lupa awalnya kita lagi ngebahas apa, tiba-tiba dia ngomong 

    "Anak IT ntar kerjanya jadi apa? Bikin robot?"

    "Ntar anaknya kek robot tuh hahaa"

    "Anak psikolog juga bisa tuh benerin laptop, gak harus anak jurusan komputer"

    Gue yang notabene sangat mencintai dan menjunjung tinggi jurusan gue, sangat kesal dengan ucapan yang ia lontarkan. Walaupu dibarengi dengan tawa, tapi ada kalanya kita ngerasa kecewa dan kesal dengan candaan yang dibuat. Dan gue tegaskan, "INI PIKIRAN BODOH BANGET!". Kalau ada diantara kalian yang baca tulisan gue dan juga berpikir hal yang sama, please tolong banget. Jangan pernah memandang rendah jurusan orang lain. Gaes, ketahuilah, kalau yang kuliah di jurusan IT, bukan berarti kami tau segala hal. Bukan berarti kami "ahli pertukangan". IT itu cabangnya sangatlah luas. Semakin maju perkembangan teknologi, semakin berkembanglah dunia IT. Di dunia kerja pun begitu, dalam satu department atau divisi IT, itu bagiannya banyak banget. Gue udah ngerasain makanya berani ngomong. 


    Waktu SMA, gue juga punya temen yang orangnya -ceria banget. Gue jarang ngeliat tampang badmoodnya dia, jadi suatu ketika ada temen lain yang becandain. Gue juga gak begitu tau candaan dia seperti apa dan temen gue ini ngomong, "tolong jangan kelewatan. Mentang-mentang selama ini gue diam dan slalu trima becandaan kalian, tapi tolong hargai perasaan gue juga. Perasaan gue gak sebercanda itu". Nusuk banget, kan?? Dan semuanya pada diem. Nah sama kasusnya kayak gue, gue yang memutuskan untuk diam pada saat candaan itu dia hadiahkan ke gue, mungkin ngerasa kalau hal itu bukanlah apa-apa. Jangan pernah anggap remeh perkataanmu dan jangan terlalu suka ngejudge seseorang "baperan". Karena memang tak semua orang bisa menerima dan tak semua orang fleksibel dengan candaan yang kelewat batas. So stop using "BAPER" ke orang-orang yang secara tak langsung kesal dan marah terhadap kalian. Instropeksi diri, salah satu hal terbaik yang harus dilakukan. Simpelnya gini, coba deh kalau orang lain yang ngejokes lu kek gitu, kira-kira bakalan kesal gak? 

    Pada akhirnya gue tersadar, bahwa untuk ngebuktiin bahwa omongan mereka salah, walau kata mereka "ah itukan gue cuma becanda keleus", adalah "menampar" mereka dengan kesuksesan. Sukses tak selalu berarti kaya. Karena definisi kata sukses begitu luas. Cukup dengan meyakinkan diri dan trus tumbuh ditengah orang lain meremehkan kita.
    Continue Reading
    I am Instagram user since 6 years ago. Tepatnya dimana handphone Android mulai merambah dunia SMA gue. Perlahan tapi pasti, Android mulai menggeser posisi ponsel "Blackberry" yang sempat hits selama beberapa dekade. Kelas tiga SMA itu masa dimana gue baru saja menjadi Android user yang sesungguhnya. Disaat temen-temen gue udah duluan punya handphone ber-OS Android, sementara gue baru menikmati di kelas tiga. Masa-masa dimana ketika gue pengen banget punya akun BBM dan bersyukur banget ketika BBM udah bisa dinikmati pengguna OS Android. Gue lupa pastinya kapan, pasca gue baru aja seneng2nya ngerasain chatting pake BBM, temen-temen gue udah mulai beralih ke sosial media baru, Instagram. Tapi emang dasarnya gue bukan tipe orang yang terlalu suka ngikutin tren, gue baru punya akun Instagram sebulan setelah temen-temen gue udah punya akun di IG. Dan disinilah awal cerita itu dimulai..


    Instagram isn't my first social media. Gue pertama kali main sosmed kelas 2 SMP karena diajakin temen. Apalagi kalau bukan "Facebook". Dulu main sosmed "pure" buat have fun doang. Gak ada yang namanya saling pamer, drama2an, pansos. Itu yang gue rasain di tahun 2011-2012. Kadar iri dan toxic dulu itu gak se-ekstrim sekarang. Rasa cemburu kita hanya terbatas sama jumlah pertemenan, siapa yang paling banyak di-add, yang paling banyak dapat like, atau yang bio-nya paling kreatif. Sisanya? Chatan sama gebetan, mau kenal atau kagak yang penting chat hahaha, trus send message via wall temen (biar dikata punya temen atau dijudge orang yg asik), trus upload poto dengan editan sekreatif mungkin. Tapi dari sekian banyak kenangan yang gue dapet selama main sosmed, baik atau buruk, gue gak pernah non-activein akun cuma karena "toxic" nya yang berlebihan. Gue non-activein akun cuma karena lagi bosen, atau dimarahi emak karena kebanyakan main. Sampailah pada akhirnya satu per satu temen gue pada ninggalin FB. Mungkin krena ada yang lebih asik, atau gak mau dibilang ketinggalan jaman mungkin?

    Yang awalnya sosmed cuma dijadiin ajang untuk have fun dan pelepas suntuk, perlahan berubah menjadi ajang pamer. Salah satu faktor yang gue liat adalah, Instagram merupakan platform sosial media yang memfokuskan penggunanya untuk berbagi poto. Poto identik dengan visual, dikombinasi dengan hasrat alamiah manusia yang selalu ingin terlihat bagus dan baik. As you can see, dari waktu ke waktu Instagram selalu diperbaharui dari segi fitur dan mengutamakan kenyamanan pengguna. Makanya jaman sekarang bisa diliat Instagram user kebanyak anak muda dalam rentang usia 13-27th. Itu menurut gue ya, oke. Dan Facebook user mulai didominasi oleh generasi emak kita. Itu semua tak lepas dari perkembangan teknologi yang turut berkontribusi merubah pola prilaku manusia. Tanpa memandang usia. Dan kenapa pada akhirnya gue memutuskan untuk berpuasa dari Instagram? Karena sudah menjadi racun di diri gue. Gue pernah bener2 detox Instagram selama satu bulan (kalah ama SelGom), pas gue lagi skripsi. Itu efeknya bener2 ngaruh banget ke gue. Ibarat lu lagi sakit dan disuruh istirahat total. Gue ngerasa kalau kehidupan normal gue kembali seutuhnya. Walaupun you knowlah, skripsi pusingnya gimana, tapi gue bener-bener plong karena racun itu udah gue detox. Kelar skripsi, godaan itu datang lagi.  Gue kembali install dan aktifin akun gue kembali.

    Back to yourself, sebenernya baik atau buruknya sebuah sosmed itu balik lagi ke diri masing-masing. Tapi gue gak semunafik itu, karena efek buruk yang gue rasain itu bener-bener nyata. Gue jadi sering cemas, iri, sakit kepala. Mungkin beberapa dari kalian juga pernah ngalamin hal ini. Bahkan gue pernah terobsesi dengan like dan followers. Gue kesal kalau ngeliat temen-temen gue dapat like yang banyak. Ya, seracun itu dan akhirnya gue memutuskan untuk menarik diri. Gue gak bisa menahan diri untuk tidak melihat dan membanding-bandingkan kehidupan gue. Gaes, actually it depend on you. Mungkin gue yang agak sakit jiwa, overthinking, dan gak bisa ngontrol emosi. Yang pantes disalahin siapa? Gak ada, gak ada yang salah 100%. Semua aspek turut berkontribusi memberikan toxic itu. Baik itu dari lingkungan, tren, lifestyle. Kalau gak bisa nahan diri dan emosi, yaudah. Gue ucapin selamat, mending lu detox atau fasting dulu deh kayak gue hahaaha.. 
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Azka's Blog

    Photo Profile
    AZKA HANIFAH
    Backend Engineer

    A backend engineer from Indonesia. Have passionate Backend and UI/UX Design. But I am still a woman that loving beauty and code.

    Follow Me

    • linkedin
    • twitter
    • instagram

    Labels

    Beauty Daily Interview Jejak Kisah Opini Skincare Story Tips Tutorial

    Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Desember 2022 (1)
        • Sebenarnya Disiplin itu Apa?
    • ►  2021 (1)
      • ►  Desember 2021 (1)
    • ►  2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (11)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  September 2019 (1)
      • ►  Agustus 2019 (6)
      • ►  Mei 2019 (2)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (13)
      • ►  Desember 2018 (2)
      • ►  November 2018 (3)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  Agustus 2018 (3)
      • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  2017 (2)
      • ►  Agustus 2017 (2)

    Statistic

    Podcast Twitter Instagram Tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top